Caption foto : Banjir bandang yang terjadi di Rua, Kota Ternate, dengan korban jiwa dan puluhan rumah yang rusak parah, bencana ini bukan hanya hasil dari kekuatan alam, tetapi juga akumulasi dari berbagai faktor yang memperburuk kerentanannya. (WARTAPALA INDONESIA / Halik Jakrora).
Oleh : Rizqy Tasnima Fadhilah
Mahasiswa S2 Magister Manajemen Bencana
Universitas Airlangga
Wartapalaindonesia.com, PERSPEKTIF – Banjir bandang yang terjadi di Rua, Kota Ternate, pada 25 Agustus 2024, telah menorehkan duka mendalam bagi masyarakat setempat, dan menegaskan perlunya pendekatan baru dalam mitigasi bencana.
Dengan korban jiwa dan puluhan rumah yang rusak parah, bencana ini bukan hanya hasil dari kekuatan alam, tetapi juga akumulasi dari berbagai faktor yang memperburuk kerentanannya.
Rua, yang terletak di wilayah dengan topografi bergunung-gunung dan kemiringan tanah curam, merupakan kawasan yang rentan terhadap hujan lebat akibat iklim tropis dan kondisi vulkanik di sekitarnya. Sungai-sungai kecil yang mengalir di sekitar permukiman, sering tidak mampu menahan volume air yang meningkat drastis saat curah hujan tinggi, menyebabkan meluapnya air dan terjadinya banjir bandang.
Namun, kondisi geografis ini hanyalah salah satu bagian dari masalah yang lebih kompleks. Aktivitas manusia, terutama yang berkaitan dengan pembukaan lahan dan pembangunan yang tidak terencana di sekitar daerah aliran sungai (DAS), telah secara signifikan mengurangi kemampuan tanah untuk menyerap air.
Erosi tanah yang disebabkan oleh deforestasi dan penggundulan hutan di wilayah tersebut mempercepat aliran air permukaan, sementara pembangunan yang tidak ramah lingkungan semakin memperburuk keadaan.
Pengelolaan limbah yang buruk dan pembangunan infrastruktur yang tidak memperhitungkan risiko bencana telah mengakibatkan penyumbatan saluran air, membuat Rua semakin rentan saat hujan deras melanda.
Dalam menghadapi risiko yang terus meningkat ini, diperlukan solusi yang tidak hanya bersifat teknis tetapi juga berkelanjutan dan berbasis komunitas. Salah satu solusi inovatif yang diusulkan adalah implementasi “Sistem Polder Terpadu Berbasis Komunitas”.
Sistem ini menggabungkan pendekatan tradisional dengan teknologi modern untuk menciptakan pengelolaan air yang lebih efektif dan tahan lama.
Polder, yang terdiri dari tanggul, pompa, dan saluran air, dirancang untuk mengendalikan genangan air dan mencegah banjir, sementara keterlibatan aktif masyarakat lokal dalam pengelolaan sistem ini memastikan keberlanjutan jangka panjang.
Pendekatan ini juga mengedepankan prinsip inklusi sosial, dengan memastikan bahwa semua kelompok masyarakat, termasuk perempuan, anak-anak, dan penyandang disabilitas, dilibatkan dalam proses perencanaan dan pelaksanaan. Ini tidak hanya meningkatkan kesadaran akan pentingnya mitigasi bencana, tetapi juga memberdayakan masyarakat lokal untuk lebih siap menghadapi potensi bencana di masa depan.
Integrasi dengan sistem peringatan dini yang dikelola oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga akan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, memungkinkan mereka untuk merespons dengan cepat saat ancaman banjir bandang terdeteksi.
Selain itu, untuk meningkatkan efektivitas mitigasi, sistem polder ini dapat dilengkapi dengan teknologi sensor otomatis yang mampu mendeteksi perubahan volume air secara real time. Sensor ini akan terhubung dengan sistem peringatan dini, memberikan informasi yang cepat dan akurat kepada masyarakat, sehingga mereka dapat mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan.
Vegetasi yang tahan erosi juga dapat ditanam di sekitar polder untuk meningkatkan daya serap air dan mengurangi erosi tanah, memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan dan masyarakat.
Banjir bandang Rua pada 25 Agustus 2024 telah memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya pengelolaan risiko bencana yang komprehensif dan berkelanjutan. Implementasi Sistem Polder Terpadu Berbasis Komunitas merupakan salah satu solusi yang dapat diandalkan untuk mengurangi risiko bencana di masa depan.
Dengan pendekatan yang holistik, inklusif, dan berbasis komunitas, solusi ini tidak hanya akan membantu melindungi masyarakat dari dampak bencana alam, tetapi juga mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. (rtf)
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)