Wartapalaindonesia.com, Bandung— Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Bekasi (Kapemasi) Bandung menemukan persoalan irigasi sebagai salah satu masalah utama yang dihadapi masyarakat dalam pelaksanaan Bulan Bakti 2026.
Persoalan tersebut terutama terjadi pada Irigasi Bulak Mangga yang saat ini tidak berfungsi optimal sehingga distribusi air ke lahan pertanian masyarakat terganggu.
Temuan tersebut diperoleh dari rangkaian penelitian dan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan Kapemasi Bandung pada 1–26 Agustus 2026. Kegiatan berlangsung di Kecamatan Sukawangi, Muara Gembong, dan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, dengan Desa Sukatenang sebagai lokasi posko kegiatan.
Bulan Bakti merupakan salah satu program prioritas Kapemasi Bandung sebagai organisasi daerah. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun daerah asal sekaligus mengimplementasikan ideologi Trimatra dan melaksanakan pengabdian sebagai bagian dari Tridharma Perguruan Tinggi.
Sebanyak 25 mahasiswa asal Bekasi yang menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi di Bandung Raya mengikuti kegiatan tersebut. Rangkaian Bulan Bakti meliputi penelitian kondisi lingkungan dan masyarakat, pengajaran di sejumlah sekolah, pengabdian kepada masyarakat, serta penyusunan naskah akademik.
Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, tidak berfungsinya Irigasi Bulak Mangga membuat distribusi air menuju lahan pertanian masyarakat tidak berjalan optimal. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian petani bergantung pada sistem pertanian tadah hujan.
Ketika curah hujan tidak mencukupi, sebagian lahan pertanian sulit digarap. Akibatnya, frekuensi tanam dan panen petani menjadi terbatas.
Sebagian petani menggunakan pompa dan genset sebagai sumber pengairan alternatif. Ada pula petani yang melakukan penyiraman secara manual. Penggunaan sumber air alternatif tersebut membuat petani harus mengeluarkan biaya dan tenaga tambahan.
Kondisi serupa juga ditemukan di Desa Sukamekar. Lahan sawah di wilayah tersebut berada relatif jauh dari sumber irigasi primer, seperti Kali Cikarang Bekasi Laut, maupun sumber pengairan nonteknis seperti Kali Bekasi.
Keterbatasan ketersediaan air juga mendorong sebagian petani mengubah jenis tanaman yang dibudidayakan dari padi menjadi palawija atau hortikultura. Kondisi tersebut turut berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat yang bergantung pada sektor pertanian.
Warga berharap Irigasi Bulak Mangga dapat kembali berfungsi melalui normalisasi saluran. Kong Misun, salah seorang sesepuh masyarakat, mengatakan lahan pertanian yang dikelolanya selama ini sangat bergantung pada air hujan karena saluran irigasi tidak berfungsi.
“Lahan pertanian sangat bergantung pada air hujan karena saluran irigasi tidak berfungsi,” ujar Kong Misun.
Hal senada disampaikan Mandir, salah seorang warga. Menurutnya, keterbatasan air menyebabkan sebagian petani hanya dapat melakukan penanaman satu kali dalam setahun.
Para petani, kata Mandir, harus menggunakan pompa atau melakukan penyiraman secara manual untuk memenuhi kebutuhan air di lahan pertanian.
“Karena keterbatasan air, sebagian petani hanya bisa menanam satu kali dalam setahun. Untuk memenuhi kebutuhan air, petani harus menggunakan pompa atau menyiram secara manual,” kata Mandir.
Normalisasi Irigasi Bulak Mangga menjadi salah satu solusi yang didorong untuk mengembalikan fungsi saluran pengairan tersebut. Selain itu, pompanisasi dinilai dapat menjadi alternatif apabila normalisasi belum dapat segera direalisasikan.
Ketua Umum Kapemasi Bandung, Fajar Ramadhan, mengatakan Bulan Bakti tidak hanya menjadi bentuk pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengidentifikasi dan mengkaji persoalan yang dihadapi masyarakat secara langsung.
“Hasil penelitian selama Bulan Bakti kemudian dituangkan dalam Naskah Akademik sebagai salah satu output utama kegiatan,” ujar Fajar.
Menurut Fajar, Naskah Akademik tersebut diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan rekomendasi bagi pemerintah serta pihak terkait dalam menangani persoalan yang ditemukan di lapangan, khususnya masalah irigasi.
Kapemasi Bandung berharap hasil penelitian dan Naskah Akademik tersebut dapat mendorong adanya tindak lanjut terhadap kondisi Irigasi Bulak Mangga. Dengan berfungsinya kembali saluran irigasi, kebutuhan air untuk lahan pertanian masyarakat diharapkan dapat terpenuhi dan aktivitas pertanian warga dapat berjalan lebih optimal.
Kontributor || M. Rizki Al Mubarok, WI 25025 D
Editor || Wandi Wahyudi, WI 200223
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)