Wartapalaindonesia.com, MAKASSAR – Ada pesan dalam seni pada pembukaan TWKM 28 Sulsel kali ini. Pembukan TWKM 28 Sulsel yang digelar pada Senin, 17 Oktober 2016 di Auditorium Universitas Muslim Indonesia Makassar menyisakan renungan.
Pasalnya, peserta TWKM 28 disuguhi ritual Art Pajaga Lino yang di barengi dengan pemberian bibit pohon lontara. Apa gerangan pesan yang ingin disampaikan melalui ritual Art Pajaga Lino?
“Pajaga Lino” adalah Bahasa Makassar, juga Bahasa Konjo. Dalam Bahasa Indonesia berarti “Penjaga Semesta”. Makna yang terkandung dalam istilah “Pajaga Lino” selaras dengan penjelasan Al-Quran bahwa manusia diciptakan untuk menjadi “Khalifah” di muka bumi. Baik Pajaga Lino maupun Khalifah merujuk pada lakon yang sama, menjadi penjaga semesta agar keseimbangan kehidupan tetap tercipta.
“Pajaga Lino” adalah gelar yang resmi disandang oleh manusia terhitung sejak tarikan nafas pertama dilakukan. Dasar dilangsungkannya pengukuhan adalah setelah terciptanya kesepakatan di dalam rahim/kandungan ibu, antara kita dengan Sang Pencipta.
Kesepakatan yang dimaksud, kita sebagai mahluk ciptaan mengakui kekuasaan Sang Pencipta, dan karena itu kita menyatakan bersedia dan sanggup melakukan “penyembahan” selama hidup di atas muka bumi. Penyembahan adalah sisi lain yang harus dilakukan oleh manusia sebagai “Pajaga Lino.”
Lantas apa korelasi antara Pajaga Lino dengan Pencinta Alam?
Diawali dengan suara hentakan tabuh gendang yang langsung membangunkan jiwa, peserta TWKM 28 digugah melalui sebuah fakta yang terjadi saat ini. Mari kita simak kutipannya,
“Mengeringnya peradaban ditandai dengan manusia yang tanpa beban saling menfitnah, menyusun taktik dan siasat untuk saling memusnahkan, saling menghancurkan tanpa timbangan moralitas, norma, dan agama, yang berakibat pada punahnya spirit humanisme dalam peradaban.
Yang paling parah, manusia kemudian menjadi lupa, arah mana yang seharusnya dituju. Mereka berputar-putar tak tentu arah, menerabas dan saling menggilas di setiap perpapasan. Menjelma bak pemangsa yang mengoyak substansi takdir kemanusiaannya sebagai khalifah.”
Lalu, tentang bagaimana menjadi “Pajaga Lino”? “Hadirkan cinta di setiap jengkal semesta,” kata Bung Ichdar Al-Farabi seniman dan pendiri sanggar seni Al-Farabi. Hanya sebuah kalimat singkat dan sederhana, tetapi butuh ketenangan untuk mendalami makna yang terkandung didalamnya.
Kunjungi FB : TWKM 28 Sulsel dan FB : Mapala UMI Makassar
Sebelum itu dilakukan, ajaklah jiwamu menyelami konsepsi eksistensi dan keterkaitan antara Tuhan, alam, dan manusia. “Lihat dan dengarlah dengan jiwamu, di sana ada warna yang berbunyi-ada bunyi yang berwarna, mengalun bersama aliran waktu mengejar kesejatian cinta,” papar Bung Ichdar, dikutip dari akun facebooknya.
Jangan lupa, ajaklah juga empat unsur yang membentuk alam mendekat kearahmu. Biarkan jiwamu mengenali dan merasakan masing-masing kesejatiannya. Rasakan lebih dekat, di sana pun ada warna yang bisa kau dengar, dan ada bunyi yang bisa kau lihat. Warna dan bunyi itu mengalir perlahan, membentuk lekuk kesejatian cinta. Kesejatian yang mengikat keterkaitan antara satu dengan lainnya.
Dengan cinta, “Pajaga Lino” akan menjelma seperti Yin dan Yan dalam peran sebagai penyeimbang semesta. “Pajaga Lino” adalah kita yang memahami dan berlaku bijak terhadap kosmos. “Pajaga Lino” adalah manusia yang memiliki kesejatian cinta terhadap pencipta, dan juga pada semesta.
“Pajaga Lino” adalah kita yang selalu menyeru kebaikan pada semesta. “Pajaga Lino” adalah Ichdar Al-Farabi yang menyajikan cinta dalam kesejatian ide tak berbatas. “Pajaga Lino” adalah mereka yang melukis semesta dengan cinta, Rahmatan lil Alamin.
Hal ini selaras dengan kode etik Pencinta Alam serta peran dan eksistensi Pencinta Alam dalam menjaga dan melestarikan alam. Sederhananya, mengakui ataupun tidak, seorang Pencinta Alam merupakan Pajaga Lino.
Referensi : http://www.lingkardataindonesia.com/2016/08/karena-kita-pajaga-lino.html
Laporan : A. Phinandhita P.
Editor : Ragil Putri Irmalia
Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081553355330 (Telp/SMS/WA)
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)