Kisah Dibalik Foto Rocker Harry Moekti dan Norman Edwin

Oleh : Fadlik Al Iman
Anggota Stacia, Ketua Bidang Operasi SARMMI

Wartapalaindonesia.com, FEATURE – Awalnya cuma angan, tetapi kopi darat (kopdar) bersama Ressy Elang Andrian, Syamsirwan Ichien, Adi Nugroho dan Pramudia Budhi, akhirnya terwujud. Nama terakhir itu adalah pemilik Antartic Outdoor Shop yang berlokasi di Penggilingan Jakarta Timur, tempat kami kopdar. (17/6/2025).

Ressy Elang Andrian adalah sutradara film dokumenter berjudul “Djajo”. Sebelum menyelesaikan film ini, Ressy telah menghasilkan beberapa film dokumenter terkait tokoh legenda petualang di Indonesia. Sekarang Ressy sedang menggarap film dokumenter berikutnya.

“Tokoh dan judul film-nya masih dirahasiakan. Tetapi pengambilan gambar sudah dilakukan di tempat ini,” kata Ressy memulai obrolan hangat sambil menunjuk lantai Antartic Outdoor Shop, tempat kami melekatkan angan dan memanjakan mata.

Syamsirwan Ichien adalah anggota kehormatan Mapala UI (Universitas Indonesia).

Om Ichien – begitu kami menyapanya  – dikenal sebagai fotografer yang kerap mendokumentasikan banyak ekspedisi dan aktivitas petualang di Indonesia.

Salah satu ekspedisi yang ia dokumentasikan adalah perjalanan Effendi Sulaiman yang berlayar sendirian dari Jakarta ke Brunei Darussalam, dengan perahu kecil yang dikenal sebagai Cadik Nusantara.

Sore ini, om Ichien membuka cerita masa mudanya yang penuh dengan perjalanan mendokumentasikan ekspedisi bersama Mapala UI, dan persinggungan akrabnya dengan nama-nama besar dari Mapala UI.

Salah satu yang diceritakan om Ichien adalah foto kontroversi di kalangan Mapala yang kebetulan hasil bidikan om Ichien.

Di foto itu terdapat dua tokoh kharismatik di depan wall climbing, yaitu almarhum Harry Moekti dan almarhum Norman Edwin. Pada foto di atas tulisan ini, Harry Moekti (kiri) dan Norman (kanan) tampak tertawa lebar sampai memejamkan matanya.

Hari Moekti adalah rocker era 1990-an yang telah menghasilkan banyak lagu yang hit pada masanya seperti Ada Kamu, Satu Kata, Apel Pertama, dan lainnya. Namun di puncak kariernya, Hari Moekti yang juga gemar mendaki gunung dan arung jeram, memutuskan hijrah dan menjadi pendakwah.

Norman Edwin yang dijuluki Beruang Gunung adalah legenda besar di jagad pecinta alam di Indonesia. Norman wafat bersama Didiek Samsu Wahyu Triachdi pada pertengahan April 1992, ketika mendaki Gunung Aconcagua (6.959 mdpl) di perbatasan Argentina-Cile.

Pendakian mereka adalah bagian dari seri pendakian Sevenist Summits Mapala UI di tahun 1980-1990 an. Di Indonesia Norman adalah pelopor Seven Summits.

Tentang foto tadi om Ichien bercerita, kala itu banyak teman bertanya ke Norman, “Ketemu idola ya Man?”. Maklum Harry Moekti pada waktu itu sedang top-topnya sebagai bintang rock.

Norman malah menjawab, “Dia yang nge-fans sama gue“.

Pertanyaan teman-teman itu lanjut om Ichien, memang membuat Norman agak keki, karena memang Harry Moekti yang menjemput idola gunungnya pada kegiatan waktu itu.

“Foto itu menjadi kontroversial karena ada yang beranggapan Norman yang menemui Harry Moekti, padahal sebaliknya,” jelas om Ichien.

Obrolan di kopdar kami kemudian bergeser tentang almarhum Djajo yang nama lengkapnya Dondy Rahardjo. Djajo kemudian menjadi anggota Kehormatan Mapala UI.

Kata om Ichien, Djajo kalau bercanda, khas dengan gaya jadul. “Bahasa singkatan atau prokem yang langsung mengenai sasaran sering keluar dari Djajo, tetapi memang beda zaman ya, kita nggak ada yang baper”.

“Sekarang anak Mapala banyak yang baperan”, sambung om Ichien.

Tentang Djajo, Pramudia Budhi pemilik Antartic Outdoor Shop ikut angkat cerita. Djajo sering menginap di belakang uutdoor shop gue, kami akrab, hingga ketika Djajo menginap saya yang disuruh pergi dari rumah.

“Sialan lu Djo, yang punya rumah gue malah terusir,” kata Budhi sambil ngakak mengenang Djajo.

Di mata Budhi, Djajo memang berbeda sekaligus khas, nggak ada sosok penggiat alam bebas yang tulus seperti dia.

“Djajo ama duit kagak pelit. Barang yang dimintanya seperti rangsel dan jaket, dikasih lagi ke teman-temannya. Tulus banget dah orangnya,” kenang Budhi yang alumni ITB angkatan 1981.

Di penghujung kopdar, Adi Nugroho dari Global Rescue Network (GRN) mengatakan figur-figur seperti itu memang jarang ditemui di era sekarang, di mana orang dibiasakan dengan kesendiriannya bersama HP masing masing.

“Kopi darat seperti ini sebaiknya sering dilakukan, agar bisa merajut persaudaraan sesama penggiat alam,” kata Adi. (FAI).

Foto || Syamsirwan Ichien
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.