Oleh: Ita Mirrotul Tsaqila
Mahasiswa Universitas Negeri Surakarta
Wartapalaindonesia.com, PERSPEKTIF — Traditional Ecological Knowledge (TEK) kini semakin mendapat pengakuan luas sebagai fondasi pengetahuan krusial dalam pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan di seluruh dunia.
Sejak era 1980-an, minat terhadap TEK mengalami lonjakan signifikan, tercermin dari semakin banyaknya riset ilmiah serta penerapan prinsip-prinsip TEK dalam kebijakan konservasi, baik pada skala lokal maupun global.
Apa itu Traditional Ecological Knowledge (TEK)
Traditional Ecological Knowledge (TEK) adalah rangkaian pengetahuan, praktik, dan keyakinan yang diturunkan dari generasi ke generasi, yang menggambarkan hubungan erat antara makhluk hidup, termasuk manusia, dengan lingkungannya (Berkes, 1999).
Pengetahuan ini tidak statis, melainkan bersifat dinamis dan terus bertambah, berkembang seiring pengalaman masyarakat terdahulu dan penyesuaian terhadap perubahan sosial serta kemajuan teknologi.
Mengapa Traditional Ecological Knowledge (TEK) menjadi sangat krusial saat ini?
TEK bukan sekadar pengetahuan biasa, melainkan warisan bernilai tinggi yang memadukan praktik, keyakinan, dan kearifan lokal dalam menjaga keragaman hayati dan sumber daya alam.
Pendekatan ini tidak hanya fokus pada aspek lingkungan, tetapi juga menghargai nilai-nilai sosial dan budaya yang hidup di dalam komunitas.
Dengan cara ini, TEK menciptakan strategi konservasi yang luwes dan efektif, mampu menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan yang cepat dan kompleks. TEK membuka peluang bagi kita untuk melihat kembali hubungan harmonis antara manusia dan alam, sekaligus menawarkan solusi nyata bagi tantangan pelestarian sumber daya alam di masa depan.
Bagaimana TEK terbentuk?
Traditional Ecological Knowledge (TEK) terbentuk melalui proses panjang yang melibatkan berbagai aspek budaya dan sosial dalam masyarakat. Pengetahuan ini diwariskan dari generasi ke generasi lewat cerita lisan dan pengalaman langsung dalam interaksi sehari-hari dengan lingkungan sekitar.
Keterikatan kuat masyarakat terhadap lingkungan lokal, nilai-nilai spiritual yang memandang alam sebagai bagian suci kehidupan, serta pola hidup ekonomi yang bergantung pada sumber daya alam menjadi fondasi utama terbentuknya TEK.
Selain itu, dinamika politik juga memengaruhi sejauh mana TEK diakui dan diintegrasikan dalam kebijakan pengelolaan sumber daya. Tidak kalah penting, faktor-faktor seperti jenis kelamin, usia, dan latar belakang budaya turut membentuk ragam dan kekayaan pengetahuan yang ada dalam TEK.
Bagaimana komunitas lokal menjaga dan mengembangkan TEK melalui sistem sosial mereka?
Penelitian Traditional Ecological Knowledge (TEK) telah dilakukan di berbagai komunitas dunia seperti masyarakat Zhuge di Tiongkok, Kabi Kabi di Australia, dan di Pegunungan Himalaya India, serta di Indonesia pada masyarakat Tengger, Kuanhem, Bali Aga, dan masyarakat lainya.
TEK berperan penting dalam pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan dengan menggabungkan pengetahuan, praktik, nilai, dan kepercayaan lokal secara holistik.
Pendekatan ini tidak hanya menjaga ekologi, tetapi juga mempertimbangkan aspek sosial dan budaya, serta meningkatkan kemampuan adaptasi terhadap perubahan lingkungan.Peran utama TEK dijaga oleh komunitas lokal melalui sistem sosial dan nilai yang mereka miliki.
Foto || Noel Snpr
Editor || Wandi Wahyudi, WI 200223
Daftar Referensi:
Berkes F. 1999. Sacred Ecology: Traditional Ecological Knowledge and Resource Management. Taylor & Francis.
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)