Mengalirkan Kembali Kehidupan dari Hulu Bendungan Wonosobo

WartapalaIndonesia.com, FEATURE Kalau kita bicara soal air, rasanya hampir nggak ada makhluk hidup di dunia ini yang bisa bertahan tanpanya. Air adalah sumber kehidupan yang paling murni.

Tapi pernah nggak sih kita berpikir dari mana air bersih yang setiap hari kita pakai itu berasal? Jawabannya ada di atas sana, di rimbunnya akar-akar pepohonan hutan kita.

Sayangnya, ada kabar yang kurang sedap kalau kita menengok kondisi kawasan hutan Bendungan di Kaliwiro, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah saat ini. Faktanya, vegetasi di hutan tersebut harus segera dipulihkan karena luasannya terpantau semakin berkurang dalam satu dekade terakhir ini. Paru-paru hijau yang dulunya lebat, perlahan mulai terkikis.

Berkurangnya tutupan hutan ini jelas bukan cuma angka statistik di atas kertas. Dampak nyatanya sudah mulai dirasakan langsung oleh masyarakat di sekitar kaki gunung. Salah satu efek domino yang paling terasa dan bikin ketar-ketir adalah menurunnya produksi serta debit mata air secara drastis.

Menurut keterangan dari warga Desa Bendungan, kondisi di lapangan kalau sudah memasuki musim kemarau sekarang makin memprihatinkan. Debit aliran sungai di sana kabarnya nyaris kering kerontang. Air yang dulunya melimpah ruah sepanjang tahun, kini berubah menjadi aliran kecil yang harus dihemat mati-matian.

Kondisi ini tentu saja menjadi tamparan keras, mengingat aliran air dari kawasan hutan tersebut merupakan satu-satunya sumber air utama bagi kehidupan sehari-hari warga desa setempat. Mulai dari urusan memasak, mencuci, mandi, hingga mengairi lahan pertanian, semuanya sangat bergantung pada sisa-sisa air dari sana.

Ternyata, masalah ini nggak cuma berhenti di Desa Bendungan. Efeknya jauh lebih luas dari yang kita bayangkan. Beberapa desa di sekitarnya juga menggantungkan hidup dan kebutuhan air bersih mereka dari pasokan air yang dialirkan oleh Gunung Bendungan ini. Jadi, kalau hulunya rusak, banyak desa yang ikut menanggung dampaknya.

Lantas, apa sih yang sebenarnya terjadi sampai hutan kita bisa kehilangan daya magisnya dalam menyimpan air?

Kalau kita telusuri secara santai namun jujur, akar masalahnya adalah banyaknya areal hutan yang ditebang, lalu dialihfungsikan menjadi lahan pertanian konvensional oleh tangan-tangan manusia.

Kita tentu paham dan sangat menghargai kebutuhan warga untuk mencari nafkah melalui jalur pertanian. Perut memang harus diisi, dan ekonomi keluarga harus tetap berputar. Tapi, merusak tatanan hutan alami dan menggantinya secara total menjadi lahan terbuka adalah sebuah kekeliruan besar yang harus dibayar mahal.

Pohon-pohon hutan itu punya struktur akar yang dalam dan kuat, fungsinya seperti spons raksasa yang menyerap air hujan dan menyimpannya di dalam tanah. Ketika pohon-pohon itu ditebang habis dan diganti tanaman pertanian semusim, kemampuan tanah untuk mengunci air otomatis langsung hilang.

Akibatnya bisa ditebak. Saat musim hujan tiba, air langsung menggelosor begitu saja ke bawah tanpa ada yang menyerap, memicu banjir di dataran rendah.

Sebaliknya, begitu masuk musim kemarau, tidak ada cadangan air yang tersisa di dalam tanah, membuat sumur dan sungai langsung mengering seketika.

Nggak cuma masalah krisis air bersih saja yang mengintai kita akibat alih fungsi lahan ini. Ada bahaya lain yang jauh lebih mengerikan dan mengancam keselamatan jiwa, yaitu risiko terjadinya bencana geologi. Kawasan perbukitan atau pegunungan yang gundul adalah sasaran empuk bagi bencana tanah longsor.

Bayangkan saja, tanah di lereng-lereng curam yang sudah kehilangan cengkeraman akar pohon besar akan menjadi sangat labil. Begitu diguyur hujan lebat selama beberapa jam, tanah tersebut bisa dengan mudah jenuh air, melorot ke bawah, dan menimbun apa saja yang ada di jalurnya tanpa ampun.

Melihat kenyataan yang cukup mengkhawatirkan ini, kita jelas nggak bisa cuma diam terpaku atau saling menyalahkan satu sama lain. Menyesali masa lalu nggak akan membuat mata air kembali mengalir. Yang kita butuhkan sekarang adalah aksi nyata untuk memulihkan kembali vegetasi Hutan Bendungan.

Rencana jangka panjang rehabilitasi hutan yang berbasis ekowisata dan konservasi ini hadir sebagai solusi cerdas di waktu yang tepat. Lewat program ini, kita ingin mengembalikan fungsi hutan sebagai area resapan air, sekaligus menata ulang sistem pertanian warga agar lebih ramah terhadap lingkungan.

Konsep agroforestry yang terus digaungkan adalah jalan tengah yang sangat adil. Petani tidak perlu kehilangan mata pencahariannya. Mereka tetap bisa menanam komoditas bernilai ekonomi, tapi di bawah naungan pohon-pohon hutan yang berfungsi menjaga ketersediaan air dan menstabilkan struktur tanah.

Perjuangan untuk memulihkan hutan Bendungan ini adalah sebuah investasi jangka panjang yang hasilnya mungkin nggak bisa kita nikmati dalam waktu satu atau dua bulan. Butuh waktu bertahun-tahun bagi bibit pohon yang kita tanam hari ini untuk tumbuh besar dan mampu mengalirkan kembali mata air yang sempat hilang.

Tapi, bukankah hal itu jauh lebih baik daripada kita tidak berbuat apa-apa sama sekali?

Kalau kita menunda-nunda gerakan penanaman ini, sepuluh tahun dari sekarang mungkin anak cucu kita di Kaliwiro sudah tidak bisa lagi melihat air mengalir dari gunung, melainkan hanya menyaksikan tanah kering dan gersang.

Hutan Bendungan adalah aset bersama, kebanggaan Wonosobo dan Jawa Tengah yang sedang butuh pertolongan kita. Sudah saatnya seluruh elemen masyarakat bergerak kompak mengulurkan tangan.

Buat kamu para pemuda, mari jadikan isu pemulihan mata air ini sebagai motor penggerak aksi sosialmu. Suarakan terus urgensi penyelamatan Hutan Bendungan ini ke jaringan yang lebih luas. Ingatkan teman-temanmu bahwa menjaga hutan hari ini adalah cara kita mengamankan air untuk masa depan.

Bagi masyarakat luas, mari kita dukung penuh langkah-langkah terencana, terukur, dan transparan yang sedang diupayakan oleh kawan-kawan relawan di lapangan. Entah itu lewat donasi pohon, ikut serta dalam aksi penanaman langsung, atau sekadar menjaga diri untuk tidak ikut merusak lingkungan.

Ketika alam sudah memberikan tanda-tanda lewat keringnya sungai di musim kemarau, itu adalah cara alam berbicara kepada kita agar kita segera berbenah. Jangan tunggu sampai alam menegur kita dengan cara yang lebih ekstrem seperti bencana longsor baru kita semua sibuk bergotong royong.

Setiap langkah kecil yang kita ambil dalam menyukseskan program rehabilitasi ini akan sangat berarti. Sebatang pohon yang kamu donasikan dan kamu tanam di Hutan Bendungan adalah satu harapan baru bagi kembalinya debit sungai yang dulu pernah menghidupi ribuan warga desa.

Mari kita kembalikan kejayaan hutan Bendungan sebagai benteng hijau yang kaya akan air dan aman dari bencana. Kita tunjukkan bahwa sinergi antara kelestarian alam dan kesejahteraan ekonomi warga desa itu bukan cuma sekadar teori, melainkan fakta nyata yang bisa diwujudkan di Kaliwiro.

Terima kasih untuk Daygreen Environment, Palasska, RBP SAR Kaliwiro, para relawan, pemerintah desa, dan seluruh elemen masyarakat yang sudah meluangkan waktu dan tenaganya di garda terdepan demi menanam pohon. Perjuangan kalian adalah aliran air kehidupan bagi generasi masa depan.

Sampai jumpa di jalur hijau Bendungan, tempat di mana kita menanam pohon, menjaga air, dan merajut kembali harmoni kehidupan bersama alam. Tetap semangat, mari kita rawat hulu kita agar hilir kita tetap mengalirkan senyuman. Salam lestari untuk bumi kita tercinta! (*)

Kontributor || Green Collaboration Indonesia
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.