Wartapalaindonesia.com, JEMBER – SWAPENKA (MAPALA Fakultas Ilmu Budaya-Universitas Jember) mengenalkan sesuatu yang baru berkenaan dengan ilmu kepencinta-alaman kepada MAPALA di sekitar Jawa Timur. Melalui Seminar Lingkungan yang bertema “Memahami Konservasi Berbasis Lokal Genius” di aula Fakultas Ilmu Budaya-Universitas Jember, Sabtu, 19 Novermber 2016.
Kegiatan ini diharapakan agar para peserta bisa memiliki cara pandang yang lebih luas tentang upaya konservasi yang bisa dilakukan oleh para Pencinta Alam. Tidak hanya terbatas dengan upaya konservasi menggunakan metode pengamatan kawasan yang biasa dilakukan di luar ruangan, konservasi berbasis lokal genius ini memang sudah seharusnya dikenal dan pahami juga oleh para MAPALA.
Seminar lingkungan ini di isi dengan 3 materi tentang kearifan lokal dan dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab dari peserta seminar. Materi pertama yang disuguhkan adalah “Sejarah Gerakan Konservasi Indonesia” di isi oleh Bapak Nawiyanto, yang merupakan ahli dari dosen sejarah Fakultas Ilmu dan Budaya-Universitas Jember.
“Disini, kita di kenalkan dengan sejarah dikenalnya konservasi mulai dari zaman kolonial, masa setelah merdeka, hingga konservasi pada era modern saat ini,” terang Muhammad Rafi, ketua pelaksana kegiatan.
Materi ke dua adalah tentang dunia Kepencintaan Alam. Materi kedua ini berisi tentang bagaimana seharusnya MAPALA “Bergelut dengan Kearifan Lokal Sebagai Bagian dari Pelestarian Lingkungan”. Materi diskusi ini di isi oleh aktivis lingkungan senior, yaitu Bapak Ahmad Daenuri, atau yang kerap disapa Cak Daen.
Dalam diskusinya, cak Daen tak Banyak memberikan teori, namun lebih banyak menjelaskan tentang bagaimana seharusnya MAPALA memahami dan bergelut langsung dengan kearifan lokal dari masyarakat tertentu. Materi semacam ini memang menarik untuk terus di diskusikan, meski setelah beranjak dari ruang seminar.
Materi terakhir merupakan topik bahasan yang paling unik, yaitu tentang “Konservasi dan Kearifan Orang Rimba”. Materi ini di isi Langsung oleh Sdr. Ananda Firman Jauhari, yang merupakan seorang guru di Sokola Kaki Gunung-Jember dan Sokola Rimba.
Sekilas tentang Sokola Kaki Gunung yang diceritakan oleh Sdr. Ananda adalah sekolah yang didirikan di dusun Sumber Candik, Desa Panduman, Kec.Jelbuk, Jember. Sokola Kaki Gunung merupakan sekolah Literasi Terapan yang didirikan dengan latar belakang masih tingginya penyandang buta huruf dan belum efektifnya fasilitas sekolah di Desa Panduman ini.
Membaca-menulis (literasi) merupakan salah satu aktifitas penting dalam hidup. Sayangnya, kemampuan ini belum dimiliki oleh sebagian besar penduduk di desa ini. Oleh karena itu, adanya Sokola Kaki Gunung yang diterapkan berdasakan landasan Kearifan lokal ini sangat dibutuhkan keberadaanya untuk membantu megurangi angka penyandang buta huruf di Indonesia.
Berlandaskan kearifan lokal masyarakatnya, diharapkan literasi terapan ini bisa diterima dengan baik oleh masyarakat. Istilah Kearifan Lokal mengacu pada tata nilai atau perilaku hidup masyarakat setempat dalam hubungannya dengan lingkungan yang menjadi tempat hidup secara arif.
Secara keseluruhan, seminar lingkungan kemarin cukup menarik untuk di ikuti karena bahasannya yang fresh dan sangat penting untuk dipahami oleh MAPALA. Melalui kearifan lokal dari Masyarakat inilah sebenarnya kita belajar memahami lingkungan dengan lebih dalam.
Laporan : Nurlela Fatmawati (WI.160012.JA)
Editor : Ahmad Nur Fuad
Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081553355330 (Telp/SMS/WA)
Dokumentasi : Swapenka



Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)