Wartapalaindonesia.com, EDUKASI – Artikel ini merupakan isi bab pertama dari buku “Cara Menjadi Relawan Garis Depan di Lokasi Gempa”. Bab pertama berjudul Gempa & Relawan. Berisi 6 artikel (nomor 1 hingga 6).
Buku ini ditulis oleh Ahyar Stone (Pemimpin Redaksi Wartapala. Anggota Dewan Pengarah SARMMI). Terbit pertama Januari 2024. Penerbit Jasmine Solo, Jawa Tengah. Buku ini diterbitkan atas kerja sama Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Wartapala, SARMMI. Selamat membaca. (Redaksi).
a. Definisi Gempa dan Parameter Gempa
Mengutip laman bnpb.go.id, gempa bumi adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi yang disebabkan oleh tumbukan antar lempeng bumi, patahan aktif, akitivitas gunung api atau runtuhan batuan.
Kurang lebih sama situs bmkg.go.id menyebutkan gempa bumi adalah peristiwa bergetarnya bumi akibat pelepasan energi di dalam bumi secara tiba-tiba yang ditandai dengan patahnya lapisan batuan pada kerak bumi. Akumulasi energi penyebab terjadinya gempa bumi dihasilkan dari pergerakan lempeng-lempeng tektonik. Energi yang dihasilkan dipancarkan ke segala arah berupa gelombang gempa bumi sehingga efeknya dapat dirasakan sampai ke permukaan bumi.
Tatkala terjadi gempa, badan yang berwenang akan menyampaikan parameter gempa bumi. Parameter gempa bumi merupakan informasi yang berkaitan dengan kejadian gempa bumi, meliputi waktu kejadian (origin time), lokasi episenter, kedalaman sumber gempa bumi (depth), dan magnitudo.
Waktu terjadinya gempa bumi (origin time), menunjukkan waktu terlepasnya akumulasi energi dari sumber gempa bumi. Episentrum atau Epicenter — disebut pula pusat gempa — adalah titik di permukaan bumi yang merupakan refleksi tegak lurus dari kedalaman sumber gempa bumi (hiposentrum). Posisi episentrum dibuat dalam sistem koordinat bola bumi atau sistem koordinat geografis dan dinyatakan dalam derajat lintang dan bujur.
Kedalaman sumber gempa bumi (depth) merupakan jarak yang dihitung tegak lurus dari permukaan bumi. Kedalaman gempa dibagi menjadi tiga yaitu dangkal, menengah dan dalam. Kedalaman dinyatakan oleh besaran jarak dalam satuan kilometer (km).
Magnitudo gempa merupakan kekuatan gempa bumi yang menggambarkan besarnya energi yang terlepas pada saat gempa bumi terjadi dan merupakan hasil pengamatan seismograf. Satuan yang umum digunakan di Indonesia adalah magnitude.
Dulu kekuatan gempa dihitung dengan Skala Richter (SR). Namun perhitungan menggunakan amplitudo ini memiliki kelemahan, yakni tidak dapat menggambarkan energi secara lengkap pada gempa. Terutama saat gempa bumi berada di atas kekuatan 6, 0. Pada angka ini perhitungan Skala Richter tidak akurat.
Di masa sekarang yang lazim digunakan — termasuk di Indonesia — adalah Skala Magnitudo. Penghitungannya berdasarkan pada sensor frekuensi broad band 0,002-100 Hz. Magnitudo memiliki keakuratan yang lebih baik dibandingkan dengan Skala Richter (SR).
b. Gempa Bumi Vulkanik dan Tektonik
Terdapat dua macam gempa yang sering terjadi di Indonesia, yaitu gempa bumi vulkanik dan gempa tektonik.
Gempa bumi vulkanik, disebabkan oleh aktivitas magma yang biasanya terjadi sebelum gunung api meletus. Gempa vulkanik menyebabkan getaran di permukaan bumi hingga mengeluarkan magma dari dapur magma. Meski begitu getaran gempa vulkanik terbatas hanya di tubuh gunung api dan di area
sekitarnya.
Gempa bumi vulkanik terjadi karena adanya proses dinamik dari magma dan cairan yang bersifat hidrotermal atau peka terhadap panas. Proses cairan dinamis yang terjadi karena adanya gradien suhu dan tekanan magma dapat menimbulkan gelombang gempa yang berasal dari proses resonansi retakan yang terisi cairan magma.
Gempa bumi tektonik, disebabkan oleh adanya aktivitas tektonik di mana terjadi pergeseran lempeng-lempeng tektonik secara mendadak. Kekuatannya mulai dari yang sangat kecil hingga yang sangat besar.
Gempa bumi tektonik biasanya menimbulkan banyak kerusakan, karena pergerakannya kuat dan cepat. Getaran gempa yang merusak bangunan, kebanyakan disebabkan oleh gempa tektonik.
c. Tiga Kedalaman Gempa
Berdasarkan kedalaman (depth), gempa dibagi menjadi tiga kategori, yaitu gempa bumi dalam, gempa bumi menengah dan gempa bumi dangkal.
Gempa bumi dalam, hiposentrumnya (pusat gempa) berada lebih dari 300 kilometer di bawah permukaan bumi (di dalam kerak bumi).
Gempa bumi menengah, hiposentrumnya berada antara 60 kilometer sampai 300 kilometer di bawah permukaan bumi. Gempa bumi menengah getarannya terasa dan umumnya menimbulkan kerusakan ringan.
Gempa bumi dangkal, hiposentrumnya berada kurang dari 60 kilometer dari permukaan bumi. Getarannya sangat terasa dan biasanya menimbulkan kerusakan parah.
https://wartapalaindonesia.com/prolog-salam-kemanusiaan/
d. Perbedaan Gempa Dengan Bencana Lain
Banjir, longsor, kebakaran hutan, erupsi gunung berapi dan tsunami, adalah jenis bencana alam yang dapat langsung menelan korban jiwa. Sedangkan gempa merupakan bencana yang tidak langsung membunuh korbannya.
Korban yang meninggal di bencana banjir umumnya karena tenggelam atau terseret arus air. Korban meninggal di bencana longsor karena tertimbun material longsoran.
Demikian halnya korban jiwa di bencana tsunami, disebabkan oleh gelombang tsunami. Sedangkan korban yang meninggal di bencana gempa, bukan disebabkan langsung oleh getaran gempa. Tetapi karena tertimpa puing bangunan atau tertimbun longsor.
Lantaran itulah anjuran pertama tatkala terjadi gempa adalah berlindung di bawah meja atau masuk ke kolong tempat tidur. Segera lari ke area terbuka, menjauhi bangunan dan tiang yang berpotensi roboh, serta menjauh dari lingkungan yang berpotensi longsor.
Saat ini, akan terjadi banjir, longsor, erupsi gunung berapi dan tsunami, relatif dapat diprediksi. Tetapi khusus gempa, sebagian besar ahli mengatakan sejauh ini tak mungkin memprediksi gempa. Bahkan jika terjadi dua gempa berturut-turut, sulit untuk mengatakan keduanya berhubungan. Sebuah gempa belum tentu menjadi penyebab bagi gempa yang lain.
Selain belum bisa diprediksi, ciri khas lain dari gempa adalah dapat melahirkan bencana ikutan, yaitu longsor, banjir bandang dan tsunami.
Oleh sebab itulah meski gempa merupakan bencana yang tidak langsung membunuh, tetapi dibanding bencana yang lain, kerusakan akibat gempa — pada magnitudo tertentu — justru lebih parah.
Wilayah yang mengalami kerusakan akibat gempa juga lebih luas. Bahkan dapat menjangkau beberapa kabupaten sekaligus. Dari warga yang bermukim di pegunungan, di pesisir, di wilayah perkotaan padat penduduk hingga warga di desa terpencil, semua berpeluang menjadi korban gempa maupun korban dari bencana ikutan gempa.
Ciri berikutnya dari gempa adalah munculnya gempa susulan di lokasi yang sama.
Mengutip Jurnal Fisika Flux yang dimuat laman.tempo.co, gempa susulan adalah serentetan gempa yang terjadi setelah gempa besar yang menimbulkan bencana. Rentetan terjadinya gempa susulan adalah bagian dari mekanisme untuk mencapai keadaan setimbang di tempat gempa utama setelah terjadinya pelepasan energi yang sangat besar dalam waktu yang relatif singkat.
Kekuatan gempa susulan bervariasi, bisa lebih kecil dan bisa lebih besar daripada gempa utama. Dari lima contoh yang diteliti, Jurnal Fisika Flux menyimpulkan bahwa kekuatan gempa susulan dapat terjadi mulai dari 0,1% hingga 33% lebih kuat dibanding kekuatan gempa utama.
Masih menurut Jurnal Fisika Flux, gempa bumi sesar geser atau strike-slip memiliki potensi kekuatan gempa bumi susulan yang lebih kecil. Sedangkan gempa bumi sesar naik atau thrust memiliki potensi gempa susulan dengan kekuatan yang lebih besar. (as).
Foto || SARMMI
Editor || Nindya Seva Kusmaningsih, WI 160009
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

