Ekspedisi Gunung Hutan Natural Forum Angkatan XV IAI SEBI

Oleh: Humas Natural Forum IAI SEBI
Anggota Natural Forum IAI SEBI

Wartapalaindonesia.com, FEATURE — Anggota Muda Natural Forum IAI SEBI Angkatan XV telah menyelesaikan Ekspedisi Divisi Gunung Hutan dengan tema yang kita angkat “Survive the Wild, Share the Truth”, para anggota memilih Gunung Gede jalur Selabintana sebagai lokasi kegiatan Ekspedisi Gunung Hutan Angkatan XV Natural Forum.

Kegiatan yang berlangsung selama seminggu pada tanggal 07–13 September 2025 ini bukan sekadar perjalanan menuju puncak, melainkan proses pembentukan karakter, menumbuhkan solidaritas, dan mengasah kepedulian terhadap alam.

Gunung Gede dipilih dengan pertimbangan yang matang. Kawasan ini merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) yang menyimpan keindahan sekaligus tantangan tersendiri. Jalur Selabintana dikenal dengan hutannya yang rapat, kontur jalur yang panjang dan terjal, serta kondisi cuaca yang kerap berubah cepat menjadikannya lokasi ideal untuk uji ketahanan fisik dan mental para peserta ekspedisi.

Jalur Selabintana sendiri dikenal sebagai trek paling sepi dan paling “liar” di Gunung Gede. Suasana hutan tropisnya terasa sangat autentik, menyuguhkan vegetasi yang sangat lebat, trek yang sering berlumpur, serta kelembapan yang cukup tinggi.

Kesunyian di jalur ini memberikan kesempatan langka untuk merasakan heningnya rimba, rimbunnya pohon-pohon raksasa dan kemungkinan sesekali melihat jejak satwa endemik khas Jawa Barat, seperti Owa Jawa atau jenis burung langka yang menghuni kawasan TNGGP. Intinya, jalur ini benar-benar menyajikan sensasi ekspedisi yang sesungguhnya.

Awal Perjalanan: Dari Persiapan Hingga Pelepasan

Rangkaian ekspedisi diawali dengan upacara pelepasan resmi di kampus, disertai sambutan dari perwakilan lembaga kampus IAI SEBI, Ketua umum Majelis Musyawarah Mahasiswa, Presiden BEM KBM IAI SEBI dan Ketua Umum Natural Forum.

Dalam arahannya, ketua umum Natural Forum menegaskan bahwa ekspedisi bukan hanya tradisi, tapi merupakan wadah pembelajaran nyata untuk membangun kedisiplinan, tanggung jawab, dan kebersamaan.

Sebelum keberangkatan, para peserta telah menjalani pembekalan intensif, mulai dari latihan fisik, menyiapkan logistik, manajemen gizi, pertolongan pertama, dan pengulasan materi navigasi darat hingga survival di alam bebas. Seluruh persiapan dilakukan untuk memastikan tim siap menghadapi medan dan situasi lapangan yang penuh ketidakpastian.

Menembus Hutan, Menyatukan Langkah

Perjalanan dimulai dari basecamp Selabintana menuju pos demi pos yang penuh tantangan. Jalur licin, akar-akar besar, dan udara yang cukup tipis dengan diselimuti kabut. Namun di balik beratnya langkah, tumbuh rasa saling percaya dan dukungan antar anggota.

Setiap malam di tenda menjadi ruang berbagi cerita, evaluasi, dan tawa ringan yang menghangatkan di tengah suhu dingin pegunungan. Kami belajar bagaimana saling menopang ketika salah satu di antara kami mulai lelah. Di sini, solidaritas bukan teori tapi tindakan nyata.

Selain pendakian, tim juga melakukan pendataan jalur dan pengamatan sampah di sepanjang jalur. Hasil dokumentasi ini nantinya menjadi bahan kajian untuk divisi Gunung Hutan sebagai bentuk kontribusi ilmiah terhadap konservasi kawasan TNGGP.

Operasi Bersih: Bukti Nyata Cinta Alam

Ada satu keresahan besar yang mengganggu perjalanan tim yaitu kondisi sampah yang kita temukan di kawasan Gunung Gede. Sebagai bagian dari tanggung jawab lingkungan, dan wujud nyata dari tema kami “Share the Truth”, tim melaksanakan Operasi Bersih.

Tim berhasil mengumpulkan sampah organik dan anorganik sebanyak kurang lebih 10 karung sampah, khususnya di pos Simpang Gemuruh dan sepanjang jalur selabintana. Kegiatan ini membagikan pesan bahwa mencintai alam berarti menjaga kebersihannya.

“Menjaga alam bukan sekedar tidak merusak, tapi juga membersihkan luka-lukanya dari sisa ketidakpedulian manusia.”

Bakti Sosial

Setelah turun dari gunung tim juga mengadakan kegiatan bakti sosial di desa sekitar membantu warga membuat pagar sungai. Pagar ini sangat penting karena berfungsi sebagai penahan agar air sungai tidak mengikis tepi lahan warga, sekaligus mengamankan area sekitar.

Selama beberapa jam, tim Anggota Natural Forum bekerja sama dengan warga, estafet memindahkan batu-batu sungai. Kerja sama ini menjadi momen berharga yang tidak hanya membantu perbaikan infrastruktur desa, tetapi juga mempererat hubungan sosial dan menunjukkan komitmen tim untuk memberi dampak positif.

Interaksi sosial yang hangat juga terus dilakukan melalui wawancara singkat dan mengedukasi mengenai pentingnya menjaga kelestarian hutan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa nilai Ekspedisi ini bukan hanya sekedar menjelajah, tetapi juga berbakti pada lingkungan dan komunitas sekitar.

Hasil Wawancara

Perjalanan kami di jalur Selabintana, Gunung Gede, tidak hanya membawa cerita tentang pendakian dan keindahan alam, tetapi juga tentang kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Di kaki gunung, tepatnya di Desa Perbawati, kami bertemu dengan Bapak Mahpudin. Dalam wawancara, beliau bercerita bahwa Gunung Gede bagi warga bukan hanya tempat wisata atau pendakian, melainkan sumber kehidupan.

Dari gunung inilah mata air mengalir, memberi kehidupan bagi ladang, ternak, dan seluruh warga desa. “Kalau hutan rusak, air juga akan hilang,” ujarnya pelan tapi tegas.

Dulu, masyarakat masih memegang kuat tradisi menjaga hutan tidak menebang pohon sembarangan dan selalu menjaga kebersihan lingkungan. Kini, meski sebagian tradisi mulai pudar, semangat itu tetap dijaga lewat kerja bakti dan kegiatan gotong royong warga. Tantangan baru mulai muncul, seperti berkurangnya sumber air, longsor kecil, dan tumpukan sampah di sungai yang menyebabkan banjir di beberapa titik.

Masyarakat Desa Perbawati hidup dari hasil bumi: beternak kambing dan ayam, serta menanam daun suji dan cibeling yang bahkan diekspor ke luar daerah. Namun di balik kesederhanaan itu, mereka memiliki kesadaran ekologis yang tinggi. “Yang penting jangan dirusak yang sudah ada,” pesan Bapak Mahpudin.

Bagi beliau, kegiatan ekspedisi seperti yang dilakukan Natural Forum memiliki makna lebih dari sekedar perjalanan. Beliau berharap dokumentasi dan acara seperti ini bisa menjadi contoh bagi generasi muda untuk mengenal alam, menghormati ciptaan-Nya, dan meneruskan semangat pelestarian lingkungan.

“Jaga kelestarian alam, jangan buang sampah sembarangan,” imbuhnya.

Kesan kami, Desa Perbawati bukan hanya gerbang menuju Gunung Gede, tapi juga ruang belajar tentang bagaimana manusia dan alam bisa hidup berdampingan dengan saling menjaga. Dari sinilah kami belajar bahwa ekspedisi bukan sekadar menaklukkan puncak, tetapi memahami akar kehidupan di bawahnya.

Editor || Wandi Wahyudi, WI 200223

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.