Diseminasi Riset : Kajian Sosiologis Gerakan Lingkungan Pasca Reformasi

Wartapalaindonesia.com, ADVOKASI –  In-TRANS Institute (Institute for Strengthening Transition Society Studies) dalam rangka penguatan kapasitas masyarakat sipil menyelenggarakan  acara diseminasi riset  “Kajian Sosiologis pada Gerakan Lingkungan Pasca Reformasi (Studi Kasus Gerakan Konservasi Air di Kota Batu)” di gazebo Wisma Kalimetro, Merjosari, Malang, Kamis (12/10/2017).

“Tujuan diseminasi riset ini adalah untuk menginspirasi gerakan Non Government Organisation (NGO) dan gerakan sosial lain yang bergerak dibidang konservasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan hidup,” tutur Abdul Hafidz Ahmad koordinator acara diseminasi riset In-TRANS Institute

Pembicara yang dihadirkan dalam acara diseminasi riset tersebut yakni Rachmad K. Dwi Susilo Sosiolog dan aktivis lingkungan dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Dengan pembicara pembanding yakni In’amul Musthoffa Direktur In-TRANS institute sekaligus aktifis Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA), dan Saiful Amin Pegiat Sosial.

Dalam acara diseminasi riset yang dipandu oleh A.R Sofyan tersebut dihadiri oleh sekitar 40 peserta yang terdiri dari Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA), Mahasiswa Sosiologi Universitas Negeri Malang, Pelajar SMA negeri 1 Batu, Masyarakat Sipil Kota Batu, Kristen Hijau, serta Malang Corruption Watch (MCW).

Rachmad selaku peneliti gerakan konservasi air di Kota Batu memaparkan mengenai proses perjuangan warga Kota Batu dalam mempertahankan Sumber Mata Air Gemulo.

“Gerakan forum masyarakat peduli mata air di Kota Batu ini berhasil mempengaruhi kebijakan pemerintah lokal karena adanya collective identity yang di bangun dengan motivasi sadar ekologi, keyakinan, jaringan sosial, dan institusi sosial,” ungkap Rachmad dalam pemaparan hasil risetnya.

“Dimobilisasi oleh aktor – aktor yang memiliki sosial kapital yang telah  terbangun sudah dari lama sebelum adanya permasalahan ini, dan aktor tersebut terdiri dari peternak kelinci, petani hingga tokoh agama dan budaya,” lanjut Rachmad.

Melengkapi dari pemaparan Rachmad tersebut, Amin menambahkan kronologi dari krisis ekologi yang ada di Kota Batu, “ekonomi politik adalah salah satu faktor dari krisis Sumber Mata Air dan ekologi yang ada di Kota Batu.”

“Yakni dengan adanya kekuatan pemodal di balik strategi politik dalam pemenangan pilkada sehingga menimbulkan tidak berimbangnya antara pembangunan dengan konservasi,” tambah Amin Pegiat Sosial sekaligus Founder Omah Rakyat Batu.

Sebagai pembanding, In’am memaparkan juga mengenai faktor krisisnya ekologi terutama di Kota Batu dari sudut pandang Makro dan klasifikasi model gerakan lingkungan, “model gerakan lingkungan yang baik adalah gerakan kontra kultural dengan merubah budaya termasuk sistem ekonomi politik agar terhindar dari hukum destruktif kreatif kapitalisme.”

Gerakan lingkungan memang sangat berpengaruh terhadap kelestarian Sumber Daya Alam dan lingkungan. Tanpa adanya sebuah gerakan maka kelestarian Sumber Daya Alam hanya akan menjadi sebuah ilusi.

Kontributor : Agung Wahyu

Editor : Ragil Putri Irmalia

Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081553355330 (Telp/SMS/WA)

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.