Cerita-cerita Ganjil Para Pendaki dari Lamongan

Caption foto: Foto bersama saat di gunung Arjuno. (WARTAPALA INDONESIA/ Nadiatul Ma’rifah)

Wartapalaindonesia.com, LAMONGAN – Sekelompok pemuda yang berasal dari Lamongan memiliki hobi mendaki. Berjumlah enam orang yang akan mendaki gunung Arjuno. Namun tepat pada hari keberangkatan, salah satu dari teman mereka batal ikut karena kecelakaan.

Dari cerita yang mereka paparkan kepada kami, terdapat beberapa keganjilan dan kejadian aneh yang mereka lewati. Seorang leader dari mereka yang bernama Doni Tri Artha menceritakan awal kejadian secara rinci.

“Perjalan kami awali pada siang hari, awalnya kami sampai di pos perizinan gunung Arjuno Welirang via Tretes. Setelah itu kami selesai mengurus administrasi dan langsung tancap gas! Kami berlima ada saya, Agung, Vicky, Eka, dan Nanda. Di perjalanan, saya yang beberapa kali lewat jalur ini merasa aneh, ketika normalnya berjalan sekian jam menjadi dua kali lipat, entah karena faktor lelah atau faktor lain kami tidak tahu,” ungkapnya.

“Terpaksa kami buka tenda di pos Kokopan (pos 2), disini mulai terjadi hal-hal aneh. waktu saya ambil air, saya merasa ditarik oleh seseorang, tapi tidak ada orang lain kecuali saya di sumber mata air, dan akhirnya seterusnya saya suruh teman saya yang mengambil air ataupun mencuci peralatan masak dan makan! Esok harinya, pukul 03.30 WIB pagi kami memutuskan untuk langsung summit (nekat, yang biasanya camp dulu di pos Lembah Kijang). Tidak ada hal aneh sampai kita berada di Pasar Dieng (Pasar Setan) sekitar 15 menit sebelum puncak!,” lanjut Doni, sapaan akrabnya.

“Salah satu teman saya (Nanda) merasa gak enak badan dan akhirnya dia istirahat, dan bilang gak lanjutin ke puncak. Saya dengan berat hati antara lanjut atau nungguin ini anak! Akhirnya dia maksa kami untuk lanjutin perjalanan karena puncak sudah terlihat (sejajar agak di bawah puncak) maka kami berempat saya, Agung, Vicky, Eka melanjutkan sampai puncak (disini normal tanpa kejadian aneh).Setelah puas menikmati keindahan dari puncak arjuno kami memutuskan turun dan menuju tempat teman kami istirahat! Dan inilah puncak “PRANK” dari Pasar Dieng. Teman kami hilang dengan sangat aneh, tanpa ada jejak apapun! Kami bingung, dan saya sebagai leader sangat2 marah dan menyesal kenapa saya membuat keputusan bodoh untuk melanjutkan ke puncak! Kami mencari hampir satu jam tapi hasil nihil,” jelasnya.

“Dan akhirnya kami memutuskan turun, dan berharap agar teman kami ada di pos Lembah Kijang! Di perjalanan, saya berteriak namanya, memanggil, dan usaha apalah agar ada tanda darinya! Saya masih terbayang apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana bisa terjadi, dan saya hampir putus asa! Dan sampailah kami di Lembah Kijang, dan ternyata? Teman kami tidak ada disana, saya tanya ke pendaki lain, tidak ada yg melihat! Dan disitulah saya sempat menangis sedikit! Setelah beberapa saat menunggu, saya agak sedikit kaget ada yg memanggil nama saya, saya tunggu, dan akhirnya dia terlihat diatas Lembah Kijang. Saya menangis gembira, saya hampiri dia, saya peluk, saya pukul dia! Saya tanya dia dari mana saja dan dia menjawab seakan tidak terjadi apa-apa. Dia hanya menjawab bahwa dia dibangunkan oleh seorang kakek-kakek dan di suruh turun,” tutur Doni.

“Ini pertama kalinya dia kesini, entah karena alam masih sayang, dan Allah masih mengizinkan dia pulang ke rumah, Alhamdulillah dia bisa kembali bergabung dengan kami. Saya sempat kaget juga ketika dia bilang bahwa dia turun dari atas pukul 11.30 WIB, normalnya dari Pasar Dieng ke Lembah Kijang untuk turun butuh waktu 2-3 jam, tapi dia hanya setengah jam. Karena pada saat itu saya lihat jam menujukkan pukul 12 kurang beberapa menit. Saya sendiri turun dari puncak pukul 09.00 WIB sampai Lembah Kijang pukul 10.30 WIB (bisa dibayangkan sendiri),” imbuhnya.

“Dan akhirnya saya sudahi pembicaraan aneh tadi, saya ajak mereka ke pos Pondokan (pos  3) untuk sekedar beli snack di warung milik penambang belerang. Setelah itu kami turun, karena saya mengejar waktu untuk masak, kami putuskan 2 orang duluan (saya dan Vicky), Agung, Eka dan Nanda jalan pelan-pelan bersama pendaki lain! Dan akhirnya gangguan kembali terjadi saat maghrib tiba, di perjalanan saya merasa sudah lewat jalan ini, akhirnya saya hitung tiap tempat yang sudah saya lewati. Sudah lima kali saya melewati tempat yg sama, jalan yang sama tanpa ada satu pun pendaki yang naik ataupun turun!,” lanjutnya.

“Saya sudah habis kesabaran saya teriak sekencang kencangnya, dan akhirnya saya baca beberapa surat Al-Qur’an biar agak tenang, dan akhirnya tidak lama kami berdua sampai di Kokopan, dan anehnya teman saya nyusul beberapa menit di belakang saya (padahal saya dan Vicky gaspol alias lari biar cepet sampe). Setelah itu semuanya normal, kami masak makan dan akhirnya tidur lelap! Keesokan harinya, hampir tidak ada kejadian aneh sampai kami kembali ke Lamongan, dan akhirnya kami sampai di rumah masing-masing dengan selamat,” tutupnya di akhir cerita.

Cerita keganjilan-keganjilan yang diungkapkan oleh pendaki tersebut tentunya mengajarkan kita untuk lebih mawas diri dan menjaga sikap ketika berada di alam, dan tentuya selalu menjaga alam serta tidak merusaknya.

Kontributor || Nadiatul Ma’rifah, Universitas Negeri Surabaya

Editor || Agung Wahyu Utomo, WI 170015

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: