Meru Betiri Service Camp XIX, Konservasi Ada di Dalam Diri

Wartapalaindonesia.com, JEMBER – Meru Betiri Service Camp (MBSC) merupakan agenda rutin yang diselenggarakan oleh Wadah Informasi Pencinta Alam se-eks Besuki (WIPAB) yang bekerjasama dengan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB).

MBSC bertujuan untuk menumbuhkembangkan nilai konservasi kepada generasi muda, menciptakan kader konservasi lingkungan, mempererat hubungan instansi terkait dengan pencinta alam serta mempererat tali persaudaraan antar pencinta alam.

Meru Betiri Service Camp ke XIX dilaksanakan di Bandealit, TNMB, pada tanggal 16-20 Maret 2018 dengan target peserta organisasi pencinta alam dan masyarakat umum yang ingin belajar tentang konservasi.

Kegiatan yang mengusung tema “Hidup untuk Konservasi, Konservasi untuk Hidup” ini dibuka langsung oleh Agus dari  Kepala Seksi Wilayah 2 Ambulu Taman Nasional Meru Betiri di Bandealit, Jumat (16 Maret 2018) pukul 16.00 WIB.

“Meru Betiri Service Camp ini kegiatan yang mulia karena bisa mencetak kader konservasi yang mencintai alam dan dibutuhkan untuk saat ini,” ungkap Agus dalam sambutan yang diberikan.

MBSC ke XIX ini diikuti oleh 101 peserta dari organisasi pencinta alam serta masyarakat umum.

Tokoh-tokoh yang terlibat dalam kegiatan MBSC kali ini yaitu seluruh anggota WIPAB, pihak dari Taman Nasional Meru Betiri, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) serta pihak perkebunan Ledok Ombo (LDO).

Selain tokoh-tokoh yang terlibat dalam kegiatan MBSC ke XIX, panitia juga turut mengundang Unit Pelaksana Teknis terkait (TNMB, BBKSDA Bidang III Jember), pihak perkebunan Ledok Ombo (LDO) dan tokoh masyarakat Desa Bandealit.

Pembicara pada kegiatan ini yaitu Wahyu Giri, Maimunah, Ihsannudin, Happy, Ichuk, Agus, Lia Putrinda, Sarifudin, Fendi Raharjo, Budi, Dony, Deny Mardiono serta Warsono. Masing-masing pembicara memberikan materi sesuai dengan bidang keahliannya.

“MBSC ke XIX berbeda dari tahun sebelumnya, karena kali ini ada materi baru yaitu camera trap, yang digunakan untuk memotret target di hutan”, tutur pria yang akrab disapa Cak Giri.

MBSC ke XIX ini diketuai oleh Akbar Budi Laksono dari Mapala Mapensa Fakultas Pertanian Universitas Jember.

“Dengan dilaksanakannya MBSC harapan ke depannya untuk teman-teman kader yang sudah dibekali materi konservasi akan dapat mengaplikasikan dalam diri mereka sendiri atau organisasi serta masyarakat umum untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya alam dalam kehidupan kita melalui nilai-nilai konservasi,” terang Matyas Catur Wibowo (Blendez), saat dihubungi WI melalui whatsapp, Kamis (22 Maret 2018).

“Mengikuti MBSC dapat memperbarui ilmu konservasi serta memperdalam ilmu yang diperoleh dari Mapala,” ucap Pipit (Cengeng), peserta dari Mapala Mastapala STAIN Pamekasan.

Menurut Kholid, Kepala Taman Nasional Meru Betiri, Konservasi ada di dalam diri kita, Sertifikat dan Kartu Kader hanya sebagai pengakuan saja sebab yang dibawa mati adalah karya.

Kegiatan MBSC ke XIX ditutup oleh perwakilan dari pihak TNMB di Bandealit, Selasa, 20 Maret 2018 pada pukul 10.21 WIB.

Kontributor : Nindya Seva (WI.160009)

Editor : A. Phinandhita P.

Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.