Ekologi dan Seni, Wing Sentot Irawan

Wartapalaindonesia.com, OPINI – Mungkin butuh pengertian yang paling sederhana. Memahami apa itu lingkungan dan seni. Lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam, seperti tanah, air, energi, surya, mineral, serta flora dan fauna. Yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia.

Seperti keputusan bagaimana menggunakan lingkungan fisik tersebut.  Lingkungan juga dapat diartikan segala sesuatu yang ada di sekitar manusia dan mempengaruhi perkembangan kehidupan. Dan ilmu yang mempelajari lingkungan disebut Ekologi, cabang dari ilmu biologi.

Saya hanya akan mencermati, bagaimana kita memilih aksentuasi dari setiap perkembangan teks ekologi ini dan seni itu sendiri. Bagaimana seninya memahami ekologi. Dan bagaimana secara ekologi, seni mengaktualisasikan diri.

Diperlukan motivasi yang kuat untuk mengelola setiap pengertian dari teks yang paling manusiawi dari logika komunikasi. Yang selama ini dibangun dari materi dan keragaman ideologinya. Baik secara ekonomi, politik, pendidikan dan kebudayaan, maupun sosial.

Adalah aneh, bukankah manusia adalah mahluk unik yang berbudaya.

Keunikannya dilengkapi oleh keragaman dan perbedaan. yang satu dengan lainnya saling melengkapi. Dibutuhkan kesadaran ruang, kesadaran bentuk, kesadaran posisi dan keseimbangan paripurna untuk dapat memuarakan kesanggupannya ditengah-tengah perkembangan dunia ide dan gagasan yang terus berkembang.

Lingkungan dan seni adalah keniscayaan yang melingkupi dan menandai. Termasuk kepentingan di dalamnya. Pun pilihan-pilihan, dari apa yang kemudian disebut sebagai ‘kehendak’. Dan realitas pun memiliki upaya untuk bertindak berdasarkan perangkat-perangkat yang sudah ada sebelumnya.

Sebagai pribadi tentu, logika itu pun menjadi skala menjadi semacam ukuran. Bagaimana teks (baca; ekologi dan seni) secara material mengungkapkan hakekat dan keberadaan dirinya sendiri. Dan dipasar, secara dimensional nilai bergerak seirama napas dan percepatan ‘pengertiannya’. Pun apa yang dimaksud dengan Ecology and Art, semisal begitu.

Mencermati lingkungan, mencermati seni adalah mencermati kecenderungan, adalah mencermati dan memahami realitas sederhana sehari-hari. Yang membentuk pasarnya. Secara estetik pun, sesungguhnya etika dan moral gagasan dan dunia ide memiliki polanya sendiri., dalam melahirkan respon. Yang kemudian setiap kehadiran antar teks menyepakatinya ‘sebagai’.

Soal lingkungan adalah soal seni. Seni secara matematis pun melahirkan simbol-simbol dan penanda. Tapi lingkungan pada kacamata seni, memiliki tumpuan yang lebih adi kodrati, ketimbang realitas dan angka-angka. Apakah pasar adalah dialektika angka yang secara seni kurang cerdas kita sikapi sebagaimana wadagnya?

Artinya diperlukan tumpuan yang kuat agar realitas dan angka menggenapi pengertiannya. Pun secara politis, ekonomis maupun sosial/budaya.

Lingkungan adalah keniscayaan dari kolom-kolom identifikasi antar teks yang secara politis membangun watak personal sesuai keunikan biotiknya sendiri dalam melahirkan kebudayaan dan pasarnya. Pun angka pada jumlahnya.Tentu setiap tempat, setiap ruang, setiap waktu, setiap posisi, setiap orang pun memiliki motif khasnya.

Khas dunia ide dan gagasan dalam seni yang kemudian melahirkan lingkungan kekinian itu. Persoalannya, kontraksi dan imunitas kita sebagai manusia tidak diimbangi logika-logika yang di khaskan itu. Acapkali kita gagap mendelegasikan realitas sosial pada realitas personal.

Lingkungan melahirkan gerakan, semisal angka, berawal dari nol dst dan kembali ke nol. Dan gerakan melahirkan cara pandang atas tambah-kurangnya. Kesenian pun sama pada hakekatnya, tapi keseimbangan tak meriwayatkan itu sebagaimana deret angka-angka. Sekalipun genapi pengertiannya.

Memerlukan kerelaan dari perasaan ketidakberdayaan secara matematis menyikapi persoalan sosial. Dan bagaimana mencermati perubahan lingkungan yang bergerak seirama dengan ide dan gagasan. Ide dan gagasan adalah eksistensi yang butuh pengakuan. Dan pengakuan adalah nilai.

Maka lingkungan dan seni adalah adalah wujud dari nilai. Nilai-nilai yang konsistensinya di akui. Sebagaimana malam dan pagi, sebagaimana male dan female, sebagaimana hitam dan putih. Yang perimbangannya utuh, bulat dan resistensinya terwakili oleh setiap objek.

Lingkungan dan seni adalah ‘cacat-cela’ realitas ekonomisnya. Tapi melengkapi resonansi dari kontraksi setiap elemen dan materi yang menyertainya. Ia hadir dan genap, ia filosofis sekaligus ideologis. Ia teologis sekaligus politis.

Lingkungan adalah frekwensi paling adaptif dalam merumuskan kepentingan. Sebab lingkungan berpentingan pada seni. Sebagaimana pasar berkepentingan pada angka dan tambah-kurangnya.

Lingkungan adalah metabolisme seni yang selalu berhadap-hadapan, berharap-harapan, sekaligus mencerna setiap kemungkinan menjadi upaya paling subtil dari laku dan watak sosial. Reaksi antar frekwensi ini, memaknai aksi sebagaimana acuan membangun kerangka berfikir. Yang kemudian disepakati sebagai tema besar.

Secara imajinatif, eksotika dunia ide dan dunia gagasan dalam art. Ketika aksentuasi lingkungan dan seni melahirkan persoalan ekonomi. Maka realitas akan menyadarinya sebagai asumsi. Maka nilai agak merunutnya sebagaimana asumsinya. Dan yang berkepentingan akan tampak lebih politis baik secara sosial maupun budaya. Dan secara otomatis lingkungan akan mendelegasikan gagasan dan dunia ide sebagaimana popularitas angka yang dikonsumsi lingkungannya.

Sebagaimana seni memaknai persoalan lingkungan. Seni pada mulanya adalah proses yang dimaksudkan manusia, dan oleh karena itu merupakan sinonim dari ilmu. Seni adalah intisari ekspresi dari kreatifitas manusia. Seni juga dapat diartikan dengan sesuatu yang diciptakan manusia yang mengandung unsur keindahan. Dan ketika secara ekologis, seni sebagai proses memilih medium hanya berisi asumsi-asumsi.

Maka realitas akan membangun komunikasi berdasarkan asumsi-asumsi khasnya itu. Persoalannya apa kekhasan lingkungan dan seni kita dalam memilih medium itu? Jika lebih pada ekonomisnya, maka secara estetika dan etik pun berdasar asumsi. Maka mencermati perkembangan persoalan lingkungan dan seni, mestinya kita lebih cerdas memahami asumsi mistifikasi pasarnya.

Ditulis Oleh : Wing Sentot Irawan (seniman musik/teaterawan dan penulis lepas Lombok Post).

Editor : Ragil Putri Irmalia

Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081553355330 (Telp/SMS/WA)

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

1 Comment

  • B , Oktober 25, 2020 @ 9:10 pm

    demi Allah iklannya ganggu bgt. ga kebaca sebagian gemesss :'(((

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.