Soe Hoe Gie, Mapala dan Pengabdian Masyarakat

Oleh : Mohammad Alfatih
Stacia Universitas Muhammadiyah Jakarta

Wartapalaindonesia.com, PERSPEKTIF – Pecinta alam adalah nama dengan kata yang mencerminkan seorang/kelompok yang mendedikasikan dirinya sebagai yang menyayangi, mengasihi dan memberikan perhatian terhadap alam semesta beserta isinya sebagai tempat dia hidup. 

Untuk menjadi pecinta alam tentu dibutuhkan kemampuan dan kapasitas lebih agar dapat mengimplementasikan fungsinya tersebut dengan melakukan pendidikan dan pelatihan dengan penebalan doktrin-doktrin pecinta alam agar dapat melakukan kegiatan-kegiatannya secara simultan, konsisten dan berkelanjutan . 

Baden Powell (Bapak pandu dunia/Scout) dalam narasinya, ada beberapa yang perlu digarisbawahi untuk menginspirasi pecinta alam: 

  • Be prepared
    Jadilah siap. Selalu siaga untuk beraksi, karena banyak peristiwa yang membutuhkan reaksi  tertentu dengan cepat dan tepat.
  • Leave this world a little better than you found it
    Tinggalkan tempat menjadi lebih baik dari ketika kamu datang. Artinya jadilah “agen perubahan” untuk menjadi lebih baik.
  • Courage is not the absence of fear, but the willingness to act in the face of it.
    Keberanian bukanlah tidak takut, akan tetapi melakukan apa yang harus dilakukan meskipun takut.

Jadi pecinta alam sudah seyogyanya menjadi agen perubahan yang berwawasan ke depan (visioner) dengan basis multidisiplin keilmuan dan ketrampilan. 

Soe Hok Gie sebagai tokoh dan inspirator pecinta alam banyak menuangkan falsafah-falsafah kepecintaalaman di antaranya adalah, “Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita mengerti tanpa kita bisa menawar. Terimalah dan hadapilah”.

Itu adalah cermin sikap pecinta alam yang siap di segala peristiwa yang terjadi dan permasalahan yang menyertainya.

Cara menghadapinya tentulah dengan penuh mengandalkan nurani. Seperti dalam narasi lainnya dari Soe Hok Gie, “Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai”.

Narasi itu menempatkan pecinta alam sebagai bagian yang sangat dibutuhkan dalam tatanan kehidupan masyarakat. 

Mahasiswa pecinta alam (Mapala) adalah sosok yang akan diperlukan dalam tatanan masyarakat bila memiliki hal-hal tersebut di atas. Maka sudah selayaknya dalam membangun sebuah pecinta alam patut menumbuhkan, melatih dan mengabdikan dirinya dalam masyarakat.

Mapala sebagaimana predikatnya adalah student elite sebagai fase tertinggi dalam pendidikan menjelang masuk dalam kehidupan sosial masyarakat dan merupakan agen perubahan dalam memperbaiki tatanan kehidupan  sosial. Sebagai akademisi diperlukan untuk mempelajari,menganalisa, memperbaiki dan menjalankan tatanan tersebut . 

Ada kritik Soe Hok Gie pada para mahasiswa di eranya, bahkan masih terjadi pada masa kini, yaitu “Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi”.

Ini merupakan kritik terhadap godaan-godaan yang menjerumuskan mahasiswa menjadi “perusak” yang secara perlahan terbentuk tanpa sadar karena perubahan status pendidikan tadi.

Untuk itu, selayaknya para aktivis agar selalu mewaspadai akan berkembangnya sifat-sifat ini dalam berkegiatan di kelembagaan mahasiswa, khususnya kalangan Mapala, karena akan menjauhkan dari sifat sifat dasar pecinta alam sesungguhnya. 

Umumnya sifat-sifat buruk tadi muncul karena didorong oleh ambisi-ambisi menjadi super hero/orang hebat. Padahal cukup hanya untuk menjadi “manusia biasa” yang normal saja. Sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya, sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia. Ambisi menjadi orang hebat ini umumnya didasari naluri untuk “menguasai” dan cenderung mengabaikan nurani. 

Mapala adalah akademisi yang kesehariannya adalah belajar dan berlatih untuk bersiap siaga mengabdi pada peristiwa-peristiwa yang terjadi pada alam dan masyarakat sebagai agen perubahan. Sebagai penegak pilar pilar Perguruan tinggi (Tri Dharma) yang pada Perguruan Tinggi Muhammadiyah adalah Catur Dharma Perguruan Tinggi (Pendidikan dan pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat). 

Dengan kegiatan berbasis Catur Dharma Perguruan Tinggi melakukan langkah-langkah dengan program:

  • Pendidikan dasar: Yaitu penanaman dasar dasar ke pecinta alaman dengan visi sebagai agen perubahan yang berwawasan luas melalui pelatihan pelatihan ketrampilan dengan penanaman prinsip prinsip dasar serta standar prosedur operasi.
  • Pelatihan keorganisasian melalui pelaksanaan kegiatan dalam bentuk kepanitiaan atau kegiatan administratif organisasi lainnya
  • Pelatihan keterampilan dasar klasik, survival dan implementasi dalam alam bebas, tehnik pertolongan serta dasar-dasar medis
  • Pelatihan keterampilan dengan mengikuti perkembangan teknologi menggunakan sistem dan perlengkapan modern
  • Mempelajari metode metode pengamatan, analisis, perumusan masalah dan teknik pengambilan keputusan untuk eksekusi.
  • Melakukan kegiatan-kegiatan dalam rangka pengabdian masyarakat mencakup membangun infrastruktur, pendampingan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan pertolongan bila terjadi musibah.

Kegiatan kegiatan Mapala yang bersentuhan langsung dengan masyarakat akan membangun profil sebagai bagian dari masyarakat yang dibutuhkan. Pemenuhan kebutuhan dengan keberadaan Mapala ini akan menumbuhkan rasa memiliki masyarakat pada Mapala. 

Pengabdian Masyarakat Mapala
Pengabdian masyarakat mapala ada banyak, sebagai contoh:

  • Bidang hukum dapat melakukan pendampingan masyarakat pada kasus kasus hukum yang menyangkut pelanggaran-pelanggaran bidang lingkungan (penyerobotan lahan, deforrestasi, penambangan, pencemaran limbah dan lainnya).
  • Mitigasi dengan penanaman, perapihan jalur air, pencegahan kebakaran hutan dan lain-lain.
  • Kesehatan dengan pelatihan pengolahan limbah rumah tangga, pemeriksaan dan pengobatan gratis dan sebagainya.
  • Pembinaan organisasi-organisasi kepemudaan.
  • Pertolongan terhadap dampak bencana ekologis.
  • Dan lain sebagainya.

Pengabdian masyarakat ini akan berdampak positif yang cukup signifikan bila dilakukan oleh kelompok-kelompok pecinta alam dengan berkolaborasi secara bersama-sama dan serentak. Ini adalah kultur dasar negeri kita yaitu “gotong royong” seperti pepatah tua, “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. (MA).

Foto || SARMMI
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 A

 

 

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.