WARTAPALA INDONESIA

Perempuan Tangguh di Gunung Emas Hitam

Wartapalaindonesia.com, LINGKUNGAN  – Hampir setiap hari ibu-ibu tangguh ini bekerja ditumpukan Gunung Emas yang berwarna hitam (batubara), memisahkan batubara dengan batu sungai, napal dan kerikil di area penumpukan batubara (stockpile) Pelabuhan Pulau Baai, Kota Bengkulu.

Setiap hari juga mereka menghirup debu batubara, serta sengatan matahari dan hujani, namun ibu-ibu tangguh ini tidak ada hentinya untuk terus-menerus semangat memilah batubara.

Tetapi sangat disayangkan pihak perusahaan tidak memperdulikan akan keselamatan kesehatan mereka padahal sudah jelas bahwa dampak terkena debu batubara itu sangat berbahaya, apabila sudah terhirup dan mengendap dalam paru-paru akan menyebabkan gangguan pernafasan sampai PARU-PARU HITAM dan lama-kelamaan bisa-bisa berdampak kematian.

Ibu-ibu pemila batubara menggunakan masker namun masker yang mereka gunakan hanyalah serbet, selendang ataupun masker kain yang sejatinya tidak bisa membendung masuknya debu batubara yang berukuran 3-5 mikron dan masih bisa menembus pori-pori kain, maka dari itu Aliansi Tolak Paru Hitam melakukan pembagian masker di stockpile batubara.

Aksi ini tidak dilakukan sekali saja, bahkan kami melakukan aksi ini 2 hari 1 kali selama 1 bulan, hakekatnya aksi kami ini adalah sebuah tamparan keras buat Perusahaan dan pihak-pihak terkait yang tidak peduli akan kesehatan ibu-ibu pemila batubara.

Seharusnya perusahaan yang memberikan masker standar serta peran pemerintah selalu mengawasi perusahaan yang tidak menjalankan peraturan dan sampai saat ini Aliansi Tolak Paru Hitam masih menunggu janji dari Plt. Gubernur.

Yakni terkait hasil audiensi yang katanya akan membuat surat edaran secepatnya kepada perusahan-perusahaan terkait peraturan untuk mewajibkan menyediakan alat pelindung diri yang standar dan implementasi K3.

Selain debu batubara ada ancaman yang lebih besar lagi yang sedang mengintai masyarakat bengkulu yaitu PLTU Batubara, selain biang kerok batubara ini menghasilkan dampak berbagai persoalan terutama lingkungan dan kesehatan.

Saat ini batubara pun dikembangkan untuk menghasilkan energi listrik lewat pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara, salah satunya PLTU batubara Teluk Sepang. Dua pembangkit masing-masing berkapasitas 100 Megawatt akan didirikan dengan membakar 2.900 ton batubara per hari.

Bisa dibayangkan polutan yang dilepas dari pembakaran batubara tersebut. Menurut jurnal Muhammad Ehsan Munawer Tahun 2007, emisi yang dihasilkan dari pembakaran batubara adalah sulfur, karbon dan nitrogen yang terlepas sebagai SOx, COx, NOx, abu dan logam berat yang tinggi.

Senyawa SOx berasal dari emisi sulfur pada saat pembakaran yang teroksidasi membentuk sulfur dioksida (SO2) dan selanjutnya teroksidasi kembali membentuk SO3 mengakibatkan gangguan paru-paru dan berbagai penyakit pernapasan.

Senyawa NOx yang bersama SOx menyebabkan hujan asam yang terdiri dari H2CO3, H2SO4 dan HNO3 yang menyebabkan penyakit berbahaya termasuk kanker kulit dan berbagai penyakit kulit lainnya serta berakibat buruk juga terhadap industri peternakan dan pertanian.

Kontributor : Soprian Ardianto, Katugempa

Editor : A. Phinandhita P.

Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: