WartapalaIndonesia.com, SLEMAN – Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman dalam upayanya melakukan pembinaan Pramuka Penegak dan Pandega di bidang lingkungan hidup, menyelenggarakan Latihan Krida Saka Kalpataru dengan tema “Pengenalan serta Penjelasan Mengenai Manfaat Air Hujan”, di Sekolah Air Hujan Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada 12 Juli 2025.
Latihan Krida Saka Kalpataru adalah kegiatan yang diselenggarakan oleh Satuan Karya (Saka) Kalpataru, yang merupakan bagian dari Gerakan Pramuka, untuk memberikan pembekalan pengetahuan dan keterampilan khusus kepada anggota Pramuka Penegak dan Pandega terkait lingkungan hidup. Latihan Krida kali ini dihadiri 40 Penegak dan Pandega.
“Latihan itu berfokus pada tiga krida utama yakni Krida 3R atau Reuse, Reduce, Recycle, kemudian Krida Keanekaragaman Hayati, dan Krida Perubahan Iklim,” ungkap Ketua Dewan Saka Kalpataru Rizki Mario Pamungkas.
Senada, Pimpinan Saka Kalpataru Dewi Setyowati, ST. M. Eng, dalam sambutannya berharap agar kegiatan program kampung iklim itu dapat melakukan adaptasi dengan perubahan iklim, mitigasi perubahan iklim, dan dukungan keberlanjutan pada perubahan iklim.
Dalam program Pelatihan Krida di Sekolah Air Hujan Banyu Bening ini lanjut Dewi, masuk dalam adaptasi perubahan iklim. Bagaimana kita bisa adaptasi atau menyesuaikan diri terhadap dampak yang terjadi di lingkungan kita, terutama terkait pengendalian kekeringan, banjir dan longsor. Salah satu upaya dan solusinya adalah dengan Konsep 5M (menampung, mengolah, minum, menabung, mandiri) air hujan.
Pemanfaatan air hujan ini sangat menarik untuk diaplikasikan di seluruh Indonesia sebagai negara tropis yang berada dekat garis khatulistiwa, yang membuatnya memiliki iklim tropis dengan ciri khas suhu hangat sepanjang tahun dan dua musim yaitu musim hujan dan kemarau.
Para peserta mendapatkan materi langsung oleh Sri Wahyuningsih, S.Ag sebagai Founder Sekolah Air Hujan yang pernah meraih penghargaan “KEHATI AWARD” 2024 bidang Climate Change.
Dalam kesempatan ini lumbung air harus dilakukan oleh semua orang untuk menjaga ketersediaan dan Keberlanjutan hidup yaitu dengan menampung air hujan dan mengembalikan (memasukkan) air hujan ke dalam tanah secara sadar atau disengaja. Paling utama “stop” (berhenti) eksploitasi air tanah dan menggunakan air yang berlebihan.
Kunjungan Saka Kalpataru kali ini juga diajarkan merangkai/merakit IPAH (Instalasi Pemanen Air Hujan) dan elektrolisa alat untuk meningkatkan kualitas air hujan yang bagus menjadi lebih berkualitas dengan di pecahnya 2 partikel menjadi Air Asam dan Basa sebagai Manfaat yang luar biasa di kehidupan ini yang langsung didampingi oleh Sapto Wahyu Buwono, (Volunteer Rain Water) Sekolah Air Hujan Banyu Bening.
Setelah itu ada pengecekan air masing-masing peserta yang dibawa dari rumah. Kualitas air hujan tidak ada tandingannya karena minim bakteri e-coli bahkan zero.
Kontributor || AJ. Purwanto
Editor || Danang Arganata, WI 200050
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)