12. Mengapa Relawan Garis Depan Perlu Melibatkan Warga yang Didampingi?

Wartapalaindonesia.com, EDUKASI – Artikel ini merupakan isi bab kedua dari buku “Cara Menjadi Relawan Garis Depan di Lokasi Gempa”. Bab kedua Posko Kemanusiaan Relawan garis Depan. Berisi 7 artikel (nomor 7 hingga 13).

Buku ini ditulis oleh Ahyar Stone (Pemimpin Redaksi Wartapala. Anggota Dewan Pengarah SARMMI). Terbit pertama Januari 2024. Penerbit Jasmine Solo, Jawa Tengah. Buku ini diterbitkan atas kerja sama Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Wartapala, SARMMI. Selamat membaca. (Redaksi).

a. Tujuan Melibatkan Warga
Dalam melaksanakan kegiatan kemanusiaan, relawan garis depan perlu melibatkan warga desa focus area. Tujuan melibatkan warga antara lain adalah:

  1. Sebagai Dukungan Psikososial
    Di desa focus area, relawan garis depan tentu melihat ada beberapa warga yang lebih banyak duduk dan tiduran di pengungsian daripada beraktivitas. Ada pula yang tampak bingung, kurang inisiatif, cemas, dan bahkan mudah tersinggung.
    Dalam batas tertentu, kondisi seperti itu sebenarnya normal di desa yang mengalami bencana. Sering diistilahkan sebagai “kondisi normal di situasi yang tidak normal”. Kondisi ini muncul lantaran psikososial warga terganggu.Melibatkan warga di kegiatan kemanusiaan — termasuk mengajak mereka aktif di posko kemanusiaan — adalah salah satu bentuk dukungan psikososial untuk warga.Terlibat di kegiatan relawan garis depan, membuat beban psikologis warga berangsur-angsur berkurang. Sehingga mereka dapat mengembalikan fungsi sosial indvidunya ke dalam lingkungan sosial di desanya.

    Mengutip buku Buku Panduan Dukungan Psikososial bagi Anak Korban Bencana Alam. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Psikososial memiliki pengertian hubungan yang dinamis dan saling mempengaruhi antara aspek psikologis seseorang dengan aspek sosial di sekitarnya.

    Maksudnya adalah, kondisi psikologis seseorang sangat dipengaruhi oleh kondisi sosialnya karena individu selalu berada dalam konteks sosial, dan sebaliknya keadaan psikologis seseorang bisa mempengaruhi bagaimana ia berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.

    Oleh karena itu, dukungan psikososial adalah semua bentuk kegiatan yang berfokus untuk menguatkan faktor resiliensi (aspek psikologis) dan relasi sosial individu dengan lingkungannya (aspek sosial).

    https://wartapalaindonesia.com/11-cara-mendatangkan-bantuan/

  2. Sebagai Sumber Informasi
    Sebelum merancang kegiatan kemanusiaan — termasuk menyalurkan bantuan — relawan garis depan perlu memiliki informasi terkini tentang situasi di desa focus area. Juga kondisi terbaru warganya.
    Jangan sampai bantuan yang disalurkan menimbulkan konflik antar warga. Atau kegiatan kemanusiaan yang dirancang relawan garis depan, ternyata menabrak kearifan lokal di desa focus area.Agar tahu banyak tentang desa focus area dan warganya, relawan garis depan harus proaktif mencari informasi. Dengan melibatkan beberapa orang warga desa focus area di kegiatan kemanusiaan, relawan garis depan sudah memiliki sumber informasi yang akurat.
  1. Untuk Memberi Edukasi Tentang Kerelawanan
    Melibatkan warga desa focus area di posko kemanusiaan, secara langsung relawan garis depan sudah mengedukasi warga tentang dunia relawan. Juga memberi mereka contoh nyata cara mengelola posko kemanusiaan, serta memberi mereka kesempatan praktek langsung.
    Edukasi serupa dapat pula disampaikan ke warga melalui rapat kordinasi atau pada obrolan sehari-hari. Muatan edukasi yang disampaikan, berkisar pengetahuan umum tentang kerelawanan di bencana gempa.Tujuan memberi edukasi adalah agar warga setempat mampu melakukan respon cepat yang terorganisir bila terjadi lagi bencana di desa focus area.
  1. Melanjutkan Aktivitas Relawan
    Meski semua kegiatan kemanusiaan di desa focus area sudah dirancang dengan baik, tetapi karena ada kendala, sangat mungkin ada beberapa kegiatan kemanusiaan yang belum selesai ketika relawan garis depan akan pulang.
    Agar kegiatan tetap berjalan sampai selesai, pelaksanaannya diserahkan ke warga yang dilibatkan di kegiatan tersebut. Mereka pasti mampu menuntaskannya.

b. Contoh Keterlibatan Wargah
Ibu-ibu dilibatkan untuk mengelola dapur umum. Mereka pasti sudah tahu selera makan warga desanya. Mereka juga sudah paham jam makan warganya.

Pemuda dan pemudi diajak menyiapkan dan mendistribusikan bantuan. Mereka tentu hapal jumlah jiwa tiap KK di desanya, serta tahu tempat warga mengungsi. Pemuda dan pemudi ini dapat pula dilibatkan di kegiatan sekolah darurat atau mendampingi relawan medis.

Keterlibatan lelaki dewasa dapat berupa membantu pengawasan posko kemanusiaan, serta menggerakkan warga jika ada kegiatan kemanusiaan yang perlu dilakukan secara gotong royong.

c. Posko Kemanusiaan Harus Ramah Anak
Posko kemanusiaan yang dibuat relawan garis depan, harus ramah anak. Biarkan anak-anak desa focus area bermain di posko kemanusiaan.

Untuk mengisi kegiatan mereka, libatkan anak-anak ini menghitung bantuan yang masuk. Ikutkan anak-anak mengemas bantuan yang akan dibagikan. Ajak mereka merapikan kardus bekas bantuan.

Membiarkan anak-anak bermain di posko kemanusiaan, serta melibatkan mereka di pekerjaan sederhana yang mudah dilakukan, secara langsung relawan garis depan sudah menanamkan karakter peduli di diri anak-anak bersemangat ini.

Siapa tahu, kelak anak-anak inilah yang menjadi relawan di desanya, atau bahkan menjadi relawan garis depan di berbagai lokasi gempa di tanah air. (as).

Foto || SARMMI
Editor || Danang Arganata, WI 200050

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.