Ghatering V SSI Chapter Jatim, Pentingnya Positive Mental Attitude

Wartapalaindonesia.com, PASURUAN – Komunitas Survival Skills Indonesia (SSI) chapter Jawa Timur kembali menggelar ghatering yang ke-5 di Bumi Perkemahan Kakek Bodo, Prigen, Pasuruan (25-27/03). Diikuti sebanyak 27 peserta dari lintas komunitas, datang dari perwakilan organisasi Pencinta Alam, freelance, Korps Suka Rela, Kedinasan, Basarnas hingga peserta dari mancanegara.

Dibimbing langsung oleh coach Michael Antony Ugiono, founder Survival Skills Indonesia yang juga seorang outdoor adventurer, based educator, certified emergency (MFR), water rescue instructor of Bahari Rescue dan tentu saja seorang Survival Expert.

Survival Skills Indonesia (SSI) sendiri merupakan wadah belajar, diskusi dan berbagi bagi sesama penggiat alam bebas dengan fokus meningkatkan kapasitas kompetensi dalam bidang ilmu survival seperti Navigasi, Medical First Responder (MFR) dan Mountaineering, serta ilmu-ilmu yang berkaitan dengan latar belakang banyaknya kecelakaan yang terjadi dalam kegiatan di alam bebas.

Diawali dengan upacara pembukaan pada pukul 10.00 WIB, yang dipimpin langsung oleh Lorenzia selaku ketua pelaksana ghatering SSI Jatim ke-5. Sambutan diberikan oleh Wawan Kimiawan selaku ketua SSI Jatim yang sekaligus membuka ghatering.

“Terimakasih kami sampaikan kepada seluruh peserta, atas animo untuk belajar survival yang datang dari lintas komunitas, Basarnas, dan peserta dari Singapore. Tak lupa kami sampaikan terimakasih kepada media partner Wartapala Indonesia atas supportnya. Jadi mari kita belajar dan selalu siap sedia dalam segala hal, in omnia paratia,” sambut Wawan Kimiawan yang juga anggota Ideru.

Materi pertama mengupas kulit tentang survival psycology yang langsung dipaparkan oleh Michael Antony Ugiono selaku praktisi survival. “Survival merupakan situasi dimana adanya ancaman langsung yang mengamcam kelangsungan hidup seseorang atau kelompok yang terjadi kapan saja dalam segala situasi,” papar om Maic sapaan akrabnya.

Dalam ghatering Survival Skill Indonesia, peserta hanya akan dipaparkan dan dilatih tentang kulit luarnya saja dalam memahami ilmu survival. Hal tersebut cukup bijaksana dimana memahami skills survival harus pelan dan hanya akan didapatkan dari seringnya kita berlatih tentang skills survival.

“Selanjutnya alumni ghatering akan bisa melanjutkan ke tahap basic survival untuk mempelajari kulit dalamnya ilmu survival. Hal itu diperlukan proses belajar mengajar hand on learning, di mana pelatih ikut masuk melatih dan mengajarkan langsung ilmu dan skills survival,” jelas om Maic.

Dari belajar kulitnya saja tentang survival, kami menemukan fakta betapa pentingnya ilmu ini bagi setiap individu dalam segala hal.

Sebab ilmu survival dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, apalagi dalam survival psycology kita diajarkan tentang positive mental attitude (PMA), yang mana dalam menghadapi segala hal yang terjadi dalam hidup kita harus memandang dari sisi positifnya.

Charles Darwin juga pernah mengatakan sebuah frasa dalam teori evaolusi untuk menyebut mekanisme seleksi alam, “bahwa makhluk yang paling bisa bertahan hidup adalah makhluk yang paling bisa beradaptasi dengan lingkungannya (survival of the fittest).”

Dalam konteks survival, individu yang “fit” lebih mungkin selamat menghadapi ujian (kondisi survival) daripada individu yang “tidak bugar”. Sederhananya, “fit” berarti individu yang paling mudah beradaptasi dengan lingkungannya saat ini (kondisi survival).

Apalagi di jaman modern, survival akan semakin berat, kunci utamanya adalah dengan mengatasi tekanan-tekanan yang ada di dalam pikiran kita sendiri. Oleh karena itu, peran kita dalam memiliki sikap mental positif (PMA) sangat diperlukan dalam segala hal menghadapi anomali kehidupan.

Survival sendiri kuncinya adalah menerima keadaan tidak nyaman tersebut, sambil memperbaiki keadaan tersebut,” jelas Om Maic.

“Jika mengeluh, maka akan lebih berat, semua situasi di luar kontrol, lalu yang bisa kita kontrol adalah respon diri terhadap situasi,” lanjutnya.

Sebab itu kunci bahagia atau tidak sangat bergantung pada respon diri kita sendiri, respon positif sangat berkaitan dengan paradigma atau mindset kita dalam memandang suatu hal.

Awali dengan latihan bersyukur terhadap segala hal yang tidak sesuai dengan angan, dan biasakan tidak menyalahkan keadaan ataupun menyalahkan orang lain.

Oleh sebab itu dalam mempelajari positive mental attitude, kita juga akan dikenalkan tentang menghadapi sesuatu yang tidak dapat dikendalikan (lotus of control) dan sesuatu yang dapat dikendalikan (internal lotus of control).

Mempelajari positive mental attitude (PMA) terdengar mengharuskan kita memiliki sifat optimistis dalam menghadapi segala hal, namun dalam kondisi survival akankah optimis bisa menyelamatkan?

Menjawab optimisme alam kondisi survival, om Maic memberi contoh tentang kisah Jim Stockdale yang merupakan seorang perwira militer Amerika Serikat pada perang Vietnam berkat kegigihannya, Jim Stockdale berhasil keluar dari tahanan di “Hanoi Hilton”.

Di hotel prodeo, Jim Stockdale disiksa lebih dari dua puluh kali selama delapan tahun (1965-1973). Dia berhasil menikmati kehidupan terburuknya selama di penjara.

Bahkan mengisi kejenuhan (blank pikiran) dengan melakukan kesibukan (keep playing), Jim Stockdale berhasil membuat kode komunikasi dengan sesama tahanan.

Jim Stockdale mendapatkan penghargan tertinggi dari pemerintah Amerika Serikat dan hikmah dari kisahnya dituliskan oleh Jim Collins pada bukunya Good to Great, disanalah Jim Collins memperkenalkan Stockdale Paradox.

 “Paradox artinya bertolak belakang. Jim Stockdale berkeyakinan bahwa sebrutal apapun situasi yang kita hadapi saat ini, kita harus yakin suatu saat akan menan. Di satu sisi, kita harus siap pada keadaan yang paling buruk (artinya tidak sesuai harapan),” om Maic menjelaskan.

Saat berbincang dengan Stockdale, Jim Collins sempat bertanya, “Siapakah yang tidak akan berhasil?”

“O, itu mudah, orang yang optimis,” jawab Stockdale. Collins terheran mendengarnya, mengingat kisah perjuangan Stocdale ditawanan, sungguh aneh saat Stockdale menjawab bahwa orang yang tidak akan berhasil adalah orang yang optimis.

Collins bertanya lagi, “orang yang optimis? Saya tidak mengerti.” Stockdale menjawab, “orang yang optimis. Mereka adalah orang yang berkata, ‘kita akan bebas pada Natal’. Natal datang. Natal berlalu. Kemudian orang itu berkata, ‘kita akan bebas pada Paskah’ Paskah datang. Paskah berlalu.

Kemudian thanksgiving, kemudian hari Natal akan datang lagi. Dan mereka mati karena patah hati. “Ini adalah pelajaran yang amat penting, jangan sampai optimisme akan menang malah mematahkan anda untuk tidak menerima keadaan paling brutal.”

“Jadi pertahankan keyakinan bahwa Anda pada akhirnya akan menang (selamat). Apapun kesulitan yang terjadi, namun pada saat itu juga, hadapi dan terimalah fakta paling brutal apapun bentuknya,” om Maic menjelaskan.

Dari materi pertama, banyak peserta yang mendapat pencerahan. Salah satunya Alfred Chor, yang merupakan peserta asal Singapore. “Ingin mengupgrade ilmu survival lagi, dan pelatihan di sini sangat bagus,” ucap Alfred Chor yang juga founder School of Path Finding and Survival (SOPAS) .

Setali tiga uang dengan Alfred Chor, Eli yang merupakan peserta dari perwakilan Basarnas Jatim, mengikuti ghatering SSI kali ini adalah sebagai sarana meningkatkan kapasitas dalam disiplin ilmu survival. “Sebab ilmu survival yang diajarkan di SSI selalu update,” ucap wanita asli Medan tersebut.

Saat ditanya, dari manakah ilmu survival SSI di update, om Mice menjelaskan. “Secara ilmiah, kita meneliti dan selalu mengupdate ilmu dari jurnal penelitian dari semua teknik yang berhubungan dengan survival. Meski kiblatnya belum ada, namun disinilah seni belajar ilmu survival yang selalu berkembang.”

Jadi sebagai penutup dari belajar mengupas kulit luar ilmu survival, apakah esensi survival itu sendiri?

“Esensi survival sendiri adalah pro active avoiden, yaitu upaya yang pro aktif untuk mencegah pada kondisi survival,” tutup om Maic.

Sedikit dulu oleh-oleh dari ghatering SSI Jatim kali ini, black out dan oleh-oleh apalagi yang kami dapat dari ghatering SSI? tunggu ulasan selanjutnya. Jadi bagi kita yang hidup di jaman modern ini, untuk apa belajar ilmu survival? Be prepared.

Kontributor : A. Phinandita P.

Editor : Ragil Putri Irmalia

Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081553355330 (Telp/SMS/WA)

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.