Oleh : Dr. Irwan Wisanggeni
Dosen dan Penjelajah
Wartapalaindonesia.com, FEATURE – Semalam saya melewati terminal bus Kalideres, Jakarta Barat. Alam bawah sadar saya tiba-tiba teringat peristiwa pendakian Gunung Kerinci 37 tahun silam. (1988-2025).
Tahun 1988, Saya, Ino, Herman dan Abeng Lango melakukan pendakian ke Gunung Kerinci (3.805 mdpl) yang waktu itu bagi kami yang masih ABG terasa jauh sekali.
Naik bus Trans Sumatera pun sangat diperhatikan supir bus karena kami masih ABG, dan selalu diajak makan gratis oleh sopir jika mampir di kedai makan.
Pendakian dimulai melalui jalur Kresik Tuo berada di Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Jalur ini penuh dengan lading. Uniknya penduduk di kaki Gunung Kerinci berasal dari tanah Jawa. (Saya pernah baca kisah transmigrasi zaman Belanda dari bukunya Pramudya Anantatoer dan buku karangan Iwan Simatupang berjudul Kuli Kontrak)
Sebelum mendaki, kami berdoa karena merasa takut dan ngeri melihat gunung yang maha besar itu. Usai berdoa, kami mulai melangkah beriringan.
Perlengkapan pendakian kami saat itu sangat sederhana. Tak ada tenda bulan, hanya ponco tentara 4 buah yang akan kami jadikan bivak, juga 2 sleping bag yang ketika itu masih sukar dicari.
Makanan kami juga sederhana, cuma beberapa kaleng havermoot (kesukaan saya sampai saat ini), susu, mie instan, serta kopi dan teh.
Pendakian lewat jalur Kresik Tuo tidak begitu jelas setapaknya ketika itu, jadi kami harus jalan siang saja. Kami tak berani jalan malam, takut kesasar. Abeng Lango yang paling berani dan cuek, juga ngeri diajak jalan malam di Kerinci.
Kami melakukan pendakian dari pagi hingga sore, dan istirahat di selter rusak sebelum puncak, membuat bivak dan cari air untuk masak.
Di malam hari kami memberi sinyal dengan senter ke arah penduduk di bawah, dan uniknya penduduk di sana membalas senter kami. Sungguh mereka peduli, sebab kalau kami tidak memberi sinyal senter, penduduk akan naik ke gunung karena mereka mengira kami tersesat atau kecelekaan. (Budaya peduli yang bagus dan jarang kita jumpai di Jakarta).
Besok kami kembali mendaki menuju puncak Adi Permana yang gundul, tak ada pepohon besar, mungkin karena cuaca ekstrim. Saya melihat alat pengukur suhu 4 derajat celcius. Dinginnya luar biasa, apalagi kami masih kerempeng dan tak ada lemak badan untuk menahan dingin.
Setelah 4 jam kami mendaki melewati jalur yang cukup sulit, pasir dan medan kerikil dengan tingkat kemiringan sekitar 45 derajat, akhirnya kami tiba di puncak Gunung Kerinci.
Di puncak gunung tertinggi di pulau Sumatera ini, kami tidak lama. Kami lalu tancap gas turun gunung. Hanya sekitar 6 jam kami sudah sampai di kaki gunung. Di sini kami mandi dan tidur di rumah penduduk.
Itulah kisah pendek mendaki Gunung Kerinci dengan penduduk yang ramah, entah kapan bisa kembali ke sana. (*).
Foto || Koleksi pribadi penulis
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)