5. Ini Alasan Relawan Memilih Lokasi Posko Kemanusiaan

Wartapalaindonesia.com, EDUKASI – Artikel ini merupakan isi bab pertama dari buku “Cara Menjadi Relawan Garis Depan di Lokasi Gempa”. Bab pertama berjudul Gempa & Relawan. Berisi 6 artikel (nomor 1 hingga 6).

Buku ini ditulis oleh Ahyar Stone. (Pemimpin Redaksi Wartapala. Anggota Dewan Pengarah SARMMI). Terbit pertama Januari 2024. Penerbit Jasmine Solo, Jawa Tengah. Buku ini diterbitkan atas kerja sama Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Wartapala, SARMMI. Selamat membaca. (Redaksi).

a. Pengertian Posko
Dalam Peraturan kepala BNPB Nomor 03. Tahun 20116. Tentang Sistem Komando Penanganan Darurat Bencana, dijelaskan : Pos Komando Penanganan Darurat Bencana yang selanjutnya disingkat Posko PDB adalah institusi yang berfungsi sebagai pusat komando operasi penanganan darurat bencana yang merupakan posko utama di dalam Sistem Komando Penanganan Darurat Bencana, untuk mengoordinasikan, mengendalikan, memantau dan mengevaluasi pelaksanaan penanganan darurat bencana.

Di bawah Posko PDB kemudian secara berjenjang ada Pos Lapangan PDB, Pos Pendukung PDB, Pos Pendamping PDB.

Pos Lapangan Penanganan Darurat Bencana yang selanjutnya disebut Pos Lapangan PDB adalah institusi yang berfungsi secara langsung sebagai pelaksana operasi penanganan darurat bencana baik di lokasi bencana, sekitar lokasi bencana maupun lokasi pengungsian.

Pos Pendukung Penanganan Darurat Bencana yang selanjutnya disebut Pos Pendukung PDB adalah institusi yang berfungsi membantu kelancaran akses masuk, keluar, dan mobilisasi/distribusi bantuan penanganan darurat bencana dari luar wilayah terdampak.

Pos Pendamping Penanganan Darurat Bencana adalah institusi yang berperan mengoordinasikan mobilisasi bantuan penanganan darurat bencana meliputi pos pendamping nasional penanganan darurat bencana, pos pendamping penanganan darurat bencana provinsi dan pos pendamping penanganan darurat bencana wilayah.

Dari peraturan di atas terlihat bahwa, Posko atau Pos Komando di kejadian bencana hanya ada satu. Kendati peraturannya demikian, tetapi realita di lapangan menunjukan masih banyak relawan yang menyebut pos mereka sebagai posko. Misalnya posko kemanusiaan, posko peduli, posko bantuan bencana dan sebagainya.

Hal itu terjadi lantaran istilah posko sudah terlanjur populer baik di kalangan relawan maupun di masyarakat luas. Umpamanya istilah posko diganti menjadi pos peduli atau pos pelayanan, tetapi pada tataran lisan, mereka tetap menyebutnya posko.

Dalam buku ini, istilah yang dipakai adalah posko — tepatnya posko kemanusiaan. Istilah ini tetap dipakai, semata-mata bertujuan agar materi di buku ini lebih mudah dipahami.

b. Keberadaan Posko Relawan
Tatkala terjadi gempa di sebuah kabupaten, dapat dipastikan di kabupaten bersangkutan banyak berdiri posko kemanusiaan. Sebagian besar posko kemanusiaan didirikan relawan dari berbagai daerah yang datang ke sana. Hanya sebagian kecil yang didirikan warga setempat.

Mayoritas posko relawan berada di pinggir jalan raya yang mudah dilihat. Atau di kawasan lain yang gampang dijangkau dan memiliki berbagai fasilitas. Masih jarang relawan mendirikan posko kemanusiaan di lokasi gempa terpencil atau terisolir yang minim fasilitas dan banyak kekurangan.

4. Persamaan dan Perbedaan Tim SAR dengan Relawan

c. Memilih Lokasi Posko Kemanusiaan Tidak Sembarangan
Setiap tim relawan punya alasan sendiri memilih lokasi tertentu untuk mendirikan posko kemanusiaan. Alasan ini berkaitan dengan bentuk aktivitas kemanusiaan mereka selama di lokasi gempa.

Ada tim relawan yang mendirikan posko kemanusiaan di halaman kantor pemerintah daerah. Pertimbangan mereka berlokasi di sana agar gampang berkordinasi dengan pemerintah setempat, serta supaya mudah bekerja sama dengan tim relawan lain yang berposko di sana.

Ada juga tim relawan yang yang mendirikan posko kemanusiaan di lapangan atau alun-alun kabupaten. Mereka berada di sana karena mendampingi korban gempa yang ditampung di camp pengungsian yang didirikan badan atau pemerintah setempat.

Banyak pula pula tim relawan yang yang mendirikan posko kemanusiaan di pinggir jalan utama. Mereka butuh lokasi posko kemanusiaan yang mudah dijangkau, karena fokus mereka misalnya memberikan pelayanan kesehatan gratis bagi siapa saja yang butuh bantuan medis. Atau karena fokus mereka setiap hari menyalurkan bantuan ke desa yang berbeda. Mereka butuh akses yang lancar ke segala arah.

Umumnya tim relawan di atas hanya fokus pada beberapa program kemanusiaan. Malah ada yang fokus pada satu atau dua program saja. Misalnya hanya menyalurkan bantuan pangan. Menyelenggarakan psikososial. Menyediakan sanitasi darurat. Memberikan bantuan medis. Cuma memberikan bantuan transportasi kepada tim lain yang perlu kendaraan untuk mengangkut bantuan.

Hanya ada beberapa tim relawan yang menjalankan banyak program kemanusiaan. Mereka mampu melakukan karena didukung oleh berbagai sumber daya yang kuat.

Di luar itu — karena belum paham banyak tentang kerelawanan — ada pula tim relawan yang mendirikan posko kemanusiaan di tempat aman yang jauh dari lokasi korban gempa. Dalam pemahaman mereka, aktivitas kerelawanan cukup mendirikan posko kemanusiaan di sembarang tempat. Lalu mendistribusikan bantuan pangan ke korban gempa yang ditemui.

Pemahaman mereka tak perlu disalahkan. Mereka belum mengerti jika aktivitas kerelawanan di lokasi gempa ada bermacam-macam. Mendistribusikan bantuan pangan hanya salah satunya. Bukan satu-satunya.

Mereka mungkin belum tahu pula jika memilih lokasi untuk mendirikan posko kemanusiaan, perlu pertimbangan. Tidak bisa sembarang tempat. (as).

Foto || SARMMI
Editor || Nindya Seva Kusmaningsih, WI 160009

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.