Air Hujan dan Ancaman Mikroplastik: Antara Berkah dan Peringatan Alam

Wartapalaindonesia.com, Jakarta — Fenomena mikroplastik dalam air hujan kembali menjadi perhatian setelah penelitian terbaru yang dilakukan oleh Prof. Muhammad Reza Cordova, M.Si., Ph.D., peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menemukan adanya partikel plastik yang terbawa dan terendap bersama air hujan di wilayah Jakarta Utara.

Temuan tersebut disampaikan dalam acara Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) 2025, yang digelar selama tiga hari, 21–23 Oktober 2025, di The Sultan Hotel, Jakarta Selatan. Dalam kegiatan itu, Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman, Yogyakarta, turut hadir memberikan kontribusi dalam diskusi publik mengenai pemanfaatan air hujan dan isu mikroplastik yang tengah ramai diperbincangkan.

Pendiri Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Sri Wahyuningsih, S.Ag, berkesempatan berbincang langsung dengan Prof. Reza untuk mengklarifikasi isu mengenai kandungan mikroplastik dalam air hujan.

Dalam penjelasannya, Prof. Reza menyebut penelitian ini bermula secara tidak sengaja. “Awalnya saya tidak meneliti plastik, tetapi karena bidang lain sudah banyak dikaji dan pencemaran semakin meningkat, saya akhirnya fokus pada riset mikroplastik,” ujarnya.

Penelitian tersebut dilakukan selama 12 bulan dengan memasang perangkap hujan setinggi 28 meter. Hasil pengamatan menunjukkan terdapat antara 3 hingga 40 partikel mikroplastik per meter persegi per hari, dengan rata-rata 15 partikel. Artinya, di area seluas 1.000 meter persegi, terdapat sekitar 15.000 partikel plastik yang jatuh setiap hari.

Menurut Prof. Reza, partikel-partikel tersebut dapat berpindah ke berbagai wilayah melalui angin, sehingga dampaknya tidak terbatas pada satu kawasan saja. “Air hujan pada dasarnya tetap bersih. Yang berbahaya justru perilaku manusia yang membuang sampah dan memproduksi plastik tanpa pengelolaan,” jelasnya.

Ia menambahkan, ketika hujan turun, air membantu menyapu polutan di udara dan menurunkannya ke tanah. Namun, jika tanah sudah tercemar, polutan itu hanya berpindah dari udara ke permukaan bumi. Dengan kata lain, hujan bukan penyebab pencemaran, melainkan bagian dari proses alam untuk membersihkan udara.

Riset lanjutan yang dilakukan di 18 kota pesisir di Indonesia menunjukkan indikasi serupa, memperkuat dugaan bahwa fenomena mikroplastik di atmosfer telah meluas dan tidak hanya terjadi di kota besar.

“Indonesia adalah cerminan dunia. Jika kita tidak mengelola plastik dan limbah dengan benar hari ini, generasi mendatanglah yang akan menanggung akibatnya,” tegas Prof. Reza.

Ia menilai, persoalan lingkungan bukan sekadar isu kebersihan, melainkan juga ukuran peradaban manusia. “Setiap sampah yang kita buang sembarangan akan kembali kepada kita, entah lewat udara, air, atau tanah,” tambahnya.

Melalui riset ini, Prof. Reza berharap masyarakat memahami bahwa air hujan tetap aman digunakan selama sumber pencemaran plastik dapat dikendalikan. “Hujan adalah berkah, tetapi hanya jika kita mampu menjaga keseimbangan alam,” ujarnya menutup sesi diskusi.

Kontributor || Ainaya Nurfadila
Editor || Wandi Wahyudi, WI 200223

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.