Wartapalaindonesia.com, OUT DOOR – Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah, bulan di mana diturunkannya wahyu pedoman hidup bagi umat Muslim. Di bulan inilah, seorang umat Muslim berlomba-lomba beramal kebaikan.
Moment ini dirasa sangat tepat bagi seorang pencinta alam Muslim, untuk semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Seperti yang dilakukan oleh Nur Khafidhoh, seorang anggota Mapala Unair (Wanala) yang melakukan tadabur alam dengan mendaki gunung saat bulan Ramadhan.
Kehidupan di dunia tidaklah tepat jika harus dipisahkan dengan pedoman hidup masing-masing. Apalagi bagi seorang pencinta alam yang jelas-jelas menggunakan alam sebagai media berfikir atas keagungan Sang Pencipta.
Oleh karena itu, mendaki gunung saat bulan Ramadhan tentu bukan suatu alasan untuk meninggalkan ibadah. Malah harus menjadi penyemangat dan tantangan tersendiri untuk semakin mawas diri.
Saat dihubungi Wartapala Indonesia, Gadis kelahiran Kediri, 22 Januari 1994 yang akrab disapa Apik ini membagikan seputar pengalaman dan tips dalam mendaki gunung dengan tetap menjalankan ibadah puasa dan sunnah lainnya seperti Tarawih di bulan Ramadhan.
Pertama, mantapkan niat.
“Jika kita akan mendaki saat perjalanan, hendaknya kita meniatkan perjalanan untuk beribadah, dan semakin mendekatkan diri kepadaNya, bukan untuk maksiat, apalagi sok-sokan mendaki saat puasa.”
“Lebih jauh, niat ini harus imbang, jadi target mendaki sampai puncak harus terukur, dan tidak mengalahkan salah satunya, baik niat mendaki maupun niat berpuasa.”
“Jika mendaki mengalahkan puasa, lebih baik tidak mendaki, sebab akan menghilangkan esensi mendaki itu sendiri. Begitu juga sebaliknya, jika target mendaki gagal karena alasan puasa, ya buat apa mendaki, bikin capek aja, oleh karena itu mantapkan niat.”
Kedua, matangkan persiapan.
“Persiapan di sini meliputi banyak hal, mulai dari persiapan fisik, persiapan mental, persiapan perijinan, persiapan rute perjalanan, persiapan target yang dicapai, hingga manajemen perbekalan. Semua itu harus disiapkan menjadi suatu manajemen dan bekal perjalanan yang matang.”
“Dari persiapan fisik, tentu sebelum mendaki kita harus sering-sering berlatih fisik, saat Ramadhan, porsi dan waktu latihan fisik harus tetap teratur dan terukur. Umpama kita yang biasa melakukan jogging pagi hari, kita ganti jogging sambil nunggu waktu berbuka, atau bisa selepas shalat Tarawih.”
“Persiapan mental, tentu niat yang sudah ditanam harus dibarengi dengan sikap mental positif yang dibangun dalam diri sendiri, sebab tekanan mental lebih besar berasal dari dalam diri sendiri, tekanan tersebut dapat berupa emosi akibat kelelahan maupun singgungan terhadap faktor luar. Contoh karena patner pendakian kita yang tak sesuai harapan bahkan hingga kendala teknis yang tak terduga.”
“Persiapan perijinan, persiapan perijinan merupakan salah satu faktor penting dalam melakukan perjalanan. Ijin dan restu keluarga menjadi kunci dari kenyamanan perjalanan yang kita lakukan. Selain kepada keluarga, perijinan juga hendaknya dilakukan kepada rekan-rekan perkumpulan yang kita ikuti, sebagai back up apabila terjadi hal yang tidak diinginkan.”
“Selain perijinan kepada kerabat, perijinan kesehatan juga sangat diperlukan, selalu periksa kesehatan sebelum melakukan perjalanan. Sedikit pengalaman saat mencari surat sehat dari dokter, sang dokter bertanya,
“Masa puasa-puasa begini mau naik gunung? Puasa ndak? Puasa gini tuh ya mbak lebih baik itikaf di masjid, apalagi sepuluh hari terakhir ramadhan, gak malah keluyuran gini.”
“Saya hanya menjawab, saya kan itikaf di alam dok, jadi intinya komunikasi yang baik juga sangat diperlukan dalam mendapat perijinan.”
“Selanjutnya persiapan rute perjalanan, hendaknya kita mendaki dengan rute yang sudah kita kenal, sehingga kita dapat menyiapkan waktu dan tempat untuk melakukan perjalanan atau istirahat. Sehingga manajemen waktu dan rute yang dipilih hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan perjalanan kita saat sedang menjalankan ibadah puasa.”
“Contohnya, kita harus memanajemen kapan kita akan mulai melakukan perjalanan, hingga kapan kita istirahat untuk berbuka, hingga menjalankan shalat sunnah tarawih. Ingat mendaki hendaknya tidak menjadi alasan penghalang untuk tetap menjalankan ibadah tambahan lainnya, agar mendaki tetap berkah.”
“Saya pribadi memilih waktu sore sebelum berbuka untuk memulai perjalanan, dan istirahat untuk berbuka dan shalat tarawih berjamaah sebelum melakukan perjalanan malam hari. Selanjutnya istirahat lagi selepas sahur.”
“Untuk persiapan target yang dicapai, hendaknya target memang sudah terukur, artinya kita sudah mengenal berapa lama waktu tempuh perjalanan dari basecamp sampai puncak dan kembali lagi ke basecamp.”
“Selanjutnya persiapan perbekalan, mulai perhitungan nutrisi hingga meringkaskan packing carier kita.”
“Artinya, kita sudah mempersiapkan menu apa yang akan kita konsumsi selama perjalanan dan pengaturan waktu pola makan.”
“Tak kalah penting, untuk meringkaskan packing barang bawaan yang kita bawa. Bawa saja perlengkapan yang memang perlu dibawa, tak perlu membawa barang-barang yang tidak penting, contoh kecil, sajadah bisa kita ganti matras sebagai alas beribadah.”
Ketiga, cari patner pendakian yang tepat.
“Patner dalam mendaki tentu sangat penting, hal ini dikarenakan visi mendaki yang sama, akan juga memberi kenyamanan. Selain itu, dengan niat yang sama, maka akan bisa saling menguatkan.”
“Pengalaman jika patner pendakian kita orang yang tidak sevisi dalam mendaki dengan kita, maka akan menjadi salah satu beban mental dan malah dapat mempengaruhi kita untuk malah meninggalkan ibadah kita.”
“Dan tentu selalu berjalan bersama, hal ini untuk menghindari resiko tersesat saat dehidrasi melanda. Apalagi emosi patner kita akan menjadi salah satu faktor penghambat perjalanan.”
“Selain itu, pada saat puasa, jarang ditemui pendaki. Biasanya jalur pendakian cukup sepi sehingga selalu bersama rombongan perjalanan mutlak diperlukan.”
“Oleh karena itu tetapkan target dan komitmen bersama, dengan mencari patner pendakian yang sevisi dengan target pendakian kita.”
Keempat, selalu lakukan safety prosedure dan tetap menjaga lingkungan
“Siapapun yang akan melakukan perjalanan pendakian, baik saat puasa maupun tidak. Harus tetap memperhatikan faktor keselamatan dan kelestarian lingkungan.”
“Disiplin dalam menjalankan safety prosedure akan menyelamatkan kita dari bahaya baik dari kesalahan diri sendiri maupun faktor luar. Dan menjaga kelestarian lingkungan, menjadi tanggung jawab kita sebagai pengguna alam sebagai media berkegiatan.”
“Jadi kedua hal tersebut tidak dapat dipisahkan saat kita melakukan perjalanan di manapun dan kapanpun.”
Kelima, nikmati perjalanan
“Buat apa sih kita melakukan perjalanan jika tak menikmati perjalanan? Lebih baik lagi jika setiap langkah kita menjadi takbir, tahmid dan tasbih dalam mensyukuri kebesaran sang Pencipta.”
“Tetap lakukan ibadah semaksimal mungkin dan nikmati pengalaman berkhalwat dengan sang Pencipta melalui tadabur alam, sehingga semakin kita mengenal dan mencintai alam, semakin kita sadar bahwa alam merupakan titipan sang Pencipta yang hendaknya selalu kita jaga.”
Demikianlah sharing tips dan trik mendaki gunung saat berpuasa Ramadhan dari mahasiswi keperawatan Unair Surabaya yang juga seorang anggota Wanala Unair. Apik juga siap membuka diskusi dengan siapa saja tentang pengalaman mendaki saat Ramadhan di nomor 085646494217. Selamat mendaki.
Sumber : Nur Khafidhoh
Editor : Ragil Putri Irmalia
Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081553355330 (Telp/SMS/WA)
Info lebih lanjut :
- SMS/Telp : 081-55-33-55-33-0
- BBM : 5FA0656C
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)