Wartapalaindonesia.com, Ruteng — Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB University melanjutkan kolaborasi dengan American Red Cross (Amcross) Indonesia dan Palang Merah Indonesia (PMI) dalam program Empowering Local Entities and Communities to Take Rapid Action (ELECTRA) di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). (12/05/2026).
Program yang berlangsung pada 2025–2027 ini berfokus pada penguatan kapasitas masyarakat serta perlindungan ekosistem pesisir dan daerah aliran sungai (DAS) sebagai bagian dari upaya pengurangan risiko bencana (PRB).
Program ELECTRA telah berjalan sejak April 2025 di tujuh desa dan kelurahan di Kabupaten Manggarai. Sejumlah tahapan awal telah dilaksanakan, meliputi kajian risiko desa, pembentukan Tim Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT), serta penyusunan Risk Reduction Plan (RR Plan).
Dalam penerapan pendekatan Nature-based Solutions (NbS), khususnya terkait perlindungan dan pemanfaatan ekosistem pesisir serta DAS, Amcross menggandeng PKSPL IPB University. Tim PKSPL terdiri atas berbagai disiplin ilmu, seperti rehabilitasi ekosistem, arsitektur lanskap, sistem informasi geografis (GIS), pilot drone, sosial ekonomi, pengembangan mata pencaharian, hingga kelembagaan masyarakat desa.
Tahap awal kegiatan dilakukan melalui pengumpulan data dasar untuk menyusun rencana implementasi NbS yang akan diintegrasikan dengan penguatan resiliensi dan kesiapsiagaan masyarakat di tujuh desa program.
Kajian lapangan berlangsung selama lima hari, mulai 24 April hingga 1 Mei 2026, di wilayah pesisir selatan dan utara Kabupaten Manggarai. Wilayah pesisir selatan meliputi Desa Terong, Cambir Leca, dan Hilihintir di Kecamatan Satar Mese Barat. Sementara wilayah utara mencakup Desa Lemarang dan Para Lando di Kecamatan Reok Barat serta Desa Robek dan Kelurahan Wangkung di Kecamatan Reok.
Sebagai bagian dari rencana implementasi dan keberlanjutan program, PMI Kabupaten Manggarai bersama tim PKSPL IPB menggelar diskusi dengan Pemerintah Kabupaten Manggarai. Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah perangkat daerah, di antaranya BPBD, DLH, PMD, KPH, dan Bapperida.
Kepala Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan Bapperida Kabupaten Manggarai, , menyatakan dukungannya terhadap program tersebut.
“Kami sangat mendukung dan berharap kegiatan ini dapat segera terimplementasi karena menyentuh aspek lingkungan yang terintegrasi dengan sosial ekonomi masyarakat. Ke depan, kami berharap program ini dapat diperluas hingga menjangkau desa-desa pesisir, seperti Desa Nuca Molas di Kecamatan Satar Mese Barat,” ujarnya.
Ketua tim kajian PKSPL IPB University, , mengatakan kajian dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi lingkungan dan sosial masyarakat di desa program.
Ia menyebut terdapat empat temuan utama dari hasil kajian awal. Pertama, adanya kesamaan karakter risiko di tujuh desa, seperti longsor, banjir rob, banjir limpasan sungai, abrasi pantai, serta serangan hama padi dan penyakit pisang kepok.
Kedua, pentingnya integrasi pendekatan NbS dalam pembangunan infrastruktur desa, seperti tanggul penahan abrasi dan bronjong yang dikombinasikan dengan vegetasi sesuai karakteristik lokal.
Ketiga, perlunya pengembangan mata pencaharian alternatif untuk memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat, misalnya melalui pengolahan hasil perikanan menjadi abon dan nugget guna mengurangi kerugian saat panen melimpah.
Keempat, perlunya penguatan regulasi dan kelembagaan desa, termasuk penyusunan peraturan desa terkait perlindungan kawasan dan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Pelaksanaan kajian melibatkan partisipasi masyarakat melalui diskusi kelompok terarah (FGD), pemetaan wilayah, observasi lapangan, serta wawancara dengan tokoh masyarakat, pemuda, dan anggota SIBAT.
Kepala Desa Para Lando, , mengapresiasi pelaksanaan program ELECTRA karena dinilai membantu masyarakat memahami ancaman bencana dan potensi desa secara lebih menyeluruh.
“Melalui program ini, masyarakat dilibatkan sejak awal hingga penyusunan kajian risiko. Kami berharap hasil kajian ini dapat menjadi rujukan dalam perencanaan pembangunan desa,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris PMI Kabupaten Manggarai, , menilai program ELECTRA telah berkontribusi dalam meningkatkan kapasitas masyarakat menghadapi bencana.
“Pendekatan NbS diharapkan mampu memberikan dampak positif tidak hanya dalam mitigasi bencana, tetapi juga mendukung keberlanjutan kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Di akhir kegiatan, tim PKSPL IPB memaparkan hasil identifikasi awal kepada PMI Kabupaten Manggarai sebagai pelaksana program. Masyarakat dan pemerintah daerah berharap program tersebut dapat segera diimplementasikan dan diperluas ke wilayah lain yang memiliki tingkat kerentanan tinggi.
Kolaborasi ini juga menjadi bagian dari kontribusi PKSPL IPB University terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim, SDG 14 tentang Ekosistem Lautan, dan SDG 15 tentang Ekosistem Daratan.
Kontributor || Humas PKSPL IPB
Editor || Wandi Wahyudi, WI 200223
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)