Akar Bahar, Gelang Hits Petualang

Gelang akar bahar menjadi tren fashion aksesoris akhir tahun 2016 bagi Petualang. Gaya Hidup, Fashion. WARTAPALAINDONESIA/Bella Septa

Wartapalaindonesia.com, FASHION – Gelang akar bahar menjadi tren fashion aksesoris akhir tahun para Petualang. Selain keunikan bahan baku gelang akar bahar, nilai prestige dari si empunya pemakai gelang membuat gelang akar bahar menjadi aksesoris paling dicari di akhir tahun 2016.

Aceng salah satu penikmat aksesoris gelang akar bahar mengungkapkan, “gelang ini bukan hanya simbol identitas kami sebagai petualang, tapi juga menjadi simbol tingkat prestige pemakainya.”

Gelang yang dengan muda didapatkan di toko penjual aksesoris, dibanderol dengan harga atas mencapai Rp. 85.000 per buah. “Selain membantu kami para petualang untuk mendapat gelang dengan nilai prestige tinggi, gelang akar bahar ini juga menjadi sumber pendapatan sampingan bagi para nelayan,” lanjut Aceng.

Masih menurut Aceng, “gelang akar bahar bagi masyarakat kuno memiliki 3 fungsi, pertama sebagai simbol para jawara, kedua sebagai alat untuk peningkat kesehatan dan yang ketiga sebagai alat penambah wibawa bagi pemakainya.”

Akar bahar termasuk dalam keluarga anthozoa yaitu hewan yang tidak memiliki tulang belakang. Akar bahar memiliki nama latin Euplexaura sp dan termasuk dalam klasifikasi Octocorallia. Anthozoa adalah salah satu hewan laut yang berbentuk menyerupai tumbuhan dan hidup di dasar laut.

Ada dua klasifikasi dalam pembagian jenis Anthozoa yakni Hexacorallia yang memiliki sedikit tentakel dan memiliki enam sekat yang terdiri dari dua lembar dan Octocorallia yang memiliki delapan tentakel yang bercabang menyerupai bulu dan memiliki delapan sekat.

Anthozoa termasuk Akar bahar bisa dibilang memiliki keunikan tersendiri mulai dari sejarah hingga karakter daur hidupnya. Oleh karena, tidak terlalu mengherankan jika akar bahar hampir dikenali sebagai jenis tanaman laut oleh masyarakat awam. Memang secara ilmiah banyak sekali hewan laut yang memiliki karakteristik mirip dengan tumbuhan laut sehingga tidak mengherankan jika akar bahar sempat dilihat sebagai tanaman laut.

Asal kata akar bahar ini berasal dari Bahasa arab dan Bahasa melayu. Bahar dalam Bahasa arab berarti laut. Jadi akar bahar ini secara harafiah berarti akar laut. Di daerah Maluku khususnya ambon, kata-kata akar ini di ganti dengan “ ruhu “ atau dengan kata “ luhu “.

Akar bahar sendiri berwarna hitam dan mereka menyebutnya dengan “ruhu mete “ atupun “ruhu meteng”. Ada empat macam jenis akar bahar antara lain akar bahar kelabu, akar bahar hitam, akar bahar putih, dan yang terakhir adalah akar bahar merah.

Bagi Pencinta Alam, gelang akar bahar sudah dikenal sejak dulu, namun gelang ini mulai ditinggalkan demi pelestarian ekosistem laut. Akhir-akhir ini gelang akar bahar kembali marak setelah menurunnya demam tren batu akik di tanah air, lalu bagaimana para Pencinta Alam menyadarkan masyarakat agar tren demam akar bahar tidak merusak keseimbangan ekosistem?

Fariz salah satu anggota Pencinta Alam dari Mapalindup Universitas Riau mengatakan, “akar bahar jika diambil terus menerus, pasti akan mempengaruhi ekosistem laut, jadi kita harus bijak dalam memanfaatkan sumber laut, saran saya cari akar bahar yang sudah tidak produktif, yang masih produktif lebih baik dilestarikan.”

Setali tiga uang dengan Fariz, Daniel Febrian salah satu anggota Mapala Cipta Ceria Alam Universitas Pancasila Jakarta turut memberikan pandangannya, “hewan ini berkembang biak butuh waktu bertahun-tahun, juga merupakan salah satu biota laut yang dilindungi.”

Jika memang dilindungi, lalu mengapa masih banyak orang masih memakai gelang ini sebagai aksesoris, “sebab banyak orang jual,” jawab Daniel ringkas.

“Selain itu, pembeli juga harus memiliki pola pikir yang cerdas, jangan hanya karena mengikuti tren dan gengsi, kita merusak alam. Jika disuruh memilih, lebih baik biarlah yang di sana tetap lestari, gelang bukan hanya akar bahar,” tutup Daniel.

Pengasuh Kolom : Nasrun Adillah

Editor : Ragil Putri Irmalia

Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081553355330 (Telp/SMS/WA)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini:
Positive SSL