Kepala Pelatih Tim Nasional Panjat Tebing Jepang Hiroshi Yasui : Tim yang Berkembang adalah Tim yang Gembira

Oleh : Adiseno
Anggota Dewan Penasihat PP FPTI

WartapalaIndonesia.com, FEATURE – “Yasui san, begitu saya biasa dipanggil,” ujar Hiroshi Yasui (50), Kepala Pelatih Tim Nasional Jepang. Tidak nama lengkap, juga tidak diimbuhi sama untuk yang lebih dihormati, atau chan  imbuhan bagi teman sejak kecil. Biasa saja santai. Sikap akrab ini menjadi petunjuk ilmu kepelatihan yang dibagi pria kelahiran 29 Desember 1975, di Tottori, Jepang.

Para pendengarnya yang sudah berbaris tertib dibubarkan mengikutinya mencari dinding panjat yang lebih sesuai di Pelatnas Panjat Tebing di Hotel Santika Harapan Indah Bekasi. Dua kali rombongan bergeser sampai mendapatkan tempat yang cocok, ketika tim pendukung hendak menambahkan poin untuk menjadikan dinding panjat pilihan lebih seperti spray wall, Yasui san menolak. Ia santai dan kelihatan mudah menyesuaikan, fleksibel.

Yasui san berada di Jakarta dalam rangka Pelatihan Pelatih Panjat Tebing Level 2 yang diselenggarakan Kemenpora RI bekerja sama dengan PP FPTI, Pelatnas FPTI, dan Pengurus Provinsi FPTI Jakarta. Pelatihan pada 23 hingga 28 Desember 2025 ini mengkhususkan diri pada disiplin Lead dan Boulder.  Dan tim Jepang asuhannya, berprestasi pada kedua disiplin ini.

Petunjuk kedua ketika menampilkan sampul presentasi, Yasui-san memperlihatkan tim panjat tebing Jepang yang semuanya tersenyum. Presentasi mengenai keberhasilan tim Jepang yang menurutnya karena suasana akrab, gembira di tim nasional Jepang.

Pada tahun 2014 di IFSC World Cup Munich, Jepang mencapai satu finalis di disiplin boulder. Tiga tahun kemudian pada lomba yang sama empat finalis dari Jepang. Diawal karir sebagai pelatih panjat tebing di klub kota asalnya, ia melatih Tomoaki Takata, yang baru mulai manjat usia 16 tahun. Kembali, tiga tahun kemudian, 2013, Tomoaki san masuk semifinal di World Cup Kitzbuel Austria.

Pembinaan Atlit Sejak Dini di Tim Panjat Tebing Jepang

Pelatih Sepenuhnya
Hiroshi Yasui sebelum menjadi Kepala Pelatih Tim Nasional, bekerja sebagai guru biologi. Ia menceritakan sulit menggabungkan dua pekerjaan yang sebetulnya sejenis, sama-sama mengajar, membimbing dan mengembangkan murid atau atlit. Masa interaksi yang menjadi masalah, sebagai pelatih panjat tebing, Yasui-san hanya punya waktu setelah luang dari sekolah mengajar sains.

Ia memutuskan penuh menjadi pelatih pada 2008. Ketika itu ia belajar kepada Reinhold Scherer, pengelola gymnasium panjat terbesar di Innsbruck Austria. Biasa dipanggil akrab Reini, ia meyakinkan Yasui san untuk menjadi pelatih setelah Yasui menghabiskan dua minggu berlatih ke climbing gym terbesar di dunia bahkan.

Reini dikenal dunia bukan hanya membangun sarana latih panjat tebing yang terbesar, tetapi juga sebagai pemanjat dan pelatih yang pada 1991 menembus jalur 5.14c (8c+) di Austria. Reini mulai memanjat di usia 14 tahun dan pada tahun 1985 sudah memanjat di jalur jalur tersulit (8a) di Verdon, Perancis.

Reini secara tepat melihat kebutuhan arena latih panjat tebing dan mulai pembicaraan dengan pemerintah kota Innsbruck, ibukotanya kegiatan pendakian dan panjat tebing Austria. Berdirilah climbing gym terbesar di dunia yang menarik pelatih, pemanjat dunia, termasuk tim nasional Jepang.

Prinsip dasar Reini adalah pasti ada jalur yang sesuai untuk masing-masing pemanjat. Ia sudah membuat lebih dari 1500 jalur panjat. Dan di climbing gym-nya di KI (Climbing Centre Innsbruck), Reinhold Scherer membuat jalur-jalur 8a+, 8c, 8c+, 9a+, 8b, 8c. Ada jalur untuk semua kemampuan, Reini menyatakan, “Penting untuk menggabungkan pemanjat berorientasi high performance dengan pemanjat normal-normal saja.”

Reini juga pelatih bagi Jakob Schubert peraih medali perunggu Olimpiade Tokyo. Pada 2020/2021 Yasui san dan Reini bertemu ulang dalam rangka mereka sesama pelatih peraih medali Olimpiade. Dua atlit perempuan Jepang meraih Miho Nonaka, dan Akiyo Noguchi meraih perak dan perunggu. Kala itu hanya satu disiplin yang dipertandingkan, kombinasi Speed, Lead dan Boulder.

Pelatih dan pembuat jalur kompetensi yang dimiliki Reini, juga dikuasai Yasui san. Itu perkenalannya pada peserta Pelatihan Level 2 di Ibis Style Sunter pada Rabu 24 Desember lalu.

Saya pembuat jalur, juri kompetisi, selain anggota komite Olimpiade Jepang, Direktur High Perfomance untuk Japan Mountaineering and Sport Climbing Association (JMSCA) dan Pelatih Kepala Tim Nasional Jepang. Yang terakhir seperti juga Reini, di tim yang diasuhnya ada Tomoa Narasaki, Sorato Anraku,  dan Ai Mori.

Yasui san menyatakan ada 120 lebih atlit high performance di Jepang, dan 40 diantaranya masuk Tim Nasional Jepang, jumlah putra dan putri yang sama.

Pesan Yasui san untuk pengelolaan tim nasional Jepang menunjukan cara berpikir sistemik yang dimilikinya. Ia mengatakan ada tiga bagian yang secara bersamaan perlu dibangun agar tim berhasil dalam tujuannya. Pertama Pelatih, kedua Atlit dan ketiga Lingkungan.

Nilai-nilai Pelatih
Itulah Pelatih harus membangun tim yang gembira.
Caranya, pelatih harus selalu belajar banyak hal. Sport science, nutrisi, kesehatan, pencegahan cedera, merencanakan program pelatihan jangka panjang,  dan banyak lagi. Pelatih juga mengutamakan komunikasi, bahkan sampai mendalami linguistik juga bahasa asing.

Ini karena pelatih memiliki tiga nilai yang harus dicapai. Pertama memahami atlit untuk membangun saling percaya. Kedua membuat program latihan khas masing masing atlit, agar programnya sesuai dengan kemampuan atlit dalam mengembangkan diri dan mencapai sasaran dan tujuan akhir yang dikehendaki atlit sendiri. Ketiga memanfaatkan sarana pelatihan dan waktu pelatihan yang efektif dan efisisen.

Cara membangun saling percaya antara atlit dan pelatih dengan saling menjelaskan tujuan masing-masing. Pelatih dan atlit memonitor kondisi fisik seperti berat badan, suhu badan, bagian yang mengganggu (strain). Menyadari perubahan emosi dengan memperhatikan ekspresi, suasana hati.  Menyadari kondisi keluarga termasuk kondisi keuangan. Nilai di lingkungan pendidikan termasuk capaian lain selain olahraga. Pemahaman keluarga dan lingkungan atlit terhadap dunia olahraga panjat tebing. Juga hubungan sosial atlit, termasuk hubungan dengan pasangan.

Guna mencapai nilai kedua yaitu program latihan bagi atlit, ada tiga tahapan proses dalam perencanaan program.

Tahap pertama memahami fitur dari disiplin yang digeluti. Kemudian pada tahap kedua atlit sendiri merancang latihannya sesuai dengan pemahaman atlit sendiri. Baru pada tahap diskusi dengan pelatih untuk mendapatkan program yang paling sesuai.

“Banyak program bisa dipilih akan tetapi program yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan individu atlit yang harus dikembangkan,” begitu yang disampaikan Hiroshi Yasui.

Teka-teki Pelatih Kepala Tim Nasional Panjat Tebing Jepang

Atlit Wakil Sport Climbing
Siap belajar bukan monopoli pelatih. Atlit pun demikian. Anggota Tim Nasional bagi Yasui san berarti menjadi wajah panjat tebing bagi bangsa, bagi dunia olahraga.

Menurut Hiroshi Yasui cerminan pemanjat sport climbing adalah Keterampilan tinggi; Sangat bermotivasi untuk lebih baik; Manusia berkualitas; Memiliki kemampuan linguistik; Dapat mengarahkan dirinya sendiri; dan Berkomunikasi sekala global.

Bagi pengamat tim Jepang, perubahan penampilan anggota tim ini terlihat.

Yasui san pun menunjukan bahwa atlitnya yang tadinya tidak biasa muncul di depan publik, makin lama makin percaya diri. Mereka lebih siap tampil ke media asing ketika meraih podium, dari tadinya harus didampingi penterjemah.

Prestasi atlit Jepang dengan biasanya lebih dari satu masuk babak final maupun ketika mereka berada di tebing alam bersama pemanjat dunia lain membuktikan keterampilan, motivasi dan kemampuan mengarahkan diri sendiri sudah menjadi nilai mereka.

Hiroshi menjelaskan lebih lanjut factor-faktor yang menghasilkan enam nilai atlit sport climbing. Ada empat faktor dengan diawali Upaya Atlit.  Upaya atlit dalam hal ini dengan kinerja tinggi karena menjadi terbaik di dunia. Kemudian ia berasal dari lingkungan yang baik, merupakan faktor kedua. Mereka akan menjadi sangat bersaing, sebagai faktor ketiga, untuk kemudian memiliki motivasi tinggi.

Upaya atlit, sikap sangat bersaing dan motivasi tinggi merupakan bagian dari mengarahkan diri sendiri. Sedangkan lingkungan yang baik, juga memiliki peran Pelatih yang harus menyediakan prasarana dan sarana latihan, program latihan yang sesuai dan jadwal latihan yang tepat.

Lingkungan Panjat Tebing
Hiroshi Yasui menjelaskan peran lingkungan dalam pembentukan tim nasional panjat tebing Jepang. Ia bercerita tentang Akiyo Noguchi sambil menunjukan gambar bangunan satu lantai dengan tembok batako terbuka dikelilingi tanaman liar, bukan taman. Jauh dari rumah kayu Jepang yang indah dan teduh.

Yasui san menjelaskan itu bangunan ayah Akiyo Noguchi yang peternak. Kenji Noguchi membangun boulder tunnel di kandang kosong untuk digunakan oleh Akiyo dan pemanjat Jepang.

Sains masuk ke sport climbing Jepang dari pusat pelatihan rumahan ini. Tahunnya 2015, cirinya masih upaya pribadi siapa yang mau dan bisa berlatih ke rumah orangtua Akiyo Noguchi. Dananya dari kantong sendiri.

Sudah sejak tahun 2000, bahkan dari awal kompetisi panjat tebing dekade 80an, pemanjat Jepang berpartisipasi dan berprestasi. Angkatan pertama ialah Yuji Hirayama, tinggal di Eropa untuk bisa ikut seri kompetisi panjat tebing yang didominasi.

Sebelum 2015 climbing competition merupakan olahraga minor, dana mandiri, amatir, dan dikerjakan masing-masing pribadi.

Setelah 2015 keluar keputusan untuk kompetisi panjat masuk Olimpiade Tokyo 2020, sport climbing menjadi olahraga popular, didanai pemerintah, menjadi upaya bersama berupa tim nasional, dan profesional. Ini karena dampak masuknya sport climbing ke Olimpiade berakibat olahraga ini makin dikenal. Pendanaan pemerintah melalui NOC Jepang, dan masuknya sponsor korporasi. Mendapatkan jejaring dengan badan olahraga lain. Bertambah sarana olahraga yang meningkatkan semangat bersaing para atlit.

Juga ada pengaruh terhadap lingkungan internal panjat tebing. Badan resmi cabang olahraga mengalami perubahan, dari JMA (Japan Mountaineering Association) menjadi JMSCA (Japan Mountaineering Sport Climbing Association). Pelatih dibutuhkan secara tetap. Semakin meningkat dukungan finansial pada atlit dan bertambahnya kesempatan untuk berlatih.

Hal utama dalam lingkungan panjat tebing yang disampaikan Hiroshi Yasui adalah kualifikasi atlit. Jepang memiliki 47 perfecture atau setara provinsi. Jadi ada 47 tim panjat tebing yang bertanding di Japan Cup. Hasil lomba tahunan ini menjadi materi bagi pembentukan tim nasional Jepang.

Yasui san menjelaskan tim nasional ini berubah tiap tahun, sekitar 30% berganti. Biasa terjadi adalah kembalinya atlit dari beberapa tahun sebelumnya. Menurutnya sekitar 60% atlit bertahan di tim nasional. Itu sebabnya banyak nama-nama atlit Jepang yang dikenal dunia, selain peraih medali Olimpiade, juga ada Futaba Ito.

Nama-nama yang kerap berulang di podium IFSC World Cup. Bahkan untuk musim kompetisi 2025, Jepang menempatkan Mao Nakamura peringkat 3 untuk boulder putri dan peringkat 5 Melody Sekikawa serta 6 nama lama, Miho Nonaka, yang berhasil berada di atas Janjan Garnbret di peringkat 7.

Untuk boulder putra Sorato Anraku di peringkat pertama, dan peringkat empat sampai enam semua atlit Jepang, Sohta Amagasa, Tomoa Narasaki dan adiknya Meichi Narasaki.

Pada lead putri peringkat tertinggi diraih atlit putri Jepang pada 12 oleh Mei Kotake, diikuti Natsuki Tani pada peringkat 14. Masih ada 7 nama lagi diantaranya Ai Mori pada peringkat 35. Untuk putra Jepang menempatkan Satone Yoshida peringkat 1 dan Sorato Anraku peringkat 4. (*).

Foto || Triyanto Budi Santosa
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.