WartapalaIndonesia.com, FEATURE – Tiga mahasiswi Universitas Airlangga yang tergabung dalam Mahasiswa Pencinta Alam (Wanala), menggelar ekspedisi susur gua di kawasan karst Tulungagung, Jawa Timur, pada 27–31 Juli 2025.
Tim bernama Srisaga (Srikandi Susur Gua Airlangga) ini menelusuri tiga gua dengan teknik vertikal dan horizontal, menerapkan materi cave rescue, teknik fotografi gua, serta melakukan pemetaan dengan grade 3A.
Ekspedisi ini menyasar Gua Gondang, Gua Nggeh 1, dan Gua Nggeh 2 di Desa Ngepoh, sebuah wilayah dengan lanskap karst yang dikelilingi perkebunan jagung serta bebatuan terjal. Data awal diperoleh dari Mapala Himalaya Tulungagung, yang kemudian menjadi dasar survei dan persiapan fisik, peralatan, serta manajemen lapangan.
Tim berangkat dari Surabaya pada 27 Juli pukul 08.00 WIB dan tiba di basecamp “Rumah Pak Man” sekitar pukul 14.45 WIB. Penelusuran dilakukan dengan sistem one day one cave (satu hari satu gua).
Jalur menuju mulut gua memaksa tim berjalan kaki melewati jalan berbatu, medan berlumpur, serta celah sempit yang mengharuskan mereka merangkak bahkan merayap demi menuju ruang-ruang bawah tanah yang sempit dan gelap.
Tiga Gua, Tiga Cerita
Di Gua Gondang, meski tidak ditemukan ornamen stalaktit atau stalagmit, tim mendapati chamber (ruang besar) di bagian dalam, serta sebuah lubang sempit yang berujung pada penemuan tulang-belulang tak teridentifikasi.
Gua Nggeh 1 menantang tim dengan awalan jalur vertikal sedalam 28 meter yang memerlukan SRT (Single Rope Technique). Usaha tersebut terbayar dengan pemandangan ornamen shawl atau tirai menjulang tinggi dan air terjun kecil yang hanya dapat dijangkau dengan merayap. Fauna gua seperti burung walet, kelelawar, jangkrik gua, katak, hingga yuyu juga ditemukan di dalam gua ini.
Entrance Gua Nggeh 2 sangatlah unik, benar-benar berbentuk seperti patuh burung. Pada pitch 1 akan disambut dengan dua lubang vertikal. Lubang kiri ternyata buntu dengan kedalaman sekitar 5 meter.
Namun, insiden jatuhnya ponsel anggota tim pendukung ke lubang kanan membuat seluruh tim turun untuk mengevakuasi. Perjalanan menuju dasar lubang dipenuhi lumpur dan aliran air, bahkan tim beberapa kali tertabrak burung walet yang terbang rendah.
Kesiapan Tim
Sebelum berangkat, tim Srisaga menyiapkan surat pemberitahuan ekspedisi yang disampaikan ke Kepala Desa, Kepala Dusun dan pihak berwenang seperti Polsek, Koramil, Puskesmas, hingga Rumah Sakit, serta melakukan koordinasi langsung dengan warga desa. Hal ini dilakukan untuk memastikan dukungan akses yang aman menuju lokasi, dan pemberitahuan demi menghindari kesalahpahaman di lokasi nantinya.
Dari sisi perlengkapan, tim menggunakan peralatan standar penelusuran gua vertikal seperti coverall, seat dan chest harness, helm serta penerangan seperti headlamp dan tak lupa membawa cadangan. Kotak P3K, tabung oksigen, dan lotion anti-nyamuk juga disiapkan. Proses pemasangan jalur tali (rigging) didampingi anggota berpengalaman untuk memastikan titik anchor aman.
Ekspedisi ini diharapkan memperkaya data pemetaan gua lokal dan membantu penelusur lain maupun pemerintah daerah dalam merancang strategi konservasi.
Tim juga berharap kesadaran warga sekitar meningkat, mengingat beberapa gua berada di area perkebunan yang rawan insiden, seperti kasus sapi tercebur kedalam gua hingga penemuan tengkorak manusia yang belum teridentifikasi. (AS).
Kontributor || Tim Srisaga
Editor || Nindya Seva Kusmaningsih, WI 160009
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)