Rapat Akbar Walhi, Serukan Suara Hati Masyarakat Yang Terancam

Caption foto: Suasana Rapat Akbar dihiasi dengan pemakaian baju adat dari berbagai daerah pada Sabtu (23/3/19) di Hall Basket Senayan. (WARTAPALA INDONESIA/ Vita Jayusman)

Wartapalaindonesia.com, JAKARTA – Rapat Akbar Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) pada Sabtu, 23 Maret 2019 di Hall Basket Senayan. Sejak pukul 09.00 WIB, rapat ini telah dipadati oleh para pejuang lingkungan dari berbagai daerah dengan membawa bahasan konflik di lingkungannya masing-masing.

Selain itu, ada dari beberapa perwakilan Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) yang turut hadir dalam Rapat Akbar ini. Hal tersebut dilakukan untuk mendukung para pejuang lingkungan, serta memantau perkembangan konflik di berbagai daerah yang mengancam keberlangsungan lingkungan hidup.

Terlihat tigginya antusiasme peserta yang hadir dan telah memadati Hall Basket Senayan sejak pagi.

“Saya datang untuk mendukung para pejuang lingkungan hidup yang sudah jauh-jauh datang ke Rapat Akbar ini,” kata Opung, seorang mahasiswi yang bergabung di Mapala Polibisnis.

Salah satu kasus yang juga diangkat dalam rapat akbar ini adalah penyempitan lahan di daerah Donggala, seperti yang diutarakan oleh Iswati kepada Wartapala.

“Saat ini  kami sedang kesulitan lahan. Perkebunan sawit  mengakibatkan sempitnya ruang lingkup kita untuk keberlangsungan hidup. Jangankan untuk bercocok tanam, menguburkan mayat saja kami kesulitan. Di belakang rumah kami sudah sungai, kami khawatir akan longsor,” ungkapnya.

Permasalalahan lingkungan ini dirasa sangat kurang diperhatikan oleh pemerintah. Hal ini menyebabkan kesulitan bagi warga masyarakat untuk mendapatkan haknya. Selain itu, keberlangsungan hidup mereka juga terancam dengan adanya pembangunan-pembangunan perusahaan besar seperti adanya PLTA, peluasan sawit, juga lainnya yang sangat merugikan masyarakat sekitar.

Oleh karenanya Walhi mengaspirasi dan mengakomodir para pejuang lingkungan ini untuk menyuarakan hak dan harapan mereka agar dapat melanjutkan kehidupan dengan layak tanpa merasa terancam.

Seperti yang dipaparkan oleh masyarakat Bengkulu, bahwa tanah adalah harkat martabat bangsa, jadi jika tanah dan Lingkungan kita terus terancam sama dengan merampas harga diri rakyat.

Selain orasi, acara ini juga memberi edukasi melalui pemutaran fiIm yang berjudul “Sendi”. Film ini merupakan sebuah karya seni yang luar biasa.

Akhirnya, Rapat Akbar ini ditutup dengan  folk Populi yang menambah semangat para pejuang lingkungan hidup untuk terus berjuang, demi melindungi lingkungan hidup dan keberlangsungan hidup.

Semoga dengan adanya Rapat Akbar ini, kita bisa bersama-sama menjaga harkat martabat masyarakat lokal dengan menjaga perekonomian juga kelestarian wilayahnya. Sehingga keberlangsungan hidup tetap terjaga dan lestari.

Kontributor || Vita Jayusman, WIJA Jakarta

Editor || Nurlela Fatmawati

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.