Belajar Bersikap Laksana Outsider, Sadari Kasus Tumpang Pitu

Wartapalaindonesia.com, OPINI – Seperti laiknya sebuah band, Superman Is Dead (SID) juga memiliki sebutan khusus untuk para penggemarnya. Band ber-genre punk ini menjuluki penggemarnya yang pria dengan sebutan Outsider. Sedangkan untuk penggemar yang perempuan, mereka memanggilnya Lady Rose.

Beberapa waktu lalu, seorang Outsider bernama Reno menghubungi saya. Lewat ponselnya, Reno bercerita pada saya tentang bagaimana dia menyisihkan sedikit demi sedikit uang sakunya demi menemui Jerinx (drummer SID). Outsider asal Banyuwangi itu rela mengurangi sedikit kesenangannya agar uangnya cukup untuk jadi bekal berangkat dari Banyuwangi menuju Benoa, Bali.

Ringkas cerita, Reno pun berhasil menemui drummer yang juga aktif menolak reklamasi Teluk Benoa tersebut. Sebagai Outsider, tentulah pertemuannya dengan Jerinx adalah sebuah kebahagiaan. Tapi hal lain yang jauh lebih membahagiakan Reno adalah dukungan Jerinx atas sikapnya.

Kepada Jerinx, Reno bercerita tentang sikapnya menolak penambangan emas di hutan lindung Gunung Tumpang Pitu. Kepada Jerinx, Reno menyampaikan bahwa pertanian dan pasokan air akan terganggu jika hutan lindung Gunung Tumpang Pitu diubah jadi kawasan pertambangan emas.

“Bagus. Anak muda memang harus berjuang. Terus berjuang ya, jangan menyerah,” kata Jerinx kepada Reno.

Bertemu idola, tentulah sebuah kebahagiaan. Tapi mendapatkan dukungan dari idola, tentu jauh lebih membahagiakan.

“Ucapan Jerinx itu singkat, bang. Cuma beberapa detik saja. Tapi ucapannya sudah sangat membuat saya bersemangat. Ucapan Jerinx itu membuat saya semakin mantap menolak tambang emas Tumpang Pitu,” kata Reno kepada saya lewat ponselnya.

Rasa bahagia dan optimisme bisa saya tangkap dari nada Reno bercerita. Keriangan suara Reno yang menyeruak dari speaker ponsel saya juga turut membangun sebentuk optimisme di hati saya. Optimisme bahwa diantara pengapnya hedonisme dan apatisme, stok anak muda idealis masihlah ada di Banyuwangi.

Di sela-sela penuturannya yang bersemangat, iseng-iseng saya bertanya pada Reno, “Ren, kenapa kamu tidak menyuarakan sikapmu kepada DPRD Banyuwangi?”

“Waduh, saya sudah kadung gak percaya dengan DPRD, bang,” jawab Reno.

“Lho mereka khan wakil rakyat? Wakil kamu juga?” timpal saya.

“DPRD Banyuwangi gak berani menolak tambang emas Tumpang Pitu, bang. Sampai sekarang tidak ada satu pun fraksi yang bikin surat resmi fraksi yang menolak Tambang Emas Tumpang Pitu. Kalau mereka berani, tentu dari dulu mereka sudah bikin surat resmi yang menyatakan bahwa mereka menolak Tambang Emas Tumpang Pitu,” beber Reno.

Saya pun terdiam mendengar alasan Reno. Bunyi deru mesin Bis di Terminal Ubung, Denpasar, terdengar dari seberang ponsel. Sesekali salak klakson juga meningkahi. Dalam hati, saya membenarkan penuturan Reno. Iya, hingga hari ini tidak ada satu pun fraksi yang pernah membuat surat resmi menolak Tambang Emas Tumpang Pitu.

Iya, sampai sekarang tak ada satu partai pun yang pernah membuat surat resmi menolak Tambang Emas Tumpang Pitu.

“Saya lebih suka menitipkan aspirasi saya ke Jerinx daripada ke DPRD Banyuwangi”, kata Reno.

Baiklah, Reno. Gaya penolakan tambang emas Tumpang Pitu memang tak harus seragam. Menolaklah dengan gayamu sendiri. Ciptakan sendiri gayamu. Pilihlah gaya yang kau sukai. Membela kelestarian hutan lindung pun gayanya tak harus sama.

Begitu juga dengan cara menitipkan aspirasi. Jika hari ini kau tidak mempercayakan aspirasimu ke DPRD Banyuwangi, maka itu adalah pilihan yang tak bisa dipaksa. Itu adalah pilihan yang memang harus ditelan sekalipun pahit. Itu adalah pilihan diantara gelombang tsunami distrust (ketidakpercayaan).

Kenyataannya, tsunami distrust (tsunami ketidakpercayaan) memang tengah menyiram lembaga legislatif di republik ini, baik di level nasional maupun lokal. Jika tsunami distrust tersebut tampias ke hatimu hingga kau sulit mempercayai lembaga legislatif, maka kau pun tak sepenuhnya keliru karena tsunami distrust itu pun lahir akibat perilaku mereka sendiri (para wakil rakyat itu sendiri).

Jika saat ini kau lebih percaya bahwa musisi lebih bisa menyuarakan aspirasimu tinimbang parlemen, maka inilah kenyataan yang harus segera diinsyafi oleh lembaga legislatif daerah yang berkantor di Jalan Adi Sucipto, Banyuwangi itu.

Reno, salam hormat untukmu, salam hormat untuk anak punk yang membela kelestarian hutan lindung Gunung Tumpang Pitu.
Reno, you are the beautiful rebel, man !
Reno, semoga Tuhan merawat idealisme-mu.

Laporan : Ro

Kunjungi : http://ketanduren.blog.com/

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.