Tingkatkan Kesadaran Masyarakat dalam Mengelola Air Hujan, Yayasan Mutiara Banyu Langit Gelar Training ISLAH

WartapalaIndonesia.com, GUNUNGKIDUL – Yayasan Mutiara Banyu Langit melalui Komunitas Banyu Bening, dengan dukungan pendanaan hibah tetap dari Yayasan Kehati, menyelenggarakan Training of Fasilitator (ToF) Pembuatan dan Perawatan ISLAH (Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan) dan Elektrolisa Air Hujan di Ruang Rapat Kalurahan Balong, Kapanewon Girisubo, Gunungkidul. Pada 18–19 Juli 2026.

Kegiatan ini juga bermitra dengan Bingkai Indonesia sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan dan mengelola air hujan secara bijak dan berkelanjutan.

Pelatihan ini diikuti oleh perwakilan dari seluruh padukuhan di Kalurahan Balong. Para peserta dipersiapkan untuk menjadi fasilitator sekaligus pionir teknis di wilayahnya masing-masing dalam pemasangan serta penginstalan hingga perawatan ISLAH dan Elektrolisa Air Hujan.

Melalui pelatihan ini diharapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat ditularkan kepada masyarakat sehingga pemanfaatan air hujan semakin luas dan mampu menjadi solusi tantangan ketersediaan air bersih di masa mendatang.

Pada hari pertama, peserta memperoleh materi teori yang disampaikan secara komprehensif mengenai prinsip kerja sistem, kebutuhan material, teknik pemasangan, hingga prosedur perawatan agar sistem tetap berfungsi secara optimal.

Selain itu, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai proses filtrasi sederhana sebagai langkah penting untuk menjaga kualitas dan higienitas air hujan sebelum dimanfaatkan.

Materi mengenai ISLAH disampaikan oleh Halik Sandera, yang menjelaskan secara rinci tentang mekanisme kerja sistem ISLAH, bahan-bahan yang diperlukan dalam proses instalasi, serta teknik perawatan.

Sementara itu, materi mengenai elektrolisa air hujan disampaikan oleh Sri Wahyuningsih, yang membahas prinsip kerja alat elektrolisa, kebutuhan bahan dan peralatan, serta langkah-langkah perawatan untuk memastikan alat dapat digunakan secara berkelanjutan.

Memasuki hari kedua, peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga melakukan praktik lapangan secara langsung. Kegiatan praktik meliputi pemasangan instalasi ISLAH, revitalisasi sistem ISLAH yang telah ada, serta praktik perawatan alat elektrolisa air hujan.

Pendampingan langsung dari para narasumber memberikan kesempatan kepada peserta untuk memahami setiap tahapan secara aplikatif sehingga mereka memiliki bekal yang memadai untuk mengimplementasikan teknologi tersebut di lingkungan masing-masing.

Pelaksanaan Training of Fasilitator ini menjadi salah satu bentuk nyata aksi terhadap perubahan iklim di tingkat masyarakat. Pengelolaan air hujan melalui teknologi ISLAH dan Elektrolisa tidak hanya menjadi solusi dalam menjaga ketersediaan air bersih, tetapi juga merupakan langkah adaptasi terhadap perubahan iklim yang kini menjadi isu global.

Dengan semakin banyaknya masyarakat yang memiliki kemampuan dalam membangun dan merawat sistem pemanenan air hujan, diharapkan terciptanya kemandirian dan kepedulian terhadap keberlanjutan sumber daya air serta lingkungan. (*)

Kontributor || Cak Jie
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.