Oleh : Rahmat Dani Buloto
Mapala Mohuyula Universitas Muhammadiyah Gorontalo
Wartapalaindonesia.com, PERSPEKTIF – Mahasiswa Pecinta Alam atau yang akrab disebut Mapala, merupakan wadah organisasi yang lahir dari semangat mahasiswa dan anak muda dalam menjalin hubungan kedekatan dengan alam, serta mengedukasi masyarakat akan pentingnya pelestarian lingkungan dan konservasi. Berdirinya Mapala pertama kali telah menjadi wujud perubahan dalam kesadaran ekologis untuk generasi muda.
Kegiatan petualangan seperti pendakian gunung, susur sungai dan lainnya, bukan hanya pendidikan Mapala terhadap pelestarian alam dan lingkungan, namun merupakan pendidikan karakter untuk menjadi pribadi yang tangguh, serta sadar akan tangung jawab pada lingkungan dan masyarakat. Jadi, tujuan dan visi Mapala terletak pada dua dimensi penting, yakni konservasi alam dan pembentukan karakter.
Kesadaran terhadap isu-isu lingkungan seperti deforestasi, perubahan iklim, dan kerusakan ekosistem, harus menjadi perhatian bagi anggota yang memiliki label Pecinta Alam. Sehinggah Mapala memiliki potensi untuk menjadi kekuatan sosial dalam mewujudkan kelestarian alam dan kesadaran ekologis.
Namun — meskipun peran Mapala dalam membagun kesadaran ekologis sangat krusial — realitas saat ini yang dihadapi adalah organsasi pecinta alam tengah menghadapi berbagai masalah serta tantangan yang multidimensional dan signifikan. Mapala dihadapkan pada krisis eksistensial — baik interal maupun eksternal — serta pergeseran paradigma generasi akibat disrupsi digital.
Banyak anggota Mapala yang lebih terpikat pada aspek visual dan terjebak pada popularitas dalam ber-Mapala ketimbang menanamkan nilai-nilai konservasi dan etika lingkungan yang menjadi dasar ideologis Mapala itu sendiri. Tak sedikit juga orang yang menganggap bahwa bergabung dan masuk menjadi bagian dari Mapala sekedar naik gunung dan bersenang senang di alam saja.
Salah satu kritik yang paling mendalam adalah Mapala kerap gagal dalam pengembangan karakter melalui kegiatan alam bebas, karena terjebak dalam glorifikasi visual dan petualangan semata, sehingga lupa dasar ideologi Mapala itu sendiri seperti kontribusi nyata terhadap konservasi lingkungan dan masyarakat.
Tak jarang pula aktivitas organisasi Mapala malah memunculkan paradoks: mengusung cinta alam namun meninggalkan jejak ekologis yang merusak secara langsung melalui aktifitas lapangan yang kurang beretika. Tak heran jika aktivitas Mapala dalam pelestarian lingkungan sudah mulai tergerus.
Budaya diskusi guna menajamkan nalar dan membangun pemikiran yang kritis sudah jarang dilakukan oleh beberapa organisasi pecinta alam. Hal ini juga menjadi suatu kemunduran bagi organisasi Mapala di mana pendiri Mapala (Soe Hok Gie) merupakan seorang intelektual muda, aktifis dan penulis yang dikenal dengan kritikan-kritikan kerasnya terhadap kekuasaan orde lama dan orde baru.
Kesimpulan
Organisasi Pecinta Alam dalam hal ini Mapala harus berbenah dalam menghadapi tantangan besar berupa perkembangan zaman yang pesat. Semakin tinggi dan parahnya kerusakan alam yang diakibatkan oleh industrialisasi dan modernisasi, menjadi suatu perhatian penting dalam penerapan nilai-nilai kepecintaalaman dan kesadaran kolektif untuk menumbuhkan semangat dalam menjaga dan melestarikan alam.
Diskusi dan kajian-kajian lingkungan perlu ditingkatkan dalam setiap tindakan guna menjaga intelektual, tanggung jawab etis dan sosial mahasiswa dalam menjawab persoalan lingkungan, serta organisasi Mapala tidak hanya berorientasi pada glorifikasi visual dan petualangan semata. (*).
Foto || Rahmad Rizki
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)