Wartapalaindonesia.com, LINGKUNGAN – Saya mahasiswi Fakultas Pertanian di salah satu Universitas Negeri di ujung timur Pulau Jawa. Keseharian saya tidak jauh dengan hal-hal yang berbau pertanian, mulai dari bercocok tanam di sawah, berkunjung ke kelompok-kelompok tani, wawancara ke petani, hingga diskusi model “cangkruk” di warung kopi yang topik pembahasannya masih tak lepas dari pertanian dan lingkungannya. Yah, tidak jauh berbeda lah dengan mahasiswi-mahasiswi lainnya.
Nah, suatu ketika saya melihat tulisan di banner yang terpampang besar didepan gedung dekanat, bertuliskan “Pertanian Berdaulat, Negara Bermartabat”.
Tulisan itu awalnya tak menjadi perhatian lebih bagiku, karena memang banyak tulisan-tulisan semboyan macam itu disekitaran Kampus Hijau ini. Tapi kalimat itu mulai menggelitik ketika akhir-akhir ini saya berkunjung langsung ke petani-petani yang nasibnya ditentukan oleh segelintir orang “berkapital”.
Ini bukan omong kosong yang keluar begitu saja dari mulut saya. Kalau tak percaya, lihat sendiri ini buktinya.

Gambar itu diambil di lahan petani sekitar kawasan Gunung Tumpang Pitu, Banyuwangi beberapa bulan lalu. Tampak seorang petani, lengkap dengan “capil” di kepala dan berdiri diatas lahan pertaniannya. Namun kali ini, ada yang berbeda dengan petani ini. Ia membawa sterofoam bertuliskan “Hutan Kau Gunduli, Sungai Kau Tangguli, Lumpur Meluap Kesawah Kami, Petani Gagal Panen Lagi”.
Kalimat itu sebenarnya menjelaskan bahwa aktivitas konstruksi di atas gunung Tumpang Pitu sebagai upaya pembangunan pertambangan emas ini menimbulkan berbagai ancaman sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Ancaman ini nyata adanya, karena untuk melakukan eksploitasi emas yang terkandung di dalam gunung tumpang pitu, maka terlebih dahulu harus dilakukan pembangunan/konstruksi di atas sana. Tentu saja, pembangunan semacam ini harus menggunduli hutan dalam luasan yang cukup untuk menampung puluhan, bahkan ratusan alat-alat berat dan sejenisnya. Alat-alat berat ini nantinya akan digunakan sebagai mesin penghancur ekosistem gunung tumpang pitu untuk bisa menghasilkan emas.
Selain penggundulan hutan, sungai-sungai juga ditangguli oleh pihak Perusahaan, sehingga buangan lumpur dari aktivitas konstruksi ini tidak terbuang ke laut dan mencemari laut. Sebagai gantinya, lumpur tersebut di alirkan ke lahan-lahan sawah pertanian milik perhutani. Sayangnya, lahan pertanian ini sudah lama disewa oleh petani untuk bercocok tanam.
Meski begitu, yang terkena dampaknya tidak akan cukup hanya milik lahan perhutani, lahan pertanian milik warga secara pribadi juga harus rusak parah akibat banjir lumpur ini.
Berapa besar kerugian yang ditanggung petani setelah adanya terjangan lumpur ini?
Mungkin kita semua bisa memperkirakan kerugian macam apa yang harus ditanggung para petani dari apa yang di ungkapkan oleh SG (47 th) (warga pesanggaran, yang kesehariannya bekerja sebagai petani) dalam percakapannya berikut :
Petani wes ora iso nyapo nyapo ngene iki. Ya wes aku setahun gagal panen empat kali. Isine rugi terus loh mbak. Petani-petani ya gagal panen kabeh ngene iki. Lah lahan seng kenek lumpur iku kurang lebih 150 hektar lo.
Terjemahan: petani sudah tak bisa melakukan banyak hal jika seperti ini. Sudah satu tahun saya gagal panen, dan terus merugi. Petani-petani semua mengalami gagal panen. Lahan pertanian yang terkena buangan lumpur tersebut kurang lebih 150 Ha.
Sudah, angka kerugian dan perhitungan matematisnya di singkirkan dahulu. Sekarang berfikirlah, petani makan apa selama satu tahun terakhir? Sumber mata pencaharian mereka harus ter-renggut dan menyebabkan empat kali gagal panen? Ini sudah akhir tahun 2016 dan akan memasuki tahun 2017, akankah masih tetap mengalami gagal penen di tahun-tahun selanjutnya?
Setahu saya, dari apa yang saya pelajari di bangku kuliah selama hampir 5 tahun ini, tanaman jagung tidak membutuhkan banyak air, apa lagi genangan air. Jika tanaman jagung tergenang air dalam waktu yang cukup lama, maka proses pertumbuhannya akan terganggu bahkan rusak dan mati. Bukan hanya jagung, padi yang terkenal membutuhkan genangan air juga tak bisa tergenang air terlalu banyak jika telah memasuki vase generatif.
Bisa dibayangkan, itu baru air. Lalu bagaimana kalau lahan persawahan digenangi lumpur?? Tanaman di lahan sawah apa yang bisa bertahan dengan genangan lumpur? Ini bukan lumpur alami dari sawah yang timbul setelah aktivitas pembajakan tanah. Ini BANJIR LUMPUR akibat aktivitas dari konstruksi/pembangunan di atas gunung Tumpang Pitu.
Lalu jika pertanian sudah dihancurkan, oleh tangan-tangan besi berkantong tebal apa arti kata “Pertanian Berdaulat, Negara Bermartabat”?
Jika konflik agraria semacam ini pada akhirnya menggusur petani, Apa artinya Upaya Khusus Padi, Jagung, dan Kedelai (UPSUS PAJALE) yang di gembor-gemborkan oleh Bapak Presiden? Walaupun dana yang digelontorkan sungguh bukan jumlah sedikit.
Yang perlu menjadi catatan penting adalah : Ini Masih Tahap Konstruksi, Belum Eksploitasi!!
Jika sudah memasuki tahap eksploitasi, apa kita akan kembali disibukkan dengan pembuangan tailing? Pit (lubang tambang)? yang di berbagai tempat sudah memakan korban dalam jumlah yang tidak sedikit?
Apa Kabar Semboyan “Pertanian Berdaulat, Negara Bermartabat”? mohon saya dibantu berfikir dan menjawab ya.
Tulisan : Nurlela Fatmawati
Editor : Ragil Putri Irmalia
Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081553355330 (Telp/SMS/WA)
Dokumentasi


Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)