Pembinaan Atlit Sejak Dini di Tim Panjat Tebing Jepang

Oleh : Adiseno
Anggota Dewan Penasihat PP FPTI

WartapalaIndonesia.com, FEATURE – Mencari tahu keberhasilan tim panjat tebing Jepang jadi tema utama dalam menghadirkan Hiroshi Yasui (51) pelatih kepala Tim Nasional Jepang. Melihat biodata Hiroshi Yasui yang mengawali kiprah kepelatihannya di-sambi dengan mengajar biologi. Ia mulai mengepalai klub mendaki gunung pada 2002 di Tottori Perfecture.

Yasui san, begitu ia minta dipanggil, mulai gabung dengan induk olahraga mendaki dan panja tebing Jepang, JMSCA sejak 2008, dan menjadi pelatih di tim nasional muda (Youth National Team) setahun kemudian.  Lalu ia menjadi pelatih boulder tim nasional dewasa sejak 2016. Setahun kemudian menjadi pelatih kepala dan juga kepala dewan pengembangan JMSCA.

Menengok perjalanan karir pelatih Hiroshi Yasui ini karena dialog dalam kelas Pelatihan Pelatih Panjat Tebing Level 2 Boulder dan Lead  pada Desember lalu di Ibis Style Sunter. Hiroshi Yasui ditanya pelatih asal Jatim apa kiatnya dalam melatih anak-anak.

Secara fasih ia menjawab untuk anak-anak hanya target kesenangan. “Learn to climb,” ujarnya. Kemudian diuraikan lagi setelah fase anak menjadi remaja menjadi “learn to compete.”  Dan ketika jelang dewasa usia 16 tahun ke atas, baru mulai belajar untuk menjadi juara, “learn to win.”

Kepala Pelatih Tim Nasional Panjat Tebing Jepang Hiroshi Yasui : Tim yang Berkembang adalah Tim yang Gembira

Kisah Yoshiko Nishitani
Memang saat ini pelatih kepala tim nasional muda Jepang adalah Yoshiko Nishitani. Perempuan pelatih ini bergabung dengan JMSCA pada 2008.

Yoshiko Nishitani berhasil memborong 24 medali pada IFSC Climbing Youth Asian Championships 2024, menjadikan Jepang juara umum.

Indonesia pun menyusul di peringkat juara umum kedua, 1 emas dari disiplin lead junior putra yang diraih oleh Putra Tri Ramadani, 1 perak dari disiplin lead youth B putri oleh Alma Ariella Tsany, 1 perunggu dari disiplin Lead youth A Putri oleh Taqiyya Nur Aziza, dan 1 perunggu dari disiplin boulder youth junior putra oleh Putra Tri Ramadani, Indonesia berhasil menambah 3 medali emas dan 2 perunggu dari disiplin speed di kelompok umur yang berbeda di hari terakhir IFSC Asian Youth Championships 2024 Jamshedpur India.

Keberhasilan tim Jepang ini ditenggarai oleh Yoshiko Nishitani terkendala oleh apa yang disampaikan Hiroshi Yasui pada Pelatihan Level 2 di Jakarta, faktor lingkungan yang berpengaruh dan menjadi perhatian pelatih.

Yoshiko Nishitani dalam wawancara dengan JMSCA menjelaskan perjalanan penerbangan ke New Delhi, perjalanan darat tiga jam ke Jamshadepur, dan cuaca yang panas lembab beda dengan Youth World Championship di Guiyang China di mana atlit junior putra Jepang, Yusuke Sugimoto meraih medali emas. Indonesia kala itu, Roeyhan Hidayat peringkat 46.

Ini menimbulkan pertanyaan JMSCA kenapa banyak atlit yang di Youth World Championship berprestasi di kawasan Asia tidak meraih prestasi yang sama. Jawab Yoshiko Nishitani, “Saya rasa sulit untuk mereka berkinerja karena kondisi dinding yang tidak baik terutama karena suhu panas.” Ia menegaskan bahwa poin panjat dengan warna hitam mengakibatkan pegangan sangat panas.

Selain itu pelatih kepala mengutarakan bahwa “lingkungannya” tidak dibangun dengan baik, terutama fasilitas turnamen, manajemen turnamen. Tayangan pencatat waktu kadang terhenti, dan panitia menyediakan komputer atau tablet untuk menunjukan waktu.  Bus angkutan pun bermasalah, tidak tepat waktu, tidak datang pada waktu dijanjikan, dan sudah berangkat lebih awal dari jadwal.

Bagi atlit Jepang kondisi tidak nyaman ini merupakan pengalaman pertama. “Sangat berbeda dengan di Jepang,” tegasnya.

Namun sebagai kepala pelatih, Yoshiko Nishitani mengakui bahwa ada atlitnya yang berhasil walau kondisi tidak ideal. “Ada atlit yang berhasil mencapai target, jadi lingkungan bukan alasan.”

“Setelah Asian Youth Championship ini, para atlit menjadi lebih tangguh baik fisik maupun mental,” jelasnya.

Modal bagi tim senior Jepang.

Kisah Hiroshi Yasui
Modal bagi tim senior adalah satu tujuan dari LTAD, Long Term Athlete Development, program jangka panjang dalam pelatihan olahraga.

FPTI sendiri sudah mengadaptasi ini sebagaimana disiyarkan kantor berita Antara melalui wawancara dengan pelatih panjat tebing nasional Indonesia, Hendra Basir. “Tujuan utama kami adalah mempersiapkan atlet yang mampu bersaing di Olimpiade dan Kejuaraan Dunia, sekaligus memastikan adanya aliran bakat yang kuat dari tingkat akar rumput,” sebagaimana dikutip Antara pada artikel 6 September 2025.

LTDA sendiri adalah rencana pelatihan panjat tebing jangka panjang menggunakan periodisasi, membagi tahun menjadi beberapa fase (misalnya, kondisi fisik, daya tahan, kekuatan, tenaga, puncak) untuk membangun keterampilan secara bertahap, dengan fokus pada kebugaran umum, kemudian daya tahan (interval), kekuatan (hangboarding, campus boarding), tenaga (bouldering intensitas tinggi), dan akhirnya tapering untuk performa, sering menggunakan siklus 3 minggu latihan, 1 minggu deload untuk mengelola kelelahan dan memaksimalkan hasil.

Menurut laporan Antara di atas saat ini tim Indonesia pada posisi tapering, karena coach Hendra Basir dikutip menyatakan tahun 2025 adalah tahun recovery setelah tahun penuh beban pada 2024. Hendra Basir adalah pelatih dari Veddriq Leonardo yang meraih emas disiplin speed putra di Olimpiade Paris 2024.

Teka-teki Pelatih Kepala Tim Nasional Panjat Tebing Jepang

Dalam rencana latihan jangka panjang atlet panjat tebing, tapering terutama melibatkan pengurangan signifikan dalam volume latihan (sebanyak 40-70%) sambil mempertahankan atau sedikit meningkatkan intensitas latihan dalam 1-4 minggu menjelang tanding atau proyek penting.

Itu sebabnya Hiroshi Yasui mengangguk-angguk paham ketika dia menanyakan kenapa tim Indonesia tidak hadir pada salah seri World Cup. Ia menggumam bahwa Indonesia punya target di lomba lain.

Hiroshi Yasui sendiri dalam artikel laporan JMSCA, menyatakan kecewa menyambut hasil Olimpiade 2024. “Anraku Sato tidak berhasil meraih emas dan di posisi kedua, Akiaya Mori tidak berhasil naik podium dan finis di posisi keempat, Ikumoe Nonaka serta Tomoe Narasaki tidak mencapai final dan finis di posisi kesembilan dan kesepuluh, dan semua atlet hanya beberapa hari lagi dari kompetisi berikutnya. Ini adalah Olimpiade di mana para atlet, ofisial kami, dan semua yang menyaksikan Olimpiade merasa frustrasi karena tidak bisa mencapai tujuan mereka meraih beberapa medali, termasuk medali emas.”

Hiroshi Yasui secara fasih membedah gerak atlitnya dalam lead dan boulder semasa lomba Olimpiade Paris, untuk menjelaskan posisi hasil yang tidak selaras jika membandingkan hasil tim Jepang dan atlit yang sama di IFSC World Championship maupun seri World Cup. Ia pun mengurai lingkungan kompetisi dengan menekankan bahwa suasana Olimpiade memang berbeda.

“Di World Cup, bahkan jika kamu melakukan kesalahan kecil di babak kualifikasi atau semi-final, kamu bisa tetap lolos, dan kamu bisa memenangkan final dengan bantuan kesalahan pemain lain. Namun, Olimpiade adalah permainan di mana kamu tidak boleh melakukan kesalahan dan harus tampil sempurna. Speed, Boulder dan Lead, setiap babak berada pada level yang tinggi. Satu kesalahan bisa fatal, jadi kamu harus memperhatikan setiap detail dengan seksama,” jelas Hiroshi Yasui.

Pelatih Kepala Tim Nasional Jepang ini juga menjelaskan lingkungan pelatnas Jepang. “Kami juga memperhatikan perkembangan pusat pelatihan di Jepang. Saat ini, kami menggunakan Pusat Panjat Tebing Olahraga Higashiganecho di Ward Katsushika, Tokyo, tetapi tidak mudah untuk menciptakan lingkungan pelatihan yang khusus untuk pemain tim nasional karena fasilitas ini juga digunakan oleh masyarakat umum. Saya pikir juga perlu untuk menciptakan lingkungan yang lebih memadai.”

Bisa jadi ini sebabnya Hiroshi Yasui saat menggunakan fasilitas pelatnas Indonesia di Hotel Santika Harapan Indah, sempat minta kembali ke lokasi setelah jeda makan siang. Ia tadinya harus balik ke Ibis Style Sunter, karena ditunggu sesi presentasi kelas. Ia melihat fasilitas tambahan terbaru yang dibuat khas untuk latihan speed. Tinggi dinding speed dibagi menjadi tiga bagian di mana atlit bisa melatih gerak presisi, tanpa kesalahan di bagian masing-masing. Itu pula kenapa pada pelajaran pertamanya ia menyatakan “seorang pelatih harus belajar dan selalu belajar.” (*)

Foto || JMSCA & FPTI
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.