Oleh : Fadlik Al Iman
Stacia, Ketua Bidang Operasi SARMMI
Wartapalaindonesia.com, FEATURE – Nurdin Lassy namanya. Perawakannya sedang, murah senyum, pandai melucu, dan meski usianya sudah kepala 6 tetapi ia masih cekatan dan belum berkaca mata minus tebal.
Teman-teman seusianya memanggilnya Lay. Kami generasi di bawahnya, memanggilnya om Lay. Di Foto di atas om Lay memakai seragam orange dan celana lapangan merah hitam.
Om Lay berdarah Ambon. Tetapi ia lahir di Jakarta 24 April 1963, tepatnya di Bilangan Kuningan. Jadi beliau tergolong, “Anak Jaksel”, sekaligus saksi hidup penggusuran pemukiman karena perkembangan Jakarta. Rumah orang tua om Lay bahkan 3 kali digusur.
Lulus dari SMP di Matraman, om Lay melanjutkan sekolah di MAN 5 Muhammadiyah, Tebet Timur. Lalu kuliah di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) yang waktu itu masih berlokasi di daerah Limau, Jakarta Selatan
“Tamat MAN saya nggak langsung kuliah, saya pulang dulu ke kampung orang tua di Ambon. Itu tahun 1984-1986. Kemudian saya balik ke Jakarta. Tahun 1987 saya masuk UMJ” kata om Lay.
Kepada saya, om Lay pernah bercerita tentang kuliahnya. Ketika itu ia diajak saudaranya yang sudah duluan kuliah di Fisip UMJ. Di kampus ini om Lay memilih Fakultas Hukum.
Kala itu kondisi kampus UMJ tak mentereng seperti sekarang, jalanannya masih becek penuh dengan tanah belok atau lengket. Meski begitu, kampus UMJ masih benar-benar hijau, ada kebun, hutan jati, dan banyak pohon besar di beberapa sisi.
“Mahasiswa UMJ era sekarang, pasti nggak membayangkan kalau kondisi kampusnya dulu seperti itu,” kata om Lay.
Kuliah di Fakultas Hukum ternyata tak sekedar membuat om Lay paham seluk beluk hukum, tapi di sinilah minatnya pada kegiatan alam bebas mulai tumbuh dan langsung subur. Om Lay kemudian masuk ke unit kegiatan pecinta alam di Fakultas Hukum.
Tetapi ia tidak lama aktif di pecinta alam fakultasnya, karena pecinta alam tingkat fakultas di UMJ, kala itu dibekukan, lalu dilebur ke dalam satu wadah pecinta alam tingkat universitas yang bernama Stacia. Nama ini diambil dari bahasa Jerman kuno yang artinya “Kebangkitan”. Jadi, boleh dikata om Lay termasuk barisan generasi perdana Stacia.
Meski Stacia saat itu belum memiliki banyak peralatan kegiatan alam bebas, tetapi situasi itu tak menyurutkan semangat om Lay (dan generasinya) aktif menyelenggarakan kegiatan di dalam kampus maupun ke daerah-daerah yang jauh dari ibukota.
Ke Gunung Leuser
Mulanya om Lay tertarik pada dunia panjat. Ia mulai rajin melatih dirinya menjadi atet panjang dinding. Tahun1988, ia menjadi panitia di Kejuaraan Panjat Dinding yang diselenggarakan di Taman Mini Indonesia Indah.
Seolah tak puas “menari” di dinding panjat (wall climbing), tahun 1989 om Lay mengikuti ekspedisi panjat tebing alam (rock climbing) di Tebing Lawe Banjarnegara, Jawa Tengah. Dari sini aktivitasnya di dunia panjat dinding dan tebing alam nyaris tak pernah libur.
Anak pecinta alam memang cenderung mencari tantangan baru untuk dihadapi. Demikian halnya dengan om Lay. Tahun 1995, ia bersama rekan-rekannya di Stacia menyelenggarakan Ekspedisi Penyusuran Pantai Ujung Kulon Banten.
Meski rajin kelayapan di alam bebas, tetapi tiap Stacia punya kegiatan di kampus, om Lay rajin datang untuk membantu. Tahun 1997, ia menjadi panitia saat Sacia menggelar Kejuaraan Nasional Panjat Dinding di kampus UMJ Cirendeu, Tangerang Selatan.
Dua tahun kemudian — tahun 1999 — om Lay bersama anggota Mapala Stacia membuat ekspedisi ke Gunung Leuser (3.466 mdpl) di Aceh. Ini salah satu gunung terjauh dan tersulit di Indonesia.
Tim ekspedisi Stacia anggotanya 7 orang, yaitu om Ley, Azis, Widi, Arif, Ucok, Sulis dan saya sendiri. Iya, saya ikut ekspedisi ini. Tetapi ada beberapa hal yang saya kurang ingat tentang ekspedisi ini. Namun om Lay masih hapal tiap detilnya.
Ekspedisi Gunung Leuser kenang om Lay, selain berisi pendakian juga mengidentifikasi tanaman dengan membuat herbarium, dan melakukan pengamatan burung.
“Karena banyak aktivitasnya, makanya kami bertahan selama 14 hari di Leuser. Banyak kisah kami selama di sana. Ekspedisi ini memang tak terlupakan,” kata om Lay.
Ikut Mendirikan SARMMI
Pulang dari Gunung Leuser om Lay mulai aktif di kegiatan kemanusiaan. Ia kerap terlibat menangani bencana banjir di Jabodetabek. Tahun 2004-2005, om Lay menjadi relawan bencana tsunami Aceh. Berikutnya ikut aksi pencarian korban di Gunung Slamet Jawa Tengah, dan di gunung-gunung lain di Pulau Jawa.
Penghujung tahun 2015 di kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta, beberapa anggota Mapala di Perguruan Tinggi Muhammadiyah, mendeklarasikan berdirinya SARMMI (SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia). SARMMI didirikan berdasarkan rekomendasi Jambore Mapala Perguruan Tinggi Muhammadiyah se-Indonesia yang diselenggarakan di Malang.
SARMMI adalah lembaga kemanusiaan tingkat nasional yang anggotanya adalah Mapala Muhammadiyah se-Indoenesia di bawah naungan Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian & Pengembangan (Diktilitbang) Pengurus Pusat Muhammadiyah.
Sejak awal SARMMI berdiri, om Lay sudah terlibat. Kemudian menjadi salah seorang pengurus di kepengurusan SARMMI periode pertama.
Di SARMMI aktivitas om Lay di kegiatan kemanusiaan kian luas. Ia bersama tim SARMMI terjun di bencana banjir dan longsor di Jabodetabek, Garut, dan di beberapa daerah di Jawa Tengah. Om Lay juga terjun di operasi pencarian warga negara Rusia yanhg hilang di Gunung Semeru. Kemudian operasi SAR bencana erupsi Gunung Semeru, pencarian korban gempa di Cianjur Jawa Barat dan sebagainya.
Menariknya, kepedulian om Lay pada kemanusiaan tak hanya ia tunjukkan di medan bencana alam atau di musibah kegiatan alam bebas, tetapi di kehidupan sehari-harinya.
“Om Lay itu orangnya tanpa pamrih. Selalu siap sedia membantu rekan-rekan yang membutuhkannya,” ungkap yuniornya di Stacia Agus Supadmo.
“Lay itu orang yang memikirkan orang lain, tetapi nggak pernah menceritakan masalah pribadinya ke orang lain,” kata salah seorang perintis Mapala Stacia Al Fatih.
Sementara mantan Ketua Umum Malimpa Universitas Muhammadiyah Surakarta Rinanto kepada saya juga menceritakan kedekatannya dengan om Lay. Rinanto bercerita dengan penuh emosional, menggambarkan kedekatannya pada om Lay.
Kini om Lay pulang ke kampung halaman orang tuanya di Ambon. “Saya akan menetap di Ambon, tak akan balik ke Jakarta,” kata om Lay saat pamitan kepada saya dan teman-teman om Lay yang lain.
Tentu saja kami merasa sangat kehilangan, dan akan selalu merindukannya. Om Lay memang sosok search yang melakukan pencarian, tetapi selalu dicari orang karena berjiwa penolong dan jarang menolak ajakan orang yang mengajaknya bersama-sama melakukan kebaikan pada sesama. (FAI).
Foto || SARMMI
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)