Tingkatkan Kesadaran Publik, KEHATI Rilis Buku Putih Advokasi Keanekaragaman Hayati Indonesia

Caption foto: Dokumentasi saat bedah buku”Melawan Ketidakseimbangan” karya Muhamad Burhanudin. (WARTAPALA INDONESIA / Fadli Al Iman).

Wartapalaindonesia.com, Jakarta —Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) meluncurkan Buku Putih Advokasi Keanekaragaman Hayati Indonesia berjudul “Melawan Ketidakseimbangan” pada Selasa (16/9/2025).

Buku ini ditulis oleh Muhamad Burhanudin, Manajer Kebijakan Lingkungan KEHATI, sebagai refleksi perjalanan panjang advokasi lingkungan hidup di Indonesia.

Direktur Eksekutif KEHATI, Riki Frindos, mengatakan buku tersebut mengungkap realitas pahit kondisi lingkungan Indonesia, mulai dari kenaikan emisi gas rumah kaca, krisis iklim, hingga degradasi ekosistem.

“Di balik kemajuan ekonomi, ada jejak pemanfaatan alam yang eksploitatif dan berlebihan, dan kita semua menjadi penggerak utamanya,” ujarnya dalam siaran pers.

Riki menambahkan, laporan IPCC pada 2023 mencatat suhu rata-rata global meningkat 1,1 derajat celcius dibandingkan era pra-industri, sementara di Indonesia kenaikannya mencapai 0,9 derajat celcius dalam dua dekade terakhir. Kondisi ini memperparah kerentanan sosio-ekonomi serta mengancam keanekaragaman hayati.

Buku ini juga menyoroti berbagai persoalan, seperti hilangnya 33 juta hektare hutan dalam 40 tahun terakhir, potensi tenggelamnya 95% wilayah pesisir Jakarta pada 2050, serta tingginya angka bencana hidrometeorologi yang mencapai 75% dari total bencana di Indonesia.

Penulis buku, Muhamad Burhanudin, menyebut kerusakan alam bukan hanya akibat kelalaian, melainkan juga desain politik pembangunan yang menempatkan ekologi sebagai korban. Ia menyinggung regulasi seperti UU Cipta Kerja dan UU Minerba yang dinilai melemahkan perlindungan lingkungan.

“Advokasi harus berfungsi sebagai alat membangun akuntabilitas dan transparansi. Advokasi organisasi sipil juga harus memperkuat suara masyarakat lemah, dan memastikan mereka didengar,” katanya.

Buku ini turut memuat temuan dan pengalaman advokasi KEHATI bersama masyarakat sipil, antara lain riset dengan Semeru Institute pada 2024, catatan AMAN terkait perampasan wilayah adat, serta gerakan kaum muda Biodiversity Warriors yang kini beranggotakan lebih dari 7.000 orang di seluruh Indonesia.

Muhamad menegaskan, peran masyarakat sipil sangat vital dalam mendorong kebijakan berbasis bukti, memperkuat akuntabilitas, dan melindungi suara kelompok lemah, meski sering berhadapan dengan represi. Data Walhi mencatat, sebanyak 1.131 orang menjadi korban kekerasan dan kriminalisasi pada 2014–2024 karena membela lingkungan.

“Melawan ketidakseimbangan berarti menjaga bumi bagi generasi mendatang. Advokasi adalah jalan panjang, namun tetap menjadi harapan bersama,” kata Muhamad.

Kontributor || Fadlik Al Iman

Editor || Wandi Wahyudi, WI 200223

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.