Oleh : Tari Handrianingsih
K – 288 Kompos
Wartapalaindonesia.com, PERSPEKTIF – Sebuah organisasi pecinta alam seyogyanya selalu ada kegiatan kepencintaalaman, yaitu kegiatan terkait alam atau dilaksanakan di alam. Hanya saja, dari masa ke masa selalu terjadi kendala bagi para aktivis (pengurus dan anggota aktifnya) yang disebabkan padatnya jadwal perkuliahan atau praktikum, dan aktivitas akademik lainnya.
Memang tidak dapat dihindari setiap individu organisasi harus pandai mengatur waktunya, supaya lancar dalam proses menuntut ilmu di kampus, namun juga bisa mendapat ilmu lain yang tidak diajarkan dan didapatkan di ruang-ruang kuliah. Salah satunya berorganisasi di unit kegiatan mahasiswa bidang kepencintaalaman.
Tentunya setiap institusi pendidikan memiliki nilai masing-masing dalam menjalankan aktivitas kependidikan. Termasuk seluruh unit kegiatan mahasiswa yang bernaung di bawahnya, wajib menyesuaikan dengan visi-misi dan tujuan lembaga pendidikan tersebut. Yang mana perubahan aturan dan kebijakan institusi juga membuat perubahan pada setiap unit kegiatan yang ada, termasuk di pecinta alam. Salah satunya, ketentuan batas maksimal waktu kelulusan seorang mahasiswa, karena menyangkut akreditasi sebuah lembaga pendidikan tinggi.
Di sini membuat seorang mahasiswa cukup berpikir untuk membuat strategi bagaimana lulus cepat, namun bisa mendapatkan tambahan predikat yang dapat ditulis di dalam curriculum vitae setidaknya bisa meningkatkan “nilai jual” jika akan bekerja setelah lulus perguruan tinggi.
Hal itu cukup berdampak signifikan bagi keberlangsungan kegiatan dalam organisasi. Jelas terjadi penurunan yang nyata, karena menjadikan anggota khawatir jika terlalu aktif dan intens di kegiatan, selain tenaga secara fisik terkuras, juga secara waktu membutuhkan porsi yang panjang.
Apalagi jika kegiatan yang melibatkan pihak luar terkait kegiatan yang dijalankan, seperti ekspedisi yang di dalamnya melakukan penelitian flora-fauna, sosial-ekonomi-budaya, pendidikan dasar oleh internal sendiri, atau pendidikan kepencintaalaman semacam caving, survival, selam, dan lain-lain yang diadakan institusi kepecintaalaman di luar kota bahkan luar pulau.
Sebenarnya bagaikan dua sisi mata uang, dilema besar mendudukkan persoalan ini, bagi para aktivis organisasi, tuntutan dunia kerja hari ini sangat kompetitif baik secara nilai IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) sebagai pembuktian kemampuan intelektual harus tinggi, namun kemampuan merespon lingkungan di dunia kerja juga sangat penting bahkan merupakan kemampuan soft skill yang tidak bisa didapatkan di bangku perkuliahan. Karena sebagai individu yang bisa berada dalam institusi pendidikan tersebut adalah berangkat dari tujuan menyelesaikan pendidikan tinggi mengemban amanah dari orang tua yang membiayai. Namun kebutuhan aktualisasi diri sebagai pribadi yang dituntut akan menjadi manusia mandiri menjadikan organisasi sebagai salah satu tempat berlatih sebelum menghadapi dunia kerja.
Maka dalam organisasi, akan selalu tampak aktivis yang berkecimpung dan masuk sebagai anggota memilliki motivasi yang berlainan. Dan hal itu akan terlihat pada kesehariannya dalam berinteraksi dan menjalankan perannya baik sebagai anggota ataupun pengurus, bagaimana tanggungjawabnya, komitmennya, unsur pemanfaatan atau kemanfaatan organisasi bagi dirinya, itu semua akan tercermin pada perilaku keseharian setiap individu. (th).
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)