Pramuka SMPN 1 Cipanas Belajar Tentang Lingkungan dan Budaya di Sungai Cikundul, Realiasi Sekolah Sahabat Sampah

WartapalaIndonesia.com, CIPANAS – Semangat memperingati Hari Pramuka tidak hanya dilakukan melalui kegiatan seremonial. Komite Sub DAS Cikundul bersama Pemerintah Desa Sindanglaya, SMP Negeri 1 Cipanas, dan komunitas budaya menggelar kegiatan pendidikan lingkungan dan budaya bagi pelajar tingkat SMP pada Selasa 11 Agustus 2026.

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 07.30 hingga 12.45 WIB tersebut diikuti oleh 92 peserta.

Mengusung semangat Pelepah Kitri atau Pramuka Peduli Sampah di sekitar diri sendiri, kegiatan diarahkan untuk mengajak pelajar melihat persoalan lingkungan secara langsung sekaligus memahami hubungan antara lingkungan, budaya, dan kehidupan sehari-hari.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Pramuka yang diperingati pada 14 Agustus 2026.

Tidak hanya berdiskusi di dalam ruang kelas, para peserta diajak masuk ke lingkungan sungai dan kawasan hijau untuk melihat secara langsung kondisi ekosistem, vegetasi, aliran air, serta persoalan sampah.

Para pelajar juga mendapatkan ruang untuk berdiskusi mengenai persoalan lingkungan yang mereka hadapi saat ini dengan pendekatan yang sesuai dengan kehidupan generasi mereka.

Salah satu kegiatan nyata yang dilakukan adalah pembuatan 36 ecobrick. Ecobrick tersebut diproduksi oleh masing-masing kelas sebagai bagian dari proses pembelajaran pengelolaan sampah.

Bagi Komite Sub DAS Cikundul, kegiatan ini bukan sekadar menghasilkan ecobrick. Lebih jauh, ecobrick menjadi media untuk mengubah cara pandang pelajar bahwa sampah yang berada di sekitar mereka merupakan sesuatu yang harus dipikirkan sejak dari sumbernya.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari proses pengembangan SMP Negeri 1 Cipanas sebagai sekolah percontohan “Sekolah Sahabat Sampah”.

Program ini diarahkan agar sekolah tidak hanya berbicara tentang sampah, tetapi mulai membangun kebiasaan, sistem, dan budaya pengelolaan sampah dari lingkungan sekolah.

Kolaborasi antara desa, sekolah, komunitas lingkungan, dan komunitas budaya juga menjadi bagian penting dari kegiatan. Lingkungan tidak dipandang hanya sebagai persoalan teknis, tetapi juga sebagai ruang pendidikan, ruang kebudayaan, dan ruang untuk membangun kembali hubungan masyarakat dengan sungai. (*)

Kontributor || Fadlik Al Iman
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB

 

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.