Transformasi Mapala : Perbedaan Bukanlah Kendala, Melainkan Kekuatan Untuk Berkembang

Oleh : Abdul Aziez, WI 200059
Direktur Wartapala Kantor Perwakilan Surakarta

Wartapalaindonesia.com, PERSPEKTIF – Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) pasti tak asing di telinga kita, terutama bagi para aktivis dan penggiat alam bebas. Sejatinya, Mapala bukan cuma sekadar wadah untuk menyalurkan hobi dan minat terhadap alam, tetapi juga organisasi yang membuka peluang besar bagi anggotanya untuk berprestasi.

Prestasi di Mapala tidak hanya diukur dari kemampuan fisik dan keberanian dalam menjelajahi alam, tetapi juga dari kontribusi nyata dalam konservasi lingkungan, pengabdian masyarakat, dan pengembangan diri. Saat ini, anggota Mapala juga bisa membuktikan bahwa mereka mampu berprestasi, baik di bidang akademik maupun nonakademik.

Mapala adalah kelompok atau organisasi yang berada di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Sejak pertama kali didirikan, Mapala menjadi wadah bagi mahasiswa yang memiliki minat dan kepedulian terhadap alam, petualangan, serta konservasi lingkungan. Hingga kini, Mapala tetap eksis dan memainkan peran penting, baik di lingkup kampus maupun dalam isu-isu di cakupan yang lebih luas.

Pecinta alam adalah mereka yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan dan alam, serta menjadikan aktivitas di alam bebas sebagai bagian dari gaya hidup. Namun, seiring berjalannya waktu, terdapat perbedaan signifikan antara pecinta alam dulu dan pecinta alam zaman sekarang. Perbedaan ini bisa dilihat dari berbagai aspek, mulai dari motivasi, pendekatan, hingga cara mereka berinteraksi dengan alam.

Dalam beberapa dekade terakhir, Mapala dituntut untuk beradaptasi dengan berbagai perubahan zaman, termasuk perkembangan teknologi, perubahan sosial, perubahan peraturan kampus, serta meningkatnya kesadaran lingkungan di kalangan masyarakat. Bahkan, beberapa Mapala terpaksa harus vakum karena tidak mampu bertahan menghadapi tantangan tersebut.

Eksistensi mereka di kampus sering kali dihadapkan pada tantangan, seperti menurunnya minat mahasiswa baru terhadap kegiatan alam yang intensif, semakin ketatnya peraturan kampus, atau persaingan dengan organisasi lain yang lebih mengedepankan aspek sosial dan bisnis.

Namun, Mapala tetap mempertahankan eksistensinya dengan cara berinovasi. Mereka memanfaatkan teknologi, seperti media sosial, untuk menyebarkan informasi dan mengajak lebih banyak orang peduli terhadap alam.

Mapala juga terus memperbarui program mereka, dengan tidak hanya fokus pada petualangan fisik, tetapi juga pada pengembangan diri, kepemimpinan, dan pengabdian masyarakat.

Harapannya, Mapala selalu memiliki cara baru untuk terus berperan dalam menjaga alam dan tetap berprestasi di segala aspek sebagai bukti kalau Mapala memiliki prestasi yang pantas dibanggakan.

1. Motivasi dan Tujuan
Pecinta Alam Dulu :  Pecinta alam dulu cenderung memiliki motivasi kuat untuk melestarikan alam. Aktivitas seperti mendaki gunung, arung jeram, menyusuri gua, panjat tebing, berkemah, atau menjelajahi hutan dilakukan dengan tujuan memahami, menjaga, dan melindungi alam. Mereka sering kali terlibat dalam gerakan konservasi dan memiliki kesadaran tinggi terhadap dampak aktivitas manusia terhadap lingkungan. Mereka juga menganggap keterbatasan manusia bisa dilampaui dengan tekad kuat dan disiplin dalam menjalankan kegiatan.

Pecinta Alam Zaman Sekarang :  Saat ini, motivasi menjadi pecinta alam sering kali lebih dipengaruhi oleh tren FOMO (Fear of Missing Out) dan media sosial. Banyak orang yang menjadikan aktivitas alam sebagai bagian dari pencitraan diri, seperti berburu foto untuk diunggah di media sosial. Meskipun masih ada yang benar-benar peduli terhadap alam, banyak yang hanya sekadar mengikuti tren tanpa memahami esensi dari menjadi pecinta alam.

2. Peralatan dan Teknologi
Pecinta Alam Dulu : Di masa lalu, pecinta alam menggunakan peralatan yang lebih sederhana dan minim teknologi. Peta kertas dan kompas adalah alat utama untuk navigasi, dan mereka harus sangat terampil dalam membaca tanda-tanda alam. Kesederhanaan ini membuat mereka lebih bergantung pada pengetahuan dan keterampilan bertahan hidup di alam.

Pecinta Alam Zaman Sekarang :  Teknologi telah mengubah cara pecinta alam berinteraksi dengan alam. GPS, smartphone, dan berbagai aplikasi navigasi serta cuaca telah menggantikan peran peta dan kompas. Teknologi memang memudahkan, tetapi juga bisa mengurangi keterampilan dasar yang dulu dimiliki oleh pecinta alam. Di sisi lain, teknologi juga membawa dampak positif dengan memudahkan penyebaran informasi tentang konservasi alam.

3. Etika dan Kepedulian Lingkungan
Pecinta Alam Dulu : Pecinta alam di masa lalu umumnya memiliki etika yang kuat terhadap lingkungan. Mereka berusaha untuk meninggalkan jejak seminimal mungkin, menjaga kebersihan, dan tidak merusak alam. Prinsip Leave No Trace sudah menjadi pegangan sejak awal.

Pecinta Alam Zaman Sekarang :  Meskipun prinsip Leave No Trace masih diajarkan, pelaksanaannya di lapangan kadang tidak konsisten. Ada peningkatan jumlah sampah di tempat-tempat wisata alam dan kerusakan ekosistem yang disebabkan oleh pengunjung yang tidak bertanggung jawab. Edukasi tentang pentingnya menjaga alam masih perlu ditingkatkan.

4. Komunitas dan Aktivisme
Pecinta Alam Dulu :  Komunitas pecinta alam dulu lebih tertutup dan eksklusif. Mereka biasanya beranggotakan orang-orang yang benar-benar berdedikasi pada kegiatan alam dan konservasi. Aktivisme lingkungan dilakukan secara langsung, seperti penanaman pohon, pembersihan sungai, dan kampanye penyadaran yang intensif.

Pecinta Alam Zaman Sekarang :  Komunitas pecinta alam saat ini lebih terbuka dan mudah diakses. Media sosial mempermudah orang untuk bergabung dengan komunitas pecinta alam. Namun, aktivitas mereka kadang lebih bersifat event based dan kurang berkelanjutan. Meski begitu, ada juga komunitas yang aktif dalam gerakan lingkungan dan memanfaatkan platform digital untuk kampanye yang lebih luas.

5. Tantangan dan Peluang
Mapala Dulu :  Tantangan utama Mapala dulu adalah keterbatasan akses terhadap sumber daya dan teknologi. Mereka harus mengandalkan keterampilan manual dan pengetahuan lokal untuk menyelesaikan setiap ekspedisi atau misi konservasi. Namun, tantangan ini juga membentuk karakter yang tangguh dan berdedikasi terhadap misi pelestarian alam.

Mapala Sekarang :  Tantangan yang dihadapi Mapala sekarang lebih kompleks, terutama terkait dengan ancaman lingkungan global seperti perubahan iklim dan polusi. Namun, dengan teknologi dan informasi yang lebih mudah diakses, Mapala memiliki peluang untuk lebih berperan dalam skala yang lebih luas, baik melalui kampanye digital maupun program aksi nyata.

Perbedaan antara Mapala dulu dan sekarang tidak seharusnya dilihat sebagai kendala, melainkan sebagai kekuatan untuk berkembang. Setiap generasi memiliki tantangan dan peluangnya masing-masing.

Dengan memadukan semangat konservasi yang dimiliki oleh Mapala dulu dengan teknologi dan pendekatan modern dari Mapala sekarang, organisasi ini memiliki potensi untuk terus menjadi kekuatan positif dalam menjaga alam dan lingkungan. Yang penting, esensi dari Mapala tetap sama : kecintaan terhadap alam, tanggung jawab terhadap lingkungan, dan semangat solidaritas dalam mengatasi tantangan bersama.

Eksistensi Mapala bukan hanya sebagai wadah untuk menyalurkan hobi, tetapi juga sebagai salah satu pilar penting dalam gerakan pelestarian lingkungan di Indonesia. Dukungan dari berbagai pihak, baik dari kampus, masyarakat, maupun pemerintah, sangat diperlukan agar Mapala dapat terus berkontribusi secara positif bagi kelestarian alam.

Mari kita buktikan bahwa Mapala akan selalu hidup dan memberikan kebermanfaatan untuk kampus, alam dan Indonesia. (aa).

Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB

 

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.