Oleh : Zaeni Mansyur
Mapala UPN “Veteran” Yogyakarta
Founder Jogja Adventure Kids (JAK)
Wartapalaindonesia.com, PERSPEKTIF – Menjadi bidang dokumentasi, tukang foto dalam pendidikan dasar dan latihan Mapala memang mesti cool. Untuk mendapatkan foto-foto bagus dan alamiah — selain urusan manajemen baterai di udara dingin dan lensa yang berembun — saya mesti hadir memotret dengan cara kerja “ada, tapi tiada”.
Melakukan foto candid tanpa diketahui oleh siswa. Pula dianggap tak ada (dicuekin). Itu baru dokumenter Diklatsar “berhasil” menempatkan diri. Kita tak ingin siswa pura-pura rajin gegara hadirnya fotografer atau malah yang lebih parah minta foto dan cas cis cus. Ndak akan pernah terjadi, sampai upacara pelantikan.
Jika di hari-hari awal mereka masih kebawa budaya selfie di keseharian kota, maka akan saya tegur secukupnya dan laporkan Korlap untuk tindakan kedisiplinan. Karena fotografer tugas pokoknya adalah mendokumentasi foto, bukan memberikan seri (sanksi). Ini kepatuhan pada SOP. Nah, ini yang mesti dipahami semua bidang dalam struktur Diklatsar Mapala. Jika semua senior / pendamping, punya hak memberikan seri ke siswa semaunya, mudyar wae siswanya. He… he…
Dalam struktur Badan Diklat Mapala, kita mengenal bagian kesiswaan. Nah, kesiswaan ini yang konsen ngurus siswa. Tim medis bagian dari wilayah koordinasinya. Sementara bagian kurikulum, mengendalikan baku mutu dari program pendidikan itu sendiri. Dan bagian Tata Tertib (Tatib) mengawasi tindak tanduk dari seluruh SDM senior, agar tak melampaui batas / aturan main, semacam Polmil-lah ala Mapala.
Hingga satu sore, hari keenam Diklatsar, saya keliling memantau dan melakukan tugas memotret di camp siswa. Dua regu sudah masuk Flyingcamp (FC V). Sementara dua regu lain masih bergerak membuka jalur. Terpantau dari HT dan visual mata yang samar-samar di kejauhan.
Di camp siswa saya dapati seorang siswa sudah menyelesaikan bivak. Dia duduk, lepas sepatu dan menyemir sepatunya dengan semir dan sikat yang memang ada dalam daftar cek list alat.
Usai menyemir sepatu, dia merawat kakinya dengan mengolesi minyak tawon. Saya mengamatinya dari jauh. Samar terdengar dia sedang bersenandung lagu Iwan Fals yang tentang anak kecil yang tukang semir itu (lupa judulnya saya).
“Waduh, ini namanya siswa kurang hajar, kurang pressing time,” batinku.
Malam, tibalah waktu evaluasi intern panitia dan pendamping. Sementara siswa sudah dikondisikan tidur lelap di bivak.
Masing masing bidang menyampaikan laporan dan form isian penilaian siswa. Korlap minta penjelasan pada pendamping aktifitas siswa sejak cek tengah malam (siswa tidur), siswa bangun tidur (pagi) dan aktifitas jelajah (pagi-sore) hingga sebelum tidur.
Dan tibalah giliran saya menyampaikan tugas dokumentasi foto dan pandangan mata tentang siswa. Saya ceritakan siswa PLD nomor sekian melakukan aktifitas sore dan bersenandung. Saya berpendapat, “Ini pembangkangan dan kekurangajaran siswa tersebut pada program pendidikan ini,” tegasku.
Sebagian pendamping muda pun sepakat, jika itu sikap yang tidak dibenarkan.
Namun… Dari seberang lingkaran api unggun itu, aeorang senior pun angkat bicara.
Katanya, saya justru melihat siswa ini, mampu mengelola stressnya. Mampu me-manage waktu dengan baik. Bivak sudah rapi dan selesai. Maka merawat kaki adalah alasan logis. Kita justru menyayangkan jika mendapati siswa yang tak mampu me-manage waktu. Malah melamun dan berduka (meratapi nasibnya).
Siswa yang bersenandung pun boleh, sementara tepat tempat dan tepat waktu. Jika dia bersenandung saat apel pagi atau saat sholat, maka sanksi boleh diberlakukan. Tapi bersenandung sela waktu sore adalah cara menghibur dirinya, itu boleh.
Diklatsar kita, diharapkan mampu mengarahkan manusia yang sehat jiwa raga. Bukan semata hanya menjadikannya lemah fisik dan tradisi yang menurun begitu saja.
Kita berharap siswa masuk ke kampus di hari terakhir pelantikan. Setelah menempuh longmarch puluhan kilometer dengan langkah tegap dan tangguh. Bukan langkah, kuyu dan lemah.
Karenanya kenapa sepatu PDL diwajibkan untuk dipakai kuliah dan keseharian selama sebulan sebelum pelaksanaan Diklatsar lapangan. Bukan karena style anak punk. He… he… Tapi karena proses adaptasi kaki dengan sepatu butuh waktu.
Jangankan urusan kulit kaki siswa. Kulit sepatu siswa pun menjadi perhatian.
Tetap Tabah Sampai Akhir (zn).
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB
Foto || Wartapala
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)