Ekowisata Bukan Wisata Alam

Wartapalaindonesia.com, SURABAYA – Seminar Ekotourism bertajuk Conservation Through Responsible Turism dalam rangkaian Wanala Nature Festival (WANAFEST) 2016 berlangsung kemarin (10/4) di Aula Kahuripan, Gedung Rektorat, Kampus C Universitas Airlangga.

Dalam seminar yang membahas tentang pariwisata dan lingkungan itu, menghadirkan pembicara Nurdin Razak, fotografer alam bebas dan praktisi ekowisata, Erni Suyanti, dokter hewan yang aktif dalam konservasi, dan Annisa Rahmawati, juru kampanye hutan Greenpeace Indonesia.

“Ekowisata itu bukan wisata alam. Kebanyakan salah mengartikan ekowisata itu yang objeknya alam. Padahal alam itu bukan objek. Alam itu subjek, yang memiliki kita. Dan ekowisata itu yang menerapkan tiga hal, konservasi, ekonomi lokal, dan edukasi lokal,” ujar Nurdin Razak, yang juga dosen Universitas Airlangga itu.

Lebih lanjut, Nurdin Razak menjelaskan bagaimana kondisi pariwisata Indonesia saat ini, yang justru jauh dari konsep ekowisata dan jatuh ke tangan orang asing, bukan penduduk lokal. Seperti Pulau Moyo yang pantainya sudah dibeli orang Perancis dan mendirikan resort di sana, padahal Pulau Moyo merupakan kawasan konvervasi di Nusa Tenggara Barat. Kemudian Desa Ranupani dan sampahnya yang luar biasa, dan bagaimana kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang seperti negara di dalam negara.

“Ini ada yang salah sebenarnya. Tempatnya terkenal sampai ke penjuru dunia, penduduk lokalnya masih jadi keset di negeri sendiri,” ujar pria yang 13 tahun mengelola Desa Wonorejo di Taman Nasional Baluran sebagai ekowisata itu. Mnurutnya, tidak ada pariwisata di Indonesia yang mengarah ke ekowisata.

Indonesia memiliki segalanya dalam pariwisata. Mulai dari alam, budaya, hingga kuliner. Tidak perlu harus membangun atau mencari hal lain, yang perlu dilakukan adalah menjaga semua itu. Menerapkan ekowisata tidak hanya untuk mendukung masyarakat lokal, tetapi juga langkah lebih peduli dengan lingkungan.

“Seperti kapal pinisi. Kapal yang kehebatannya sudah terkenal di dunia. Sekarang teknik kelautan mana yang ada kuliah tentang kapal pinisi ? Padahal itu salah satu warisan budaya yang berharga. Orang Eropa datang ke  Indonesia buat belajat membuat kapal. Tapi di negeri sendiri semakin terlupakan,” imbuh Nurdin Razak.

Laporan : Ragil Putri Irmalia

Editor : A. Phinandhita P.

Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081553355330 (Telp/SMS/WA)

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.