Oleh: Ricky Gunawan
Anggota organisasi pencinta alam
“Dunia pecinta alam seharusnya melahirkan jiwa tangguh yang menghargai kehidupan, bukan menyisakan duka dan kehilangan.”
Wartapalaindonesia.com, PERSPEKTIF — Setiap kali kabar duka tentang meninggalnya peserta pendidikan dasar (diksar) pencinta alam muncul, luka lama bangsa ini kembali terbuka.
Kegiatan yang sejatinya dirancang untuk menanamkan cinta dan hormat pada kehidupan justru kerap meninggalkan kehilangan.
Tragedi seperti itu bukan semata kesalahan teknis, melainkan cermin dari kegagalan memahami makna sejati pendidikan dalam dunia pecinta alam.
Pendidikan dasar pecinta alam pada hakikatnya adalah proses pembentukan karakter: mengajarkan tanggung jawab, solidaritas, serta kesadaran akan batas diri di tengah alam bebas. Namun, di banyak tempat, semangat itu tersesat.
Diksar berubah menjadi ajang pembuktian fisik, bahkan perpeloncoan yang mengabaikan nilai kemanusiaan. Ketangguhan sejati tidak tumbuh dari rasa sakit, melainkan dari empati dan kesadaran.
Menjadi pencinta alam bukan berarti harus keras, melainkan berani menjaga sesama dan berjiwa lembut terhadap alam.
Alam bukan medan untuk menaklukkan manusia lain, tetapi ruang belajar tentang keseimbangan dan kasih sayang.
Instruktur memegang peran paling vital dalam menjaga keselamatan dan arah moral kegiatan diksar. Mereka bukan hanya senior, tetapi pendidik dan teladan.
Seorang instruktur sejati tidak diukur dari seberapa tegas ia memberi perintah, tetapi dari seberapa bijak ia memahami batas kemampuan peserta dan menuntun mereka dengan empati. Tanggung jawab moral itu tidak bisa ditawar.
Instruktur yang baik bukan yang ditakuti karena kerasnya, melainkan yang dihormati karena wibawa dan kebijaksanaannya. Setiap organisasi pecinta alam di Indonesia perlu melakukan introspeksi menyeluruh terhadap sistem pelatihannya.
Pola lama yang masih mengandung kekerasan, baik fisik maupun mental, harus segera ditinggalkan. Penerapan prosedur medis, ketersediaan perlengkapan standar, serta pendampingan psikologis yang memadai wajib menjadi bagian integral dalam setiap kegiatan pendidikan dasar.
Tragedi bukan bagian dari romantika pendakian atau kebanggaan organisasi. Kematian di medan latihan bukan ujian ketangguhan, melainkan kegagalan nilai kemanusiaan.
Generasi pecinta alam masa kini memikul tanggung jawab besar untuk memastikan sejarah kelam itu tidak terulang.
Sudah saatnya paradigma pendidikan dasar diubah: dari kekerasan menuju pembelajaran, dari tekanan menuju pendewasaan, dan dari kebanggaan semu menuju tanggung jawab sejati. Mencintai alam berarti juga mencintai kehidupan di dalamnya, termasuk kehidupan manusia.
Pendidikan pecinta alam semestinya menumbuhkan rasa hormat terhadap alam dan sesama, bukan meninggalkan duka di kaki gunung. Tragedi pecinta alam tidak boleh terjadi lagi di masa depan.
Editor || Wandi Wahyudi, WI 200223
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)