Oleh : Mitra Unik, S.Kom., M.Kom
Dosen. Pembina Mapala Universitas Muhammadiyah Riau
Wartapalaindonesia.com, PERSPEKTIF – Malam itu, di sudut terpencil Sumatera, angin berdesir pelan, menyelinap di antara deretan pohon sawit yang kini menggantikan rimbunnya hutan tropis yang pernah berjaya. Di bawah-bayang kelam pelepah sawit, Mira duduk termenung, memandangi langit yang redup, tertutup oleh daun-daun keras yang membentang di atasnya.
Jauh di dalam hatinya, tersimpan sebuah rasa kehilangan yang begitu dalam, seolah-olah seluruh kekayaan alam yang dulu mengalir dalam nadinya telah dicabut dan dibuang begitu saja.
Di masa lalu, tempat ini adalah sebuah surga yang penuh keajaiban. Mira teringat betapa megahnya hutan ini dulu. Setiap jengkal tanahnya dipenuhi kehidupan yang tak ternilai. Di antara pepohonan yang menjulang tinggi, burung rangkong papan (Buceros bicornis) melintasi langit, memperdengarkan nyanyian alam yang menggetarkan jiwa.
Di lantai hutan, seekor harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) menyusuri tanah dengan langkah penuh keagungan, meninggalkan jejak kakinya di tanah basah. Orangutan Sumatera (Pongo abelii), dengan lincahnya, bergelayutan di antara dahan-dahan pohon yang rimbun, sementara siamang (Symphalangus syndactylus) menyanyikan nyanyian khas mereka di pagi hari, seolah-olah menyambut datangnya matahari dengan penuh kegembiraan.
Tak jauh dari situ, gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) dengan lembut berjalan dalam kelompoknya, menyusuri jalur hutan yang mereka kenal sejak dahulu kala. Mereka mengais tanah dengan belalai, mencari akar-akar dan dedaunan segar. Dan di bawah permukaan air sungai yang jernih, ikan cupang merah (Betta splendens), sang permata air tawar, berenang anggun di antara bebatuan, menunjukkan keindahan yang nyaris tak tersentuh.
Mira dan teman-teman Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) pernah menjadi saksi dari semua ini. Di sinilah mereka pertama kali diajarkan oleh para senior dan perintis organisasi, untuk belajar mencintai alam, mengenal flora dan fauna yang hidup berdampingan dalam harmoni yang sempurna. Namun kini, semuanya telah sirna, musnah di bawah roda raksasa industri sawit. Pohon-pohon yang dulu melambai di atas kepala mereka kini telah tergantikan oleh barisan pohon sawit yang seragam dan tak bernyawa.
Tak ada lagi suara kicauan burung rangkong. Tak ada lagi gemuruh langkah harimau Sumatera. Orangutan, gajah, dan siamang tak lagi terlihat, seolah-olah hilang ditelan kabut kehancuran. Semua seakan dihapus tanpa jejak oleh kehendak manusia yang serakah.
Hutan yang dulu penuh kehidupan kini hanya menjadi kenangan yang semakin sulit diraih. Kekuasaan konglomerat sawit begitu besar, menghancurkan segala sesuatu yang berdiri di hadapannya. Mereka bukan hanya menggusur pepohonan, tetapi juga menenggelamkan suara-suara yang berusaha melawan, menelan harapan-harapan kecil yang dulu bersinar terang.
Dan di sisi lain, mereka yang seharusnya berdiri sebagai penjaga, para pejabat yang telah disumpah untuk melindungi negeri ini, malah menjadi bagian dari kehancuran. Lemahnya penegakan hukum membuat tanah-tanah hutan dijual murah, tanpa mempertimbangkan masa depan. Para penegak hukum menutup mata, meraup keuntungan, sementara hutan-hutan dijarah dengan brutal.
“Apa yang bisa kita lakukan?” Arman, sahabat seperjuangan Mira, berkata dengan nada yang tak lagi penuh semangat seperti dulu. “Kita sudah mencoba segalanya, tapi hukum terlalu lemah. Konglomerat itu terlalu kuat. Kita ini cuma bayangan kecil di antara kekuasaan mereka.
Mira menunduk, menatap tanah yang dulu penuh kehidupan, kini hanya dihuni akar-akar sawit yang mencengkeram erat. “Aku juga tak tahu, Man,” suaranya pelan, nyaris tersapu oleh angin. “Rasanya kita hanya bisa bermimpi. Hutan ini… tak akan pernah kembali.”
Betapa Mira rindu akan masa lalu. Masa ketika ia dan teman-temannya menyusuri hutan, berharap dapat mengubah dunia. Mereka mencoba berbicara dengan warga, menjelaskan bahwa hutan adalah kehidupan. Mereka berusaha mengajak warga melihat bahwa kehancuran ini akan membunuh masa depan anak cucu mereka. Tapi kenyataan hidup terlalu keras. Kemiskinan dan kebutuhan mendesak mereka menerima janji-janji manis para pengusaha sawit.
“Kami butuh pekerjaan, Mbak,” kata seorang warga kepada Mira, wajahnya penuh keputusasaan. “Kami tahu sawit merusak hutan, tapi apa yang bisa kami lakukan? Kami butuh makan. Sawit memberi kami uang. Hutan tak bisa memberi kami itu.”
Kata-kata itu menghancurkan Mira. Di satu sisi, ia marah. Bagaimana bisa mereka menerima begitu saja kehancuran alam? Tapi di sisi lain, ia tahu, mereka tidak punya pilihan. Alam dan manusia terjebak dalam lingkaran setan yang sulit diputuskan. Satu demi satu teman-temannya mulai menyerah. Semangat mereka yang dulu menggebu-gebu kini padam, tercekik oleh realita bahwa uang dan kuasa jauh lebih berkuasa daripada cinta dan idealisme.
Kini, bertahun-tahun kemudian, Mira duduk di bawah pohon sawit, di tempat yang dulu menjadi surga kecil bagi Mapala. Di sini, di antara pelepah sawit yang keras dan tak bernyawa, ia merasakan betapa kecil dan tak berdayanya mereka. Dunia yang mereka impikan, sebuah dunia di mana hutan tetap hijau dan binatang-binatang liar berkeliaran bebas, telah menjadi bayang-bayang yang tak mungkin diraih. Mereka, para pencinta alam, kini hanya bisa merenungi mimpi-mimpi yang tak pernah terwujud.
“Aku ingin melakukan lebih banyak,” Mira berkata dengan suara serak, menahan air mata yang hendak jatuh. “Tapi entah bagaimana caranya…”
Di sampingnya, Arman menatap langit malam yang dipenuhi bintang, namun cahayanya tak seindah dulu, tertutup oleh pelepah sawit yang tinggi.
“Mungkin… mimpi itu satu-satunya yang tersisa bagi kita, Mir,” katanya lirih. “Mungkin hanya mimpi yang masih bisa kita jaga.”
Dan di situlah mereka, dua orang yang dulu penuh harapan dan semangat, kini terjebak dalam bayang-bayang ketidakberdayaan. Pohon-pohon sawit yang menjulang tinggi menjadi saksi bisu atas mimpi-mimpi mereka yang hancur.
Di bawah bayangan industri sawit yang rakus dan lemahnya penegakan hukum, mimpi tentang hutan yang kembali hijau dan keadilan bagi alam hanyalah sebuah angan-angan yang perlahan memudar, tenggelam bersama suara-suara yang tak pernah terdengar. (mu).
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)