Dikjut Ekowisata, MAHAPASTI Lakukan Penelitian Kearifan Lokal Gunung Api Purba

Wartapalaindonesia.com, YOGYAKARTA – Mahasiswa Pencinta Alam Stipram (MAHAPASTI) melakukan penelitian di Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran Yogyakarta pada tanggal 22 April 2018 bertepatan dengan hari bumi.

Penelitian ini juga merupakan rangkaian acara Pendidikan Lanjut (DIKJUT) Divisi Ekowisata angkatan ke-3. Sebanyak 22 anggota terlibat dalam acara ini terdiri dari 11 peserta DIKJUT dan 11 anggota penuh. Kegiatan ini merupakan tahap kedua setelah pendidikan lanjut ruangan.

Bentuk kegiatan yang dilaksanakan pada DIKJUT lapangan Ekowisata ini adalah mengidentifikasi kearifan lokal Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran.

Kegiatan dimulai pukul 09.45 WIB didampingi oleh Pak Eko Sugiarto dosen Ekowisata STIPRAM. Peserta dibagi menjadi 3 kelompok. 1 kelompok menyebar kuisioner kepada wisatawan, 2 kelompok melakukan pendakian yang ditemani oleh pemandu sebagai narasumber dalam penelitian ini.

Di sepanjang perjalanan pendakian pemandu menceritakan tentang sejarah/mitos tentang objek yang dilewati dan peserta mengidentifikasi data yang telah disiapkan untuk dikonfirmasi dengan penjelasan yang telah disampaikan narasumber.

Terdapat 13 titik lokasi yang menjadi objek penelitian di Kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran, namun tak semua titik diteliti. Menurut Triyanto selaku pemandu mengatakan beberapa titik lokasi sulit untuk diakses dalam pendakian ini dan ada yang berbeda jalur.

Pendidikan lanjut Ekowisata angkatan ke-3 ini mengusung tema kearifan lokal di jalur pendakian Gunung Api Purba Nglanggeran. Alasan mengusung tema kearifan lokal adalah karena kearifan lokal merupakan salah satu unsur yang ada dalam Ekowisata.

Acara ini merupakan pengaplikasian teori tentang Ekowisata Pegunungan dan materi penelitian yang telah dilakukan pada pendidikan lanjut ruangan.

“Sebagai mahasiswa pencinta alam juga harus peka terhadap hal yang berkaitan dengan lingkungan dan pariwisata, karena kami menimba ilmu di kampus pariwisata yang mengetahui bahwa sisi lain pariwisata memiliki dampak buruk terhadap lingkungan,” ungkap Pijen selaku panitia acara.

“Saya rasa Ekowisata dapat menjadi solusi atas dampak buruk tersebut. Selain itu mengapa kearifan lokal menjadi tema dikjut karena budaya merupakan salah satu komponen yang ada pada lingkungan,” tambahnya.

Gembul anggota penuh MAHAPASTI juga menyebutkan, “untuk penelitian ini kita akan jadi tahu kearifan lokal bisa jadi daya tarik di suatu destinasi wisata khususnya ekowisata. Selain itu dapat menjadikan assessment bahwa kearifan lokal itu menarik.”

Ekowisata mengedepankan konservasi lingkungan, dalam komponen lingkungan terdiri dari abiotic, biotic, dan culture. Unsur budaya sangat melekat di Indonesia karena mempunyai beragam kebudayaan. Pariwisata budaya di Indonesia menjadi daya tarik untuk wisatawan domestik maupun mancanegara.

Dengan adanya kegiatan yang seperti ini diharapkan dapat bermanfaat terhadap anggota, masyarakat dan pengelola wisata.

Anggota akan menjadi kader yang membawa perubahan positif khususnya sebagai mahasiswa pariwisata yang juga menjadi anggota mapala dapat menganalisa rumusan masalah yang ada. Pengelola wisata juga akan menyadari bahwa kearifan lokal perlu dipertahankan dan dikembangkan dengan interpretasi kepada wisatawan.

“Kegiatan ini menurut saya menarik, saya dapat manfaat di kegiatan ini seperti lebih paham tentang cara survey lokasi, bagaimana kondisi di lapangan dan pengalaman baru. Semoga di kampus dapat melakukan kegiatan seperti ini,” ujar Bendung peserta kegiatan DIKJUT Ekowisata.

Peserta melakukan kegiatan ini dengan sangat antusias terlihat ketika gigih menanyakan seputar sejarah/mitos kepada pemandu dan berinteraksi dengan wisatawan lainnya. Kegiatan ini ditutup dengan foto bersama di puncak Gunung Api Purba Nglanggeran.

“Harapan kami anggota penuh kedepannya kita dapat sering berkegiatan seperti ini, kegiatan ini membuktikan bahwa naik gunung tak hanya kegiatan yang bersenang-senang semata tapi ada nilai, manfaat, dan tujuan dalam kegiatan ini ada korelasi nya  juga antara pendakian gunung dan pariwisata.” tutur Pijen.

Kontributor || Kharisma Desthalia-MAHAPASTI

Editor || A. Phinandhita P.

Dokumentasi || MAHAPASTI

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.