Agar Ramadhan Lebih Produktif, Sanggar Banyu Bening Mengadakan Kelas Bahasa Jawa Bertema Sungkeman dan Janur

WartapalaIndonesia.com, SLEMAN – Agar ramadhan lebih produktif, Sanggar Banyu Bening mengadakan Kelas Bahasa Jawa bertemakan Sunur (Sungkeman dan Janur). Kegiatan ini diikuti oleh anggota sanggar beserta pendamping/orangtua. Berlangsung di di Sanggar Banyu Bening, Yogyakarta. Pada Rabu, 25 Februari 2026.

Kelas Bahasa Jawa ini dibagi menjadi dua sesi. Sesi 1: Belajar Sungkeman, diampu oleh Rosalia Haryati, S.Pd. Sesi 2: Belajar Membuat Ketupat, diampu oleh Ludtina Pangestu Eka Nur Utami, S.Pd.

Di sesi pertama, Rosalia menjelaskan bahwa sungkeman adalah prosesi adat yang dilakukan oleh seseorang yang lebih muda kepada yang lebih tua sebagai bentuk penghormatan dan permintaan maaf.

Dalam konteks Hari Raya Idul Fitri, sungkeman biasanya dilakukan oleh anak kepada orang tuanya, di mana anak mengucapkan selamat hari raya dan memohon maaf atas kesalahan dan kekhilafan. Sementara orang tua memberikan maaf dan mendoakan kebaikan untuk anaknya di masa depan.

Rosalia kemudian memandu belajar sungkeman ini dan setiap peserta mencoba satu persatu.

Meskipun moment ini adalah latihan namun suasana mengharukan tetap terasa. Hal ini seperti menjadi sinyal betapa mulianya bila tradisi sungkeman ini terus dilestarikan. Tetap menggunakan basa daerah dalam hal ini basa Jawa supaya ora ilang jawa ne, (Jangan hilang Jawanya).

Pada sessi kedua yaitu belajar membuat ketupat. Sebelum praktek Ludtina (Pengajar Tari) menjelaskan filosofi Janur, yaitu singkatan dari ‘Jati’ (sejati) dan ‘Nur’ (Cahaya), melambangkan hati nurani manusia yang bersih. Janur kuning dalam pembuatan ketupat melambangkan jalan kembali kepada Allah (Cahaya Ilahi).

Ketupat memiliki makna ‘Laku Papat’ (Empat Tindakan) yakni Lebaran (pintu ampunan terbuka). Luberan (melimpah/banyak sedekah). Leburan (dosa habis/melebur). Laburan (menyucikan hati)

Ketupat juga simbol ‘Ngaku Lepat’ (mengakui kesalahan), permohonan maaf tulus atas kesalahan manusia terutama di moment Idul Fitri.

Pada saat praktek membuat ketupat, hampir semua peserta mengalami kesulitan. Namun Ludtina mengingatkan bahwa anyaman rumit itu menggambarkan kesalahan dan dosa manusia, sehingga harus dibuat dengan hati yang bersih.

Kegiatan ini dihadiri pula oleh Ketua Sanggar Banyu Bening, Ibu Sri Wahyuningsih, S.Ag, serta Farid Nur Ramadani, S.Pd dan Diky Rahmaditya Bagaskara, S.Sn, pelatih tari di Sanggar Banyu Bening. Semua melebur dan saling belajar dalam proses kegiatan ini. (**)

Kontributor || Anang, JP
Editor || Danang Arganata, WI 200050

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.