Oleh : Muhammad Hizqil Abdillah
Koordinator Forum Mapala Pasuruan Raya, SLH Saunggalih Universitas Yudharta Pasuruan
Wartapalaindonesia.com, PERSPEKTIF – Jika kita menyebut Soe Hok Gie, hampir pasti benak kita akan langsung tertuju pada dua hal: buku hariannya yang mendalam dan kritiknya yang tajam, serta dunia Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala).
Gie – dengan romantisme intelektualnya – telah menjadi semacam “ruh” bagi gerakan Mapala di Indonesia. Ia bukan sekadar simbol pendaki, melainkan simbol perlawanan, keberpihakan pada rakyat kecil, dan integritas moral yang tak tergoyahkan.
Namun hari ini, kita harus berani mengakui sebuah realita: ideologi Soe Hok Gie di kalangan Mapala mulai luntur, atau setidaknya bergeser. Bayang-bayang Gie yang dulu menjadi kompas, kini seperti kabut yang tertiup angin modernitas.
Di Mana Letak Kelunturannya?
Pertama, “Pergeseran dari aktivisme sosial ke rekreasi murni”. Bagi Gie, gunung adalah ruang refleksi untuk kemudian turun dan bergerak.
Dalam catatan hariannya tertulis jelas, “Kami jelaskan apa yang kami lihat. Kami bicara karena kami cinta pada manusia.”
Mapala era Gie adalah organ gerakan mahasiswa yang menggunakan alam sebagai medium pendidikan politik dan karakter. Mereka turun ke jalan, menulis kritik, dan berdiri di garda depan melawan ketidakadilan.
Kini, tidak dapat dipungkiri, banyak unit Mapala yang lebih fokus pada aspek teknis petualangan: mendaki gunung tinggi, panjat tebing, atau susur gua, dengan tujuan utama menaklukkan dan menikmati keindahan alam.
Aktivisme sosial seringkali menjadi program sampingan, bukan lagi sebagai DNA organisasi. Semangat “turun gunung” untuk membela rakyat telah banyak tergantikan oleh euforia “naik gunung” untuk mengumpulkan puncak dan konten media sosial.
Kedua, “Komodifikasi dan budaya pencitraan”. Gie menulis untuk dirinya sendiri, untuk mengkritik dirinya dan zamannya. Saat ini, ekspedisi dan pendakian seringkali dibungkus dengan pencarian sponsor besar dan dokumentasi yang estetis untuk konsumsi publik.
Itu bukan hal yang salah, tetapi ketika pencitraan ini mengaburkan pesan substansial, maka nilai-nilai kesederhanaan dan kejujuran ala Gie menjadi terkikis. Alam, yang bagi Gie adalah guru yang mengajarkan kesetaraan dan kerendahan hati, berpotensi berubah menjadi sekadar latar belakang untuk meningkatkan personal branding.
Ketiga, “Fragmentasi isu dan hilangnya narasi besar”. Pada masanya, Gie melawan rezim otoriter. Musuhnya jelas: korupsi, ketidakadilan, dan penindasan.
Mapala saat ini menghadapi dunia yang lebih kompleks dengan musuh yang lebih abstrak: kapitalisme global, kerusakan lingkungan, dan disinformasi.
Tantangan itu seringkali membuat fokus gerakan menjadi terpecah. Isu lingkungan, misalnya, memang diangkat, tetapi kadang tanpa disertai dengan analisis struktural dan keberpihakan politik yang jelas seperti yang selalu digaungkan Gie.
Apakah Ini Sebuah Kesalahan?
Tidak sepenuhnya. Dunia telah berubah. Mapala adalah produk zamannya. Tekanan akademis, budaya karier, dan lanskap sosial-politik yang berbeda menuntut bentuk adaptasi.
Keahlian teknis dan keselamatan di alam bebas adalah hal yang mutlak dan harus ditingkatkan. Namun, adaptasi seharusnya tidak berarti meninggalkan inti ideologi.
Lantas, Apa yang Harus Dilakukan?
Mapala tidak perlu menjadi “museum Gie” yang kaku. Tetapi, ia perlu menghidupkan kembali roh pemikiran Gie dalam konteks kekinian.
- Reinterpretasi, bukan Reproduksi.Daripada hanya menyitir kata-kata Gie, Mapala perlu mereinterpretasi nilainya. Melawan ketidakadilan hari ini bisa berarti advokasi untuk masyarakat adat yang tergusur, melawan pembangunan yang merusak ekosistem, atau pendidikan literasi digital untuk melawan hoaks.
- Menyinergikan Aktivisme dan Petualangan.Ekspedisi tidak boleh berhenti di puncak. Setiap perjalanan harus dibarengi dengan proyek dokumentasi ilmiah, pengabdian masyarakat di daerah terpencil, atau kampanye konservasi yang nyata.
- Pendidikan Ideologi yang Berkelanjutan.Pendidikan calon anggota (PA) tidak boleh hanya tentang tali-menali dan survival. Diskusi buku, filsafat, sosiologi, dan isu-isu kontemporer harus menjadi porsi wajib untuk membentuk kader yang tidak hanya tangguh di gunung, tetapi juga kritis di tengah masyarakat.
Pada akhirnya, semangat Soe Hok Gie bukan tentang bagaimana cara mendaki yang benar, melainkan “Untuk apa kita mendaki”.
Kelunturan ideologi Gie bukanlah sebuah kepunahan, melainkan sebuah tantangan untuk membuktikan bahwa nilai-nilai integritas, keberpihakan, dan kritik itu tetap relevan.
Mapala modern harus menjawab: bisakah kita menaklukkan tujuh puncak dunia, sambil tetap setia membela suara mereka yang terpinggirkan di kaki gunung sendiri?
Jawabannya terletak pada apakah kita masih mau membaca ulang catatan-catatan Gie, bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai peta untuk melangkah di medan yang baru. (MHA).
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 A
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)