Wartapalaindonesia.com, LINGKUNGAN – Pernah terfikirkan berapa banyak suatu kawasan hutan bisa menyuplai oksigen bagi penduduk bumi? Apa yang akan terjadi jika hutan Indonesia digantikan oleh tanaman perkebunan? Berapa banyak pohon yang diperlukan untuk menyuplai oksigen bagi satu orang? dan bagaimana cara menghitung oksigen pada satu tumbuhan atau bahkan pada suatu kawasan hutan?
Jika pernah mempertanyakan hal yang sama namun belum pernah melakukan penghitungan rumit seperti itu, ayo sinau bareng MAPENSA menghitung oksigen di suatu kawasan hutan.
Salah satu teknik pengamatan kawasan yang menarik untuk dilakukan adalah penghitungan suplay oksigen yang dihasilkan oleh tumbuhan pada suatu kawasan. Pasti sudah tahu kan, kalau manusia dan hewan membutuhkan oksigen dalam siklus hidupnya? maka dari itu, kita perlu tahu lebih banyak tentang oksigen, tumbuhan, beserta peranannya.
Kali ini, penghitungan oksigen dilakukan oleh anggota MAPENSA angkatan 31 yang sedang menempuh pendidikan terakhir, yaitu Program Mandiri. Pendidikan formal yang wajib diikuti oleh anggota MAPENSA (Mahasiswa Pencinta Alam Semesta) Fakultas Pertanian Universitas Jember meliputi DIKLATSAR (Pendidikan dan Latihan Dasar), DIKJUT (Pendidikan Lanjutan) dan yang terakhir adalah Program Mandiri.
Program Mandiri ini merupakan suatu bentuk pengembangan ilmu yang telah didapat dari pendidikan sebelumnya, dan dilakukan dengan teknik riset (penelitian) mandiri. Sebelum melaksanakan riset, maka ada tahap-tahap riset yang harus dilakukan peserta untuk menjamin hasil dan keabsahan datanya.
Pertama, peserta Program Mandiri harus mencari referensi dan menyusun proposal penelitian. Kedua, mempresentasikan proposal penelitannya kepada seluruh anggota MAPENSA. Ketiga, melakukan pengambilan data di lapangan.
Keempat, pengolahan data yang didapat dari lapang, dan tahap terakhir, peserta Program Mandiri harus mempresentasikan kembali hasil risetnya.
Program Mandiri angkatan 31 MAPENSA yang dilakukan pada 1-4 september di sekitaran teluk nanggelan ini diikuti oleh 5 orang, dengan bahasan riset yang berbeda-beda. Bahasan riset tersebut diantaranya adalah; penghitungan oksigen, penghitungan cadangan karbon, pengamatan burung, dan pemetaan plot pengamatan.
Namun kali ini yang akan kita bahas adalah tentang penghitungan oksigen yang dihasilkan oleh Taman Nasional Meru Betiri, khususnya di teluk Nanggelan.
Luas kawasan teluk Nanggelan, adalah 804 Ha, yang berarti luas minimum plot size (MPS) atau pengambilan luas minimum plotnya adalah 5% dari 804 Ha. Untuk memenuhi 5% luasan minimum plot tersebut, maka pengambilan titik plot dilakukan di 4 punggungan dan 1 vegetasi pantai.
Lokasi titik plot punggungan tersebut diantaranya adalah punggungan Cangakan, punggungan Apollo, punggungan Jambuan, dan punggungan Kahyangan. Pengambilan plot yang berbeda-beda ini juga bertujuan untuk mendapatkan data yang bervariasi dan dapat mewakili seluruh jenis vegetasi dan ekosistem yang ada di teluk Nanggelan.
Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah menggunakan Metode Garis Berpetak. Pada metode ini, setiap plot terdiri atas petak berukuran 20m X 20m (untuk kriteria tegakan pohon), yang didalam kotak tersebut kembali dibagi menjadi kotak 10m X 10m (untuk kriteria tegakan poles), 5m X 5m (untuk kriteria tegakan sapling), dan 2m X 2m (untuk kriteria tegakan seedling).
Pengambilan data ini dilakukan dengan cara mengukur diameter pohon setinggi dada (DBH), menghitung tinggi tumbuhan dengan bantuan busur, dan mengidentifikasi jenis beserta kondisi tumbuhan. Sedangkan penentuan titik plot ditetapkan dengan metode sistematik sampling. Metode ini dipilih untuk menyesuaikan dengan aksesibilitas peneliti.
Setelah pengambilan sampel di lapang, maka langkah terakhir adalah pengolahan data. Dalam proses pengolahan data tersebut, maka perlu melakukan penghitungan data. Penghitungan data ini dilakukan dengan memasukkan data ke rumus biomassa, yang hasilnya didapatkan banyaknya suplai oksigen kawasan terhadap jumlah orang yang membutuhkan oksigen.
Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, bisa disimpulkan bahwa oksigen yang dihasilkan oleh nanggelan dengan luasan ±804 Ha adalah 112.55377 ton/ha. Jumlah oksigen itu terdiri dari vagetasi bambu, vegetasi hutan heterogen, vegetasi pantai, dan vegetasi jambu-jambuan. Dari masing-masing vegetasi tersebut, didapatkan jumlah oksigen yang berbeda-beda.
Vegetasi bambu bisa menghasilkan oksigen sebesar 27.3673 ton/ha. Vegetasi heterogen bisa menghasilkan oksigen sebesar 70.8886 ton/ha. Vegetasi pantai bisa menghasilkan oksigen sebesar 9.98781 ton/ha, dan vegetasi jambu-jambuan bisa menghasilkan oksigen sebesar 4.31006 ton/ha.
Berdasarkan data itu, kita bisa menyimpulkan bahwa vegetasi penyumbang oksigen dalam jumlah terbanyak adalah vegetasi hutan heterogen. Vegetasi hutan heterogen adalah hutan yang terdiri atas berbagai jenis tumbuhan, seperti yang ada pada hutan hujan tropis.
Lalu bagaimana dengan perannya untuk menyuplai oksigen bagi manusia? ternyata kandungan oksigen yang dihasilkan oleh Nanggelan dengan luasan 804 Ha bisa menghasilkan 112.55377 ton/ha.
Jumlah oksigen itu dapat memberikan suplai oksigen kepada 133.992 orang. Jumlah orang tersebut adalah 0,18% dari total penduduk di Kabupaten Jember.
Jika Nanggelan yang memiliki luas 804 Ha saja bisa menyuplai 0,18% dari jumlah penduduk Kabupaten Jember, lalu bagaimana dengan seluruh kawasan Taman Nasional Meru Betiri?
Sedangkan luas keseluruhan Taman Nasional Meru Betiri adalah 58.000 Ha. Bisa dibayangkan berapa berapa besar peran Taman Nasional ini dalam menyupali oksigen bagi penduduk Kabupaten Jember dan Banyuwangi?
Penghitungan semacam ini bukan hanya berbasis data yang tersimpan didalam lemari. Tapi hasil ini akan dapat berguna apabila seluruh orang tahu seberapa besar peranan hutan bagi kehidupan manusia.
Yang pada akhirnya kita semua tahu bahwa menjaga hutan itu penting. Bukan hanya untuk diri sendiri, Tapi untuk kita semua. Bukan hanya untuk saat ini., tapi untuk sekarang dan generasi dimasa yang akan datang.
Ayo sinau bareng Mapensa! Kita berbagi ilmu dan informasi tentang alam dan kearifan budaya lokal di negeri tercinta, Indonesia. Untuk diskusi lebih lanjut, hubungi 0823-3786-4876 (Nurlela Fatmawati)
Laporan : Nurlela Fatmawati (Mapensa)
Editor : Ahmad Nur Fuad
Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081553355330 (Telp/SMS/WA)
Dokumentasi : Mapensa



Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)