Wartapalaindonesia.com, BOGOR – Summit atau dikenal dengan istilah ‘muncak’ adalah kegiatan yang menjadi agenda terpenting bagi para pendaki. Rela bangun pagi-pagi melawan dinginnya angin, atau membuka mata di malam hari dengan berbekal headlamp akan dilakukan. Semua upaya itu akan terasa saat para pendaki sampai puncak.
Lalu bagaimana jika kita ‘muncak’ dua kali ? Bukan tidak mungkin hal ini dilakukan. Memang gunung di Indonesia yang sering didaki oleh para pendaki merupakan rangkaian dari pegunungan. Walau kebanyakan hanya ada satu gunung yang sering didaki diantara gunung-gunung di pegunungan tapi ada pula dua gunung yang saling berdekatan dan sering didaki.
Gunung tersebut biasa disebut kakak-adik atau tengger. Sebut saja Gunung Gede dan Gunung Pangrango, Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing, Gunung Semeru dan Gunung Merapi. Gunung-gunung tersebut merupakan gunung kakak adik yang sering disinggahi para pendaki.
Salah satu double summit di daerah Jawa Barat yang sering dilakukan adalah menapaki puncak Gunung Gede dan Gunung Pangrango. Kedua gunung yang dikelola oleh balai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) ini memiliki tiga jalur pendakian. Opsi jalur tersebut bisa menjadi pilihan dalam sekenario double summit.
Ya, skenario atau rencana perjalanan memang salahsatu hal yang penting dalam melakukan double summit. Skenario yang sederhana jika ingin mendaki Gede Pangrango adalah naik turun di jalur Cibodas. Pendakian ini bisa kita lakukan dalam dua hari satu malam. Saat mulai mendaki tujuan pertama adalah Kandang Badak.
Kandang Badak akan menjadi tempat bermalam yang paling efesien. Karena dekat dengan persimpangan Gede Pangrango. Pendakian menuju tempat ini kurang lebih membutuhkan waktu 4-5 jam. Jadi jika kita berangkat pukul 07.00 WIB bisa sampai tempat tersebut pukul 12.00 WIB. S
etelah beristirahat sejenak kita bisa melakukan summit attack ke puncak Gunung Gede dengan menyimpan peralatan kita di dalam tenda. Waktu antara Kandang Badak dan puncak Gunung Gede adalah sekitar 2 jam perjalanan, dan waktu turun mencapai 1 jam perjalanan. Bila perlengkapan kita memadai kita bisa menikmati indahnya suasanasun set di puncak Gunung Gede.
Pagi hari kedua sebaiknya tidak kita gunakan untuk berleha-leha dalam tenda. Walau udara dingin menusuk badan sebaiknya kita gunakan untuk memulai perjalanan ke puncak Gunung Pangrango. Perjalanan ini membutuhkan waktu naik 4 jam dan waktu turun 2 jam. Memang double summit membutuhkan tenaga yang sangat ekstra.
Mulai pendakian kita harus membawa logistik yang cukup banyak. Jangan sampai kita kehabisa logistik saat naik ataupun saat turun. Perlengkapan standar saat mendaki juga peralatan medis perlu kita siapkan sebaik-baiknya. Kondisi tubuh pun tak boleh dihiraukan, karena double summit bukan hal yang main-main.
Kaki akan melangkah lebih banyak saat kita melakukan double summit. Medan yang cukup terjal bahkan sampai mencium lutut saat mendaki bukan lagi hal yang sekali dua kali ditemui. Kesal karena jalanan menanjak yang tidak ada habisnya akan dirasakan. Apalagi jika rekan tim tidak saling mengerti.
Namun disetiap usaha pasti akan ada hasil. Kenikmatan batin dan kepuasan dalam diri setelah melakukan double summit tak terkira rasanya. Tak perlu takut melakukan hal yang ‘melelahkan kaki’ karena dibalik itu semua bisa jadi alam menyiapkan hal-hal untu ‘memanjakan mata’ kita.
Kontributor : Dzulfikar Malik
Editor : Efrina Fitrianingrum
Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081553355330 (Telp/SMS/WA)
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)






1 Comment