WartapalaIndonesia.com, BOGOR – Tebing Kelapanunggal (KN) di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, merupakan kawasan pegunungan karst yang populer sebagai destinasi panjat tebing, terutama dikalangan Mapala.
Kawasan KN menawarkan berbagai spot dengan tingkat kesulitan bervariasi, mulai dari tebing Lidah Jeger dengan ketinggian lebih kurang 90 meter hingga tebing yang menantang seperti Gunung Cagak. Bogor,
Mapala Stacia Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) melakukan kegiatan latihan panjat di KN, tepatnya di area Tebing Arpam dengan koordinat 60°27’48.8″S 106°57’13.7″. Pada Rabu, 29 Juli 2026.
Ketua Mapala Stacia UMJ Muhammad Viki Adriansyah Rasyid mengatakan kali ini anggota Mapala Stacia belajar artifical climb, teknik manjat, dan Himalayan climb.
“Meski materinya tergolong sulit, semua materi tersebut cukup umum dikalangan Mapala dan dijamin aman,” terang Adriansyah.
Sementara salah seorang instruktur panjat tebing Stacia Reyhan Doni Febriana menjelaskan materi Himalayan climb memiliki perbedaan signifikan dengn materi panjat lainnya.
Sebab tantangan terbesar Himalayan climb bukan cuma teknik panjat tebingnya. Tapi Altitude Mountain Sickness (AMS) atau yang lebih familiar disebut penyakit ketinggian. Gejalanya pusing, mual, paru-paru bisa bocor, frostbite, serta adanya avalanche atau longsor salju.
“Jadi untuk melakukan Himalayan climb perlu persiapan logistik, harus bawa makanan, tenda, dan oksigen untuk berminggu-minggu,” pungkas Reyhan. (AS).
Kontributor || Fadlik Al Iman
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)