Caption foto: Foto bersama anggota Gempa IAIN Samarinda dan anak-anak di Loa Kumbar. (WARTAPALA INDONESIA/ Rido Fadillah)
Wartapalaindonesia.com, SAMARINDA – Tertinggal, merupakan satu kata yang menggambarkan kondisi kampung Loa Kumbar. Lokasinya tidak terlalu jauh dari pusat kota dan merupakan daerah paling ujung di Kota Samarinda.
Loa Kumbar berbatasan langsung dengan Kutai Kartanegara (Kukar). Kampung ini terletak di daerah terpencil Ibu Kota Provinsi Kalimantan Timur, tepatnya di Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda.
Memiliki luas wilayah sekitar 50 hektar, untuk menuju ke Loa Kumbar bisa melalui dua akses. Pertama, jika menggunakan akses laut penyebrangan Sungai Mahakam, maka dari pelabuhan Loa Duri ke Loa Kumbar menempuh waktu sekitar 15 menit. Kedua, jika melalui akses darat memerlukan sekitar satu jam perjalanan dari pusat kota.
Kawasan yang dihuni sekitar 300 jiwa ini masih melekat dengan sebutan desa, meski secara administratif kawasannya termasuk di dalam Kota Samarinda. Kurangnya fasilitas pendukung seperti akses jalan, kesehatan, air bersih, hingga pendidikan sangat timpang dengan apa yang ada di pusat kota.
Minimnya perhatian dari pemerintah kota membuat beberapa permasalahan terjadi di daerah tersebut. Pemasalahan yang ada diantaranya ialah akses jalan yang rusak dan curam, fasilitas dan gedung kesehatan yang tidak tersedia, fasilitas pendidikan yang kurang memadai, dan tempat pembuangan sampah yang tidak tersedia di sana.
Tidak adanya tempat pembuangan sampah yang tersedia, membuat masyarakat membuang sampahnya di sungai. Tentunya hal tersebut akan berdampak buruk bagi lingkungan. Seperti pencemaran air sungai, mengganggu ekosistem sungai, dan membuat air meluap ke rumah-rumah jika sedang terjadi hujan dan air pasang hingga dapat mengakibatkan bencana banjir.
“Karena fasilitasnya tidak ada jadi bingung harus membuangnya kemana. Kebanyakan masyarakat melakukan jalan pintas yaitu membuang sampah-sampah rumah tangga ke laut dan ada juga yang membakarnya. Tapi ya keduanya sama-sama tidak tepat dan berefek tidak baik untuk lingkungan,” ucap Ardiansyah, Ketua RT Loa Kumbar.
Masyarakat Loa Kumbar sangat berharap kepada pemerintah, khususnya Wali Kota Samarinda agar dapat berkunjung dan melihat kondisi masyarakatnya yang tinggal disana. Tak hanya itu, masyarakat juga berharap adanya pembangunan infrakstruktur yang dapat menunjang kesejahteraan masyarakat baik itu ekonomi, kesehatan, pendidikan dan sebagainya.
Untuk menumbuhkan rasa peduli terhadap lingkungan, Gerakan Mahasiswa Mahasiswa Pecinta Alam (Gempa) IAIN Samarinda khususnya angkatan 19 melakukan kegiatan yang bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat Loa Kumbar. Adanya pemberian edukasi diharapkan agar masyarakat lebih memperhatikan dan peduli kepada lingkungannya.
Gempa IAIN Smaarinda mengajak masyarakat berdiskusi untuk lebih memperhatikan lingkungan. Selain masyarakat, anak-anak Loa Kumbar juga sengaja diajak dan diberikan edukasi dengan cara memberikan materi lingkungan hidup dengan konsep yang berbeda.
Materi yang diberikan kepada anak-anak adalah bagaimana cara memanfaatkan sampah plastik untuk dijadikan berbagai macam kerajinan, seperti mainan. Selain itu juga memberikan pemahaman agar tidak membuang sampah sembarangan.
Materi-materi tersebut dikemas menggunakan permainan atau games sesuai dengan umur mereka. Penyampaian materi dengan cara tersebut supaya lebih mudah dipahami dan dicerna dengan baik oleh anak-anak Loa Kumbar.
Adanya kegiatan dalam bentuk sosialisasi lingkungan yang dilakukan bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait dampak membuang sampah ke sungai. Sosialisasi ini terkait cara pengolahan dan atau pemanfaatan sampah diberikan agar ke depannya masyarakat Loa Kumbar dapat mengurangi pembuangan sampah langsung ke sungai.
Pengurangan pembuangan sampah ke sungai yaitu dengan cara mengolah dan memanfaatkan sampah. Jika masyarakat bisa menerima dan memahami apa yang disosialisasikan, maka tujuan dari sosialisasi ini dapat terealisasikan.
Menjaga dan memelihara kebersihan lingkungan ke depannya akan menjadi kebiasaan bagi masyarakat. Lantaran, memelihara kebersihan Loa Kumbar bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, tetapi seluruh elemen masyarakat.
Selain permasalahan lingkungan, fasilitas pendidikan yang ada di Loa Kumbar juga minim. Sekolah Dasar Fillial No. 005 Desa Loa Kumbar Kelurahan Loa Buah Kecamatan Sungai Kunjang merupakan satu-satunya sekolah yang berada di sana.
Bangunan dari sekolah ini adalah bekas pabrik tambang kayu yang pernah beroperasi di Loa Kumbar. Setelah perusahaan tersebut tidak beroperasi sejak lama, akhirnya bangunan tersebut dijadikan sekolah. Hanya sebatas bangunan bekas pabrik tambang kayu, tentu saja keadaannya kurang layak jika digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
Sekolah tersebut memiliki empat ruangan kelas. Jumlah siswanya kurang dari 50, serta jumlah pengajarnya hanya 9 orang.
Melihat kondisi tersebut, anggota Gempa berinisiatif melakukan open donasi buku. Kemudian buku-buku tersebut akan didonasikan ke perpustakaan sekolah.
Adanya donasi buku ini dilakukan dengan harapan, agar anak-anak Loa Kumbar memiliki semangat untuk membaca buku dan memiliki pengetahuan yang luas. Sehingga mereka dapat membuktikan bahwa berada di desa yang dikatakan tertinggal, tidak akan membuat ilmu pengetahuan merekapun ikut tertinggal.
Salah satu guru, Rossy Andriani, menerima langsung bantuan sejumlah 180 buku. Proses penerimaan buku tersebut disaksikan langsung oleh beberapa tokoh masyarakat. Dengan harapan buku-buku yang diberikan dapat bermanfaat untuk anak-anak Loa Kumbar.
“Terima kasih atas bantuan dan kepeduliaan kalian terhadap anak-anak Loa Kumbar. Saya senang jika ada mahasiswa yang memiliki rasa peduli seperti ini,” ungkap Abdullah, Kepala Sekolah.
Tak berhenti di situ saja, kegiatan dilanjutkan dengan merapikan perpustakaan serta kerja bakti bersama anak-anak Loa Kumbar. Kegiatan ini dilakukan agar lingkungan sekolah terlihat lebih indah, sehingga memberikan rasa nyaman saat melakukan kegiatan pembelajaran.
“Semoga dengan adanya kegiatan ini, kita semua dapat mengambil contoh positif dari masyarakat Loa Kumbar yaitu terus berjuang walaupun kurang dilihat, dan terus berjalan maju meski tak ditopang,” harap Rido Fadillah, Ketua Panitia.
Rido juga berharap agar pemerintah lekas sadar dari acuhnya, dan memberikan apa yang sedang dibutuhkan oleh Masyarakat Loa Kumbar.
“Kami juga berharap semoga masyarakat Loa Kumbar dapat merealisasikan apa yang telah kami sosialisasikan. Tentunya, untuk lebih peduli terhadap lingkungan, bersama-sama menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah langsung ke sungai,” pungkasnya.
Kontributor || Rido Fadillah, WI 200222
Editor || Dewi Ayuningtyas, WI 190042
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)