Prolog, Salam Kemanusiaan

Pengantar redaksi: Artikel ini bersumber dari buku berjudul “Cara Menjadi Relawan Garis Depan di Lokasi Gempa”. Ditulis oleh Ahyar Stone (Pemimpin Redaksi Wartapala. Anggota Dewan Pengarah SARMMI). Terbit pertama Januari 2024. Penerbit Jasmine Solo, Jawa Tengah.

Buku ini diterbitkan atas kerja sama Univesitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Wartapala, SARMMI. Artikel ini merupakan kata pengantar penulis di buku tersebut.  Selamat membaca. (Redaksi).

Wartapalaindonesia.com, EDUKASI – Kita sebagai bangsa Indonesia, wajib berjiwa besar menerima realita bahwa negara kita rawan bencana. Berjiwa besar tentu tidak ditunjukkan dengansikap pasrah sambil berdiam diri. Melainkan dengan terus  menerus melakukan perbaikan terhadap segala upaya penanggulangan bencana. Baik sebelum terjadi bencana maupun setelahnya.

Upaya perbaikan tentu bukan tanggung jawab pemerintah semata. Tetapi menjadi tanggung jawab kolektif kita semua sebagai warga di negara rawan bencana.

Negara kita rawan bencana karena berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik besar yakni Lempeng Pasifik, Lempeng Indo Australia dan Lempeng Eurasia.

Indonesia menjadi muara pertemuan tiga lempeng, karena berdasarkan letak geografis Indonesia berada di antara dua benua dan dua samudera besar, yaitu Benua Asia dan Benua Australia, serta Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Tiga lempeng itu aktif bergerak — dan masih akan terus bergerak. Pergerakannya menaikkan aktivitas gunung berapi, serta memicu terjadinya gempa dan tsunami.

Selain gempa, bencana lain yang kerap terjadi di Indonesia adalah banjir, longsor, angin puting beliung, erupsi gunung berapi, tsunami, serta kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Bencana-bencana ini muncul lantaran Indonesia berada di lingkaran ring of fire atau cincin api.

Ring of fire — populer pula disebut sabuk sirkum pasifik atau cincin api pasifik — memang tidak berbentuk bulatan sempurna, melainkan mirip tapal kuda yang memanjang di sekitar tepi Samudra Pasifik. Kawasan ini merupakan jalur rangkaian gunung api paling aktif di dunia. Dari sekian banyak gunung api di dunia, Indonesia memiliki sekitar 240 gunung api yang hampir 70 di antaranya masih aktif.

Wilayah Indonesia juga terletak di daerah iklim tropis dengan dua musim, yakni panas dan hujan. Kondisi dua musim ini sebenarnya membuat tanah subur dan petani makmur. Tetapi lantaran aktivitas manusia terus berkembang dan pengawasannya lemah, kerusakan lingkungan cenderung bertambah. Musim panas dan musim hujan malah memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor dan kekeringan.

Situasi itu masih ditambah dengan ancaman sepasang anomali suhu di perairan samudera pasifik, El Nino dan La Nina.

Dibanding erupsi gunung berapi, longsor, banjir dan bencana yang lain, kerusakan akibat gempa – pada magnitudo tertentu – justru lebih parah. Wilayah yang rusak akibat gempa lebih luas dan kerap menjangkau beberapa kabupaten sekaligus.

Itulah sebabnya bantuan yang masuk dan relawan yang datang ke daerah terkena gempa, jumlahnya lebih banyak dibanding di bencana yang lain. Hanya saja – dan ini patut jadi wacana bersama — sebaran relawan di daerah gempa belum merata.

Ada titik-titik tertentu di daerah terkena gempa yang relawannya menumpuk. Posko kemanusiaan seolah berbaris. Bantuan dan pendampingan menjadi berlebihan. Misalnya di daerah perkotaan dan di area mudah dijangkau yang berfasilitas memadai.

Sementara di titik lain yang juga rusak karena gempa — seperti desa terpencil dan terisolir — justru minim bantuan, karena relawan jarang yang mau datang.Apalagi mendirikan posko kemanusiaan di  sana.

Padahal warga di desa terpencil dan terisolir perlu pula didampingi relawan, karena — selain untuk memenuhi hak warganya sebagai korban bencana — persoalan kemanusiaan yang dialami korban gempa di desa terpencil dan terisolir, lebih kompleks dibanding yang dialami korban gempa di perkotaan dan di area mudah dijangkau yang berfasilitas memadai.

Relawan yang mendampingi korban gempa di desa terpencil dan terisolir, akhir-akhir ini populer disebut relawan garis depan.

Menjadi relawan garis depan berarti tinggal bersama korban gempa di desa terpencil dan terisolir. Tinggal di sana untuk melakukan pendampingan.

Desa terpencil dan terisolir memiliki banyak keterbatasan dan kekurangan. Oleh karena itu perlu syarat tertentu untuk menjadi relawan garis depan. Ini wajar, sebab lokasi yang “tidak biasa” jelas memerlukan sosok yang “tidak biasa” pula.

Pecinta alam adalah kelompok yang potensial menjadi relawan garis depan. Mereka punya pengetahuan, keterampilan dan pengalaman yang relevan terhadap situasi dan kondisi lokasi gempa yang sulit didatangi. Pecinta alam juga memiliki kemampuan fisik dan kekuatan mental guna bertahan hidup (survive) di lokasi ekstrem yang asing bagi mereka.

Semua hal di atas dibutuhkan untuk melakukan pendampingan di desa terpencil dan terisolir yang jauh dari mana-mana. Termasuk jauh dari rasa nyaman dan aman.

Meski demikian, pintu menjadi relawan garis depan tak cuma terbuka untuk kalangan pecinta alam. Anggota organisasi apa pun – bahkan siapa pun — dapat menjadi relawan garis depan, serta punya peluang luas berkiprah di desa terpencil dan terisolir. Hanya saja mereka mungkin belum memiliki referensi untuk melakukannya.

Pelatihan kerelawanan yang selama ini diselenggarakan di berbagai daerah di Indonesia, hasilnya terbukti bermanfaat. Bahan bacaan tentang kerelawanan yang bertebaran di media online dan buku cetak juga meluaskan cakrawala pandang para relawan.

Tetapi dari sejumlah pelatihan dan sekian banyak bacaan, nyaris belum ada yang spesial membahas relawan garis depan, berikut pola pendampingan terhadap korban gempa di desa terpencil dan terisolir.

Itulah alasan pokok penulis menghadirkan buku berjudul, “Cara Menjadi Relawan Garis Depan di Lokasi Gempa”.

Buku ini mengajak pembaca memahami makna relawan garis depan, serta berisi petunjuk praktis yang perlu dilakukan relawan garis depan sebelum dan tatkala berada di desa terpencil dan terisolir yang didampingi.

Mulai dari persiapan menjelang berangkat ke daerah yang terkena gempa, cara survei ke desa terpencil dan terisolir, cara mendirikan posko kemanusiaan, cara mendatangkan bantuan, bentuk-bentuk kegiatan kemanusiaan untuk melakukan pendampingan, hingga cara membuat laporan usai menyelenggarakan operasi kemanusiaan.

Harapan penulis, buku ini menjadi bacaan untuk melengkapi bahan pelatihan kerelawanan, dan untuk menambah referensi para relawan. Sehingga nantinya di lokasi gempa, bakal tambah banyak relawan yang mendampingi korban gempa di desa-desa terpencil dan terisolir. Dengan begitu sebaran relawan di daerah yang terkena gempa akan merata secara signifikan.

Merata secara signifikan dalam arti ada relawan garis depan yang berkiprah desa terpencil dan terisolir. Ada relawan yang berkiprah di perkotaan dan di area mudah dijangkau yang berfasilitas memadai.

Relawan garis depan di desa terpencil dan terisolir perlu membangun kerja sama dengan relawan yang mendirikan posko di perkotaan dan di area mudah dijangkau yang berfasilitas memadai. Begitu pula sebaliknya. Sebab menangani korban gempa dan kerusakan akibat gempa, tak dapat dilakukan hanya oleh satu pihak. Tetapi perlu sinergi semua pihak dengan pendekatan multidisiplin ilmu.

Materi buku ini berdasarkan pengalaman penulis dan sesama relawan SARMMI (SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia) mendampingi korban gempa di desa terpencil dan terisolir di sejumlah kejadian gempa di tanah air.

Relawan SARMMI yang lain sebenarnya dapat memaparkan banyak hal tentang relawan garis depan seperti dalam buku ini. Tetapi mereka mempercayakan ke penulis untuk memaparkannya ke dalam buku yang sekarang Anda baca. (as).

Foto || SARMMI
Editor || Nindya Seva Kusmaningsih, WI 160009

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.