Ekspedisi Koboy: Laut Banda Memang Bengis, Tapi Tanah Papua Sangat Romantis

Oleh : Wandi Wahyudi
Anggota Mata Alam Unfari Bandung
Editor Wartapala Indonesia

Wartapalaindonesia.com, FEATURE — Ekspedisi Koboy berlanjut ke Papua. Dari Surabaya saya bertolak ke Sorong dengan waktu tempuh perjalanan selama 5 hari. Untuk pengelaman pertama naik kapal, lima hari di laut itu ternyata bukan main lamanya. Apalagi saat melintasi lautan Banda, kapal ini seperti tidak punya niat segera tiba. Geladak bergoyang, wastafel toilet penuh muntahan, penumpang mabuk laut bergantian, anak-anak kecil ribut lari-larian di lorong.

Saya sendiri duduk diam, memeluk keril, dan sesekali ke dek 4 untuk ngopi, atau ke dek luar untuk menatap laut Banda yang tak habis-habis itu. Laut terdalam di Indonesia ini seolah menunjukkan kegagahan sekaligus kebengisannya. Sepanjang tahun 2019-2025, setidaknya terdapat 6 peristiwa kapal tenggelam di perairan Banda. 

Awalnya saya kira perjalanan laut itu bakal romantis, penuh renungan dan angin asin yang puitis. Nyatanya, yang paling sering terasa justru mual dan bosan. Tapi ya begitulah. Kadang perjalanan jauh itu bukan cuma soal jarak, tapi soal kesabaran dan seberapa kuat kita menahan keinginan untuk sampai, atau bahkan pulang.

Semakin jauh perjalanan, masakan Ibu di rumah semakin menyeruak, memaksa pandangan agar membidik kembali arah pulang. Tapi sayang, memang demikian hukum hidup laki-laki.

Sekitar pukul setengah satu dini hari, kapal akhirnya bersandar di Pelabuhan Sorong. Saya turun dengan wajah lelah tapi lega, setidaknya daratan sudah di depan mata. Tapi lega itu tidak bertahan lama. Kota ini asing sekali. Saya tidak kenal siapa pun, dan pesan WhatsApp ke Kak Noven, anggota Mapala Gempa Unimuda yang saya harap bisa menjemput, tapi sayang cuma centang satu. Tengah malam pula. Mau ke mana juga bingung.

Akhirnya saya jalan keluar pelabuhan dan duduk di depan Alfamart yang sudah tutup. Masih ada beberapa orang yang menunggu jemputan, tapi pelan-pelan semua pergi. Yang tersisa cuma saya, dua pace di kiri, dan sekelompok pemuda yang kelihatan lagi pesta miras. Baterai HP tinggal 8 persen, mata berat, perut ingin ke toilet, situasinya sangat complicated

Saya balik lagi ke area pelabuhan karena merasa risau setelah ramai berubah sepi. Saya duduk di dekat loket tiket sambil nge-charger hp, dan berharap waktu cepat bergulir melipat malam yang mencekam ini.

Sekitar pukul setengah empat dini hari, seseorang menghampiri saya. Saya lupa namanya, tapi saya ingat dia orang ambon. Kami bercakap-cakap sambil menunggu waktu kapal yang akan membawanya ke fakfak bersandar di pelabuhan Sorong. Ada satu pesan yang masih saya ingat dari abang itu, “Adik, jang tidur sampai matahari naik, ya, bahaya! Terjaga saja, baru lanjut jalan.” Katanya. 

Pesan itu semakin menambah rasa cemas dan takut. “Sebengis” apa sebenarnya di pelabuhan ini. Kendati demikian, saya menurut saja. Saya benar-benar merasa sendiri setelah abang ambon itu pergi. Duduk merunduk, menahan rasa kantuk sambil memeluk keril. Sedangkan di waktu yang sama orang-orang masih ramai dan riuh di depan gedung pelabuhan. 

Hampir sempurna pagi melipat gulita, matahari mulai naik, dan karena sorotnya tepat menampar muka, saya memilih untuk pindah ke tempat yang lebih teduh di dekat pagar bagian depan pelabuhan—di samping sebuah pos. Baru setetes kelegaan dirasa, tiba-tiba datang sekelompok remaja menghampiri saya—beberapa diantara mereka menenteng botol air mineral polosan yang saya yakin isinya pasti Moke, salah satu jenis minuman keras lokal kha Indonesia Timur. Salah satu dari gerombolan itu duduk di sebelah saya dan bilang,

“Kakak, permisi sa ikut duduk di sini e.”

Saya jawab, “Iya, silakan.”

Beberapa detik kemudian dia lanjut,

“Kakak, duduk di sini bayar e!”

Saya kira dia bercanda. Ternyata serius. Saya menolak, tapi baju saya malah ditarik-tarik. Beberapa temannya mulai berdiri, dan jujur saja, saya langsung merasa tidak nyaman. Naluri bilang: segera pergi sebelum hal aneh terjadi ! Akhirnya saya pergi ke depan gedung pelabuhan meskipun kawanan remaja itu sempat menghadang.

Area depan gedun pelabuhan ternyata sama mencekamnya. Sekelompok pemuda sedang khidmat menikmati Moke. Beberapa diantara mereka berambut gimbal. Meskipun gimbal tak selalu kriminal, tapi tetap saja saya risau. 

Pas lagi panik, ada suara dari samping saya, agak parau tapi ramah, “Hey, adik. Sini. Tak usah takut e. Sa cuma mau tawarkan ojek, toh.”

Namanya Pak Amin. Orang Ambon, pernah tinggal di Yogyakarta sembilan tahun. Wajahnya tenang, soft spoken, seperti orang yang sudah kenyang pengalaman hidup. Kami ngobrol sebentar—tentang kuliah yang tak selesai, tentang politik, dan sedikit tentang asam garam pelabuhan Sorong. Entah kenapa, suasananya langsung bikin tenang.

Pak Amin lalu mengajak saya ke rumahnya. Saya sempat ragu, tapi akhirnya ikut. Rumahnya sederhana, ada tanaman pisang di depan dan beberapa kucing yang berkeliaran di dalam. Ia menyuguhi pisang hasil panen sendiri, lalu kami kembali saling bertukar cerita.

Menurut saya Pak Amin itu idealis, punya keberpihakan yang jelas, cerdas dan luas pula wawasannya. Meskipun kuliahnya tidak selesai, tapi aktifitas intelektualnya cukup produktif. Dan yang paling penting, saya mendapat informasi sepaket dengan wawasan lokal tentang masyarakat Papua. Itu sangat berharga untuk saya. 

Hanya sekitar 2 jam di rumah Pak Amin, Sekitar pukul sepuluh, Pak Amin mengantar saya ke kampus Unimuda di Aimas, Kab. Sorong, tempat sekretariat Mapala GEMPA. Ia cuma minta uang bensin, lalu saya beri Rp50.000. Sebelum berpisah, kami beli es campur. Cuaca panas sekali, jadi es campur terasa seperti hadiah.

Tak jauh dari situ, saya beli batagor dari pedagang asal Bandung. Begitu dengar logatnya, saya langsung tahu. Rasanya seperti ketemu kampung sendiri di ujung timur Indonesia.

Di kampus, saya disambut Mas Rolan, Beo (ketua umum Mapala Gempa) dan kawan-kawan-kawan lainnya. Kami langsung akrab, seperti sudah lama kenal. Atau mungkin benar—laki-laki memang mudah dapat kawan baru karena mudah akrab.

Setelah malam yang penuh ketegangan, akhirnya saya bisa benar-benar beristirahat. Perjalanan ke Sorong ini benar-benar sangat menguras emosi, tapi di samping itu ada hal lain yang akhirnya menjadi pelipur, dan pelipur itu adalah orang-orang baik. 

Memang nyata dalam dunia petualangan, kebaikan sering datang dari orang yang sama sekali tidak kita kenal. Kadang muncul begitu saja, di saat kita merasa sangat tidak berdaya dan membutuhkan pertolongan, orang-orang baik itu datang dan membantu tanpa banyak alasan.

Semua rasa takut dan cemas itu ternyata sudah jauh tenggelam ke dasar laut, karena setelah kaki mulai menapaki tanah Papua, mata baku pandang manis, mulut baku sahut dengan orang-orangnya, Papua ternyata sangat romantis. Satu kalimat magis yang saya tancap manis-manis ke jantung hati, Kitorang Sodara. Biar suku mu apa, darah kitong sama merah.

Sepotong kisah perjalanan ini akan senantiasa menjadi pengingat sederhana bahwa di perjalanan panjang, yang paling penting bukan tujuan, bukan pula sekadar soal tempat, tapi soal bagaimana kita bertahan dan disambut.

Foto || Wandi Wahyudi, WI 200223
Editor || Ahyar Stone, WI 21201 AB

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.